Ceramah Master Cheng Yen: Menorehkan Kebenaran dengan Pena dan Mewariskan Silsilah Dharma


“Kekuatan ikrar mematangkan jalinan jodoh ini. Bagi saya, jalinan jodoh ini sungguh tak terbayangkan. Master sering bercerita bahwa saat menyalin Sutra Makna Tanpa Batas dengan mengukir, tangannya terasa sangat sakit. Selama bertahun-tahun, kami terus memikirkan dan mencari alat untuk mempermudah penyalinan seperti itu, tetapi tidak pernah berhasil menemukannya,”
kata Zeng Ling-zhu, relawan Tzu Chi.

“Namun, secara tak terduga, di tahun ini, ketika kami hendak mementaskan bab Pembabaran Dharma, jalinan jodoh itu matang. Peralatan itu bukan berada di tempat lain, melainkan ada di Changhua. Oleh karena itu, saya pun pergi menemui pemilik toko yang merupakan seorang kolektor barang antik yang menyimpan peralatan percetakan ini,” lanjut Zeng Ling-zhu.

“Saya sungguh merasa bahwa semua ini terwujud oleh kekuatan ikrar. Selama bertahun-tahun, kami terus berpikir untuk mempersembahkan barang ini kepada Master,” pungkas Zeng Ling-zhu.

“Tahun ini, kami akhirnya mempersembahkan peralatan pementasan ini. Saya mengerjakannya dengan tangan sendiri. Selangkah demi selangkah, saya memahat papan yang digunakan untuk menahan pelat baja, lalu memakai pisau serbaguna untuk membuat dua buah pena teknis besar untuk menjalin jodoh dengan Master,” kata Zhong Shun-lai, relawan Tzu Chi.

“Saat mengukir pelat baja, kita tidak boleh terburu-buru. Kita harus sangat sabar. Saat mengukir, jika tenaga kita kurang, hasil cetakannya menjadi tidak jelas. Namun, jika terlalu kuat, kertas lilin akan robek. Terkadang, setelah mengukir begitu banyak hingga hampir selesai, justru robeknya di bagian akhir sehingga semua usaha sebelumnya menjadi sia-sia,” lanjut Zhong Shun-lai.

“Ketika mengukir dalam jumlah banyak, memegang pena teknis besar dalam waktu lama membuat tangan terasa sakit, bahkan bisa berubah bentuk. Kami sangat berterima kasih kepada Master yang telah menjadikan tulang sebagai pena, sumsum sebagai tinta, dan kulit sebagai kertas untuk mengukir inti sari Sutra Makna Tanpa Batas di atas pelat baja. Semua itu demi menjaga agar semangat Sutra Teratai senantiasa ada di dunia dan air Dharma dapat diwariskan dari generasi ke generasi,” pungkas Zhong Shun-lai.

“Buku ini kami beri judul ‘Enam Puluh Tahun Tzu Chi: Berjalan dengan Tekad dan Ikrar yang Sama’. Dalam proses pembuatannya, kami memilih jenis kertas khusus yang disebut kertas berserat dan meminta pihak percetakan untuk menambahkan kolom tanda tangan. Di bagian atas terdapat tulisan ‘Tzu Chi 60 tahun’ dan ‘Jejak Langkah 60 tahun’. Kami meminta satu per satu relawan untuk menandatanganinya secara langsung sebagai wujud tekad dan ikrar terhadap Master,” kata Lin Mei-xiang, relawan Tzu Chi.

“Kami sangat berterima kasih kepada Master yang telah membimbing kami berjalan di Jalan Bodhisatwa. Pada peringatan 60 tahun Tzu Chi, kami bersedia untuk terus mengikuti langkah Master, terus membangun tekad dan ikrar, serta terus menyebarkan Dharma dan membawa manfaat bagi semua makhluk,” pungkas Lin Mei-xiang.


Kalian sangat berbakti. Dalam perjalanan kali ini, selalu ada satu pikiran yang muncul dan pikiran itu terasa seperti satu-satunya hal yang ingin saya simpan selamanya, yaitu kehidupan saya sangatlah bernilai karena kalian semua sangat berbakti. Semuanya sangat berbakti dan menghormati saya.

Di usia saya yang sudah lanjut, bisa berjalan sejauh ini dalam hidup, yang meninggalkan kesan paling mendalam ialah rasa bakti kalian. Dari apa yang kalian lakukan, selalu terdengar kalimat, "Master berkata demikian, kami pun melakukannya. Kami melakukan ini demi Master." Semuanya memiliki niat yang sama, yaitu demi saya. Inilah yang disebut berbakti.

Kalian melakukan apa yang ingin saya lakukan dan mengatakan apa yang ingin saya sampaikan. Hendaknya kalian mewariskan ketulusan ini. Inilah permata paling membahagiakan yang saya peroleh selama hidup ini. Saya berharap ketulusan yang saya lihat ini dapat terus diwariskan.

Hal yang membuat saya lebih bahagia ialah beberapa hari di Changhua ini, saya dengar semuanya telah melakukan pewarisan dari generasi ke generasi. Inilah tanda bahwa Tzu Chi ada dan akan selalu ada di dunia. Inilah yang saya rasakan.

Seperti halnya lebih dari 2 ribu tahun yang lalu, ketika Buddha membabarkan Dharma, semua orang memohon agar Beliau selalu ada di dunia. Buddha berkata bahwa hanya Dharma yang bisa selalu ada di dunia. Tubuh Dharma akan selalu ada di dunia. Apa maksudnya? Dharma dalam bentuk teks.

Hanya teks yang dapat diwariskan hingga selamanya. Melalui teks, banyak orang yang akan terus terinspirasi. Dengan ketulusan, akan lahir pula berbagai karya. Jika hanya diucapkan, ucapan akan berlalu begitu saja. Kita mengandalkan semua orang untuk mewariskannya.

Setelah membangkitkan tekad dan ikrar, kita hendaknya mewujudkannya lewat tindakan. Tindakan bisa dilihat oleh mata. Oleh karena itu, saya berkata bahwa saya sangat suka datang ke Changhua karena bisa melihat pameran begitu banyak karya. Saya sangat berterima kasih.


“Untuk membuat Sutra Makna Tanpa Batas edisi sisik naga ini, tantangannya sangat besar. Sedikit saja meleset, kesalahannya akan sangat fatal. Jika ada kesalahan sekecil apa pun, bagian-bagian selanjutnya akan ikut kacau. Untuk menampilkannya dengan baik, kami benar-benar mencoba banyak jenis, mulai dari kertas hingga desainnya, agar bisa mempersembahkan hasil terbaik kepada Master,”
kata kata Shi Yan-teng, relawan Tzu Chi.

“Dalam proses ini, kami juga harus menjalin jodoh baik dengan banyak orang agar karya ini dapat diselesaikan. Jadi, seluruh tim benar-benar bekerja sama dengan harmonis,” pungkas Shi Yan-teng.

Melihat ini, meski semuanya hanyalah kertas, tetapi melalui kertas ini, ajaran bisa diwariskan sampai puluhan ribu tahun. Lanjutkanlah metode seperti ini untuk mencatat setiap sejarah. Berapa banyak pun yang kalian buat, bawalah kembali ke Griya Jing Si agar saya bisa menyimpannya selamanya.

Saya juga sedang memikirkan untuk membangun sebuah Perpustakaan Jing Si. Meski sekarang belum mulai dibangun, tetapi pemikiran seperti ini sudah ada. Jadi, melihat semua benda yang kalian bawa hari ini, saya sudah bisa membayangkan bahwa kelak, barang-barang ini akan saya simpan di Perpustakaan Jing Si. Semua ini adalah permata. Saya merasa sangat tersentuh dan bahagia.

Berkat sumbangsih kalian, barang-barang ini bisa disimpan selamanya. Tunjukkanlah bakat kalian. Kumpulkanlah peralatan tulis zaman dahulu, itu juga sangat baik. Jika bisa memberikan keteladanan hidup, itu lebih baik lagi. Kita semua bisa membantu menjadi saksi baginya. Inilah sejarah kehidupan. Yang paling berharga ialah ketika terlahir di dunia ini, kita tahu untuk bersumbangsih bagi masyarakat. Itulah permata paling berharga. Itulah mengapa manusia sangatlah penting. Sejarah yang bisa dicatat, hendaknya kita catat dengan baik.


Saya sangat berterima kasih, terutama saat melihat kalian memasang pegangan tangan bagi kaum lansia. Saya merasa sangat bersukacita. Pegangan seperti ini juga saya gunakan sekarang. Di sini pun saya menggunakannya. Saya teringat bahwa saya pernah satu atau dua kali hampir terjatuh, tetapi untung dapat segera memegang pegangan dan berdiri stabil kembali.

Saya merasa bahwa di mana pun ada kaum lansia, terutama para penerima bantuan kita, ketika kita mengunjungi mereka, hendaknya kita sambil melihat kondisi ruangannya. Jika memungkinkan, kita bisa membantu memasang pegangan seperti ini agar mereka tidak terjatuh. Dengan begitu, kekhawatiran kita akan berkurang. Saya sangat berterima kasih kepada kalian karena telah melakukannya dengan sangat baik. Terima kasih.

Mewarisi tekad Guru dengan ketulusan, rasa hormat, dan rasa bakti
Membuktikan sejarah melalui pelestarian benda-benda bersejarah
Terjun ke tengah masyarakat untuk bersumbangsih dan meringankan penderitaan
Menorehkan kebenaran dengan pena dan mewariskan silsilah Dharma

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 13 Januari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 15 Januari 2026
Memiliki sepasang tangan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, sama saja seperti orang yang tidak memiliki tangan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -