Ceramah Master Cheng Yen: Menumbuhkan Jiwa Kebijaksanaan dan Memutar Roda Dharma


“Dia sama sekali tidak meremehkan diri sendiri. Dia bisa mengikuti setiap gerakan sendiri. Kita cukup memberitahunya makna dari setiap gerakan. Setelah memahami maknanya, dia tahu bagaimana menampilkannya. Kita sama sekali tidak meragukannya. Dia mampu melakukannya,”
kata Chen Yu-nian relawan Tzu Chi.

“Meski mata kanan saya tidak bisa melihat dengan jelas, tetapi saya masih memiliki mata kiri. Saya merasa bahwa setelah menapaki Jalan Bodhisatwa, saya hendaknya berfokus pada apa yang saya miliki, bukan berfokus pada kehilangan saya,” kata Yan Shu-juan relawan Tzu Chi.

Bodhisatwa bersumbangsih dengan sukacita di dunia ini. Sungguh, Bodhisatwa di dunia ini merasakan kebahagiaan, bukan penderitaan. Saya sering berkata bahwa kita sangat bahagia. Meski bersumbangsih hingga sangat lelah, kita tetap merasa sangat bahagia. Kita memang merasa lelah, tetapi juga merasa bahagia.

Di dunia ini, berapa banyak orang yang dapat mendengar ajaran Buddha? Di tengah manusia yang tak terhitung jumlahnya dan lautan Dharma yang begitu luas, berapa banyak orang yang benar-benar dapat mempelajari Sutra Makna Tanpa Batas? Setiap orang hendaknya sungguh-sungguh mempelajari Sutra Makna Tanpa Batas dan menjadikannya sebagai benih jiwa kebijaksanaan. Benih jiwa kebijaksanaan sangatlah penting. Inilah yang terus saya katakan belakangan ini.

Saat saya masih muda, sebelum mendirikan Badan Amal Ke Nan Tzu Chi, begitu membaca Sutra ini, hati saya merasa sangat damai dan tenang. Ini adalah pengalaman saya sendiri. Saya merasa bahwa setiap orang yang mempelajari Sutra Makna Tanpa Batas hendaknya juga merasakan kedamaian dan ketenangan yang sama. Di tengah kehidupan yang penuh dengan noda batin, bagaimanakah kondisi batin yang damai itu? Jika seseorang belum menyelami Sutra, dia tidak akan bisa merasakannya. Ini bagaikan segelas air.

Air yang saya minum ini terasa hambar. Baik saya berkata bahwa rasanya hambar maupun sangat manis, orang-orang tetap tidak dapat merasakannya. Karena itulah, ada pepatah yang berbunyi, "Hanya orang yang meminum airlah yang tahu air itu dingin atau hangat." Dengan prinsip yang sama, jika kita tidak mempelajari Dharma, kita tidak akan memahaminya. Setelah kita mempelajari Dharma, apakah jalinan jodoh kita telah matang? Jika jalinan jodoh telah matang, kita dapat mempraktikkannya.


“Dahulu, saat menonton televisi di rumah, kami menyaksikan pementasan adaptasi Sutra yang dipersembahkan oleh kakak Hsu Ya-fen dan tersentuh hingga terus meneteskan air mata. Karena itu, kami tidak ingin melewatkan kesempatan tahun ini,”
kata Pan Shu-wei relawan Tzu Chi.

Pementasan adaptasi Syair Pertobatan Air Samadhi telah berlalu 12 tahun. Kini, setelah 12 tahun, kita mempersembahkan pementasan adaptasi Sutra Makna Tanpa Batas.

Syair Pertobatan Air Samadhi membuat saya menyadari betapa beratnya karma membunuh saya. Sutra Makna Tanpa Batas mengajarkan tentang betapa pentingnya pikiran. Seperti yang dikatakan Master, sebutir benih kecil yang ditanam di dalam hati kita, tidak peduli itu benih baik ataupun buruk, ia akan terus bertumbuh. Saya menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan dengan Dharma. Begitu mendengar lantunan Sutra, air mata saya mengalir dengan sendirinya,” kata Wu Yu-jia relawan Tzu Chi.

Sutra Ksitigarbha menjaga gerbang neraka. Bodhisatwa Ksitigarbha mengingatkan orang-orang bahwa ada kesalahan tertentu yang tak boleh dilakukan. Jika seseorang melakukan kesalahan tertentu, dia akan terjatuh ke alam neraka dan mengalami penderitaan tak terkira. Sutra ini berisi peringatan. Sutra Makna Tanpa Batas menunjukkan arah dan cara untuk menapaki Jalan Bodhisatwa. Dalam menapaki Jalan Bodhisatwa, kita merasa damai dan tenang saat berinteraksi dengan orang-orang.

Zaman sekarang, setelah tumbuh dewasa, setiap orang akan pergi ke tempat yang berbeda-beda untuk mengembangkan karier atau pendidikan mereka. Kini, orang-orang memiliki perspektif global. Karena itu, banyak kaum muda yang pergi ke tempat yang jauh dan hanya kaum lansia yang tinggal di rumah. Jadi, kita perlu menyebarkan Dharma di tengah komunitas.


Saya berharap setiap orang dapat berpartisipasi, bukan hanya mendengar atau menyaksikannya. Setiap orang hendaknya turut berpartisipasi. Sungguh, Sutra Makna Tanpa Batas merupakan pembimbing bagi jiwa kebijaksanaan kita. Kita harus bersungguh hati mendalaminya. Saya bisa melihat ketekunan, semangat, dan ketulusan semua orang. Inilah persembahan. Ini disebut persembahan berupa tindakan.

Ada persembahan berupa materi, persembahan berupa rasa hormat, dan persembahan berupa tindakan. Inilah tiga jenis persembahan. Contoh dari persembahan berupa materi ialah buah-buahan yang kita taruh di altar saat memuja Buddha. Ini disebut persembahan berupa materi. Yang kedua, persembahan berupa rasa hormat. Memberikan persembahan materi saja tak bisa sungguh-sungguh mengungkapkan ketulusan kita. Rasa hormat berasal dari ketulusan kita. Jadi, rasa hormat lebih penting dari materi. Yang lebih penting lagi ialah persembahan berupa tindakan.

Setelah mempelajari ajaran Buddha, kita menyerapnya ke dalam hati dan mempraktikkannya secara nyata. Demikianlah hendaknya kita melatih diri dan mendalami Dharma. Inilah pencapaian yang diperoleh oleh orang yang membina keluhuran. Orang yang membina keluhuran akan memperoleh pencapaian. Jika tidak melakukan praktik nyata, kita tidak akan memperoleh dan merasakan pencapaian. Berhubung telah melakukan praktik nyata, kita bisa merasakan kedamaian dan ketenangan.

Dahulu, kita mungkin sedikit menyimpang. Kini, berhubung telah mengenal Dharma, kita hendaknya segera memperbaiki diri dan menuju arah yang benar. Jika tidak, menyimpang sedikit saja, kita akan jauh tersesat. Dahulu, pementasan adaptasi Syair Pertobatan Air Samadhi menunjukkan penderitaan. Kini, pementasan adaptasi Sutra Makna Tanpa Batas menunjukkan arah yang benar. Saya terus mengingatkan orang-orang untuk senantiasa bersyukur. Semua orang dapat bersatu hati, ini tidaklah mudah.


“Dalam pementasan adaptasi Sutra, ada beberapa kata yang harus diserukan dengan sangat lantang dan teguh, bagai sedang berikrar di hadapan Master. Apakah itu? Saya bersedia,”
kata Wang Li-rong relawan Tzu Chi.

“Saya telah dilantik selama 31 tahun. Selama 30 tahun ini, saya selalu bersyukur kepada para relawan senior yang terus membimbing dan mendampingi saya. Di sini, saya berikrar untuk memperteguh tekad pelatihan saya,”
kata Cai Li-yun relawan Tzu Chi.

“Saya bersyukur kepada Master yang memberi saya kesempatan untuk memikul tanggung jawab sebagai fungsionaris Tim Bantuan Darurat Taipei I. Ini merupakan sebuah tanggung jawab besar. Saya akan memikulnya dengan sungguh-sungguh dan menuntaskan misi saya. Saya berharap saya dapat lebih berani dan tekun dalam menapaki Jalan Bodhisatwa, menyerap Dharma ke dalam hati dan mempraktikkannya, serta menjalin jodoh baik secara luas di komunitas,” kata Zheng Zhen-huang relawan Tzu Chi.

Yang memiliki kesatuan hati bukan hanya insan Tzu Chi di Taipei, melainkan insan Tzu Chi di seluruh dunia. Pementasan adaptasi Sutra ini dapat disaksikan di seluruh dunia. Jika ada orang yang tidak dapat menyaksikannya sekarang, mereka dapat menyaksikannya nanti. Singkat kata, sangat penting untuk memanfaatkan teknologi dalam memutar roda Dharma. Saat ini adalah waktu yang tepat.   

Mempersembahkan pementasan adaptasi Sutra Makna Tanpa Batas
Menapaki jalan kebenaran dengan damai dan tenang
Tulus memberi persembahan dengan tekun melatih diri dan membawa manfaat bagi sesama
Menumbuhkan jiwa kebijaksanaan dan memutar roda Dharma

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 16 Oktober 2023
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Felicia
Ditayangkan Tanggal 18 Oktober 2023
Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -