Ceramah Master Cheng Yen: Menyatu dengan Hati Buddha yang Penuh Cinta Kasih dan Welas Asih
“Buddha Sakyamuni membabarkan Sutra Makna Tanpa Batas di Puncak Burung Nasar. Namun, Sutra Makna Tanpa Batas tak ada lagi di India. Setelah 2.500 tahun dari zaman Buddha, kalian memberikan kesempatan baik ini. Saat menerjemahkannya, saya sangat tersentuh karena 2.500 tahun setelah zaman Buddha, ajaran Buddha kembali ke Puncak Burung Nasar, Rajgir. Karena itu, saat itu saya sangat tersentuh,” kata Profesor Arun Kumar Yadav, Dosen Universitas Hindu Banaras.
Saya sungguh sangat sukacita. Ada anggota Sangha setempat yang melantunkan Sutra Makna Tanpa Batas pada tanggal 24 Imlek setiap bulannya. Pahala mereka sungguh tak terhingga. Ini sungguh membuat saya merasa seakan-akan kembali ke tanah kelahiran Buddha. Saya merasakan sukacita dalam Dharma. Sungguh, saya merasa bahwa Dharma kembali ke dalam batin saya dan batin saya kembali ke tanah kelahiran Buddha. Saya sangat sukacita.
Buddha memang pernah datang ke dunia ini. Buddha Sakyamuni adalah Pangeran Siddhartha. Beliau semula hidup nyaman di istana. Jika tidak keluar dari istana, Beliau sama sekali tidak tahu tentang penderitaan. Saat keluar dari istana, Beliau melihat penderitaan, seperti lahir, tua, sakit, mati, dan lingkungan yang kotor. Beliau hidup di istana yang bersih dan nyaman. Namun, saat keluar dari istana, apa yang terlihat bagaikan langit dan bumi.
Beliau menyadari bahwa orang-orang tidak bisa memiliki lingkungan hidup yang sama dengan-Nya. Di luar istana, Beliau melihat penderitaan di mana-mana, terlebih kondisi orang-orang yang tua ataupun sakit. Karena itu, Beliau membulatkan tekad. Beliau tahu bahwa mustahil bagi diri-Nya untuk melenyapkan penderitaan seperti itu. Sebagai seorang pangeran, meski menghabiskan seluruh harta kerajaan, Beliau tetap tidak dapat menolong semua orang miskin. Karena itu, Beliau meninggalkan istana untuk melatih diri.

Di tengah kondisi yang sangat hening, hati dan pikiran-Nya pun sangat damai. Hingga fajar menyingsing, Beliau membuka mata dan melihat cahaya bintang di langit. Seketika itu juga, cahaya dalam hati dan pikiran-Nya memancar. Demikianlah kesadaran-Nya terlepas dari pandangan duniawi terhadap segala sesuatu di dunia ini. Semua pandangan dan pemahaman-Nya sudah tersucikan. Karena itulah, Beliau ingin menyucikan hati manusia dan dunia ini.
Segala sesuatu di dunia ini ada di dalam hati dan pikiran Buddha. Beliau memahami dengan jelas dan bisa menganalisis proses dari eksistensi ajaib hingga kosong dan sebaliknya. Eksistensi ajaib, inilah Dharma menakjubkan yang ingin dibabarkan oleh Buddha. Materi yang sangat besar di dunia ini pun bisa dikupas hingga kosong. Dalam kekosongan itu, terkandung Dharma yang menakjubkan.
Buddha menganalisis proses dari ada hingga tidak ada dan dari tidak ada hingga Dharma yang menakjubkan agar kita dapat memahami kebenaran sejati. Inilah Dharma yang dibabarkan Buddha di dunia. Jadi, dalam meneladan Buddha, kita harus mempelajari ajaran-Nya. Kita berharap batin kita dapat berpegang pada keyakinan benar.
Setiap pagi, saat memberi penghormatan kepada Buddha, saya melakukannya dengan segenap jiwa dan raga. Saya merenungkan dengan sungguh-sungguh apa Dharma yang Buddha babarkan di sana. Intinya, tubuh mengalami lahir, tua, sakit, dan mati; semua materi mengalami terbentuk, berlangsung, rusak, dan hancur; pikiran mengalami timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap. Semuanya mengalami empat fase perubahan. Inilah empat fase perubahan dari tiga fenomena.

Melihat materi di dunia ini, saya selalu merenungkan prinsip kebenaran. Setelah menerima laporan, kalian juga harus melakukan survei kasus. Karena itu, kalian tentu telah melihat orang-orang yang menderita karena tua, sakit, atau mati. Kalian juga harus berusaha untuk membebaskan mereka dari penderitaan. Kita hendaknya tak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga membangkitkan kekayaan batin mereka. Inilah yang ingin diberikan oleh Buddha. Jadi, saya sangat bersyukur kepada insan Tzu Chi. Setelah mendengar ajaran saya, kalian meyakini, menerima, dan menjalankannya.
Di tanah kelahiran Buddha, penderitaan yang Buddha lihat pada lebih dari 2.000 tahun yang lalu masih ada hingga sekarang. Kalian telah melihat penderitaan di sana. Orang-orang di tanah kelahiran Buddha tetap menderita akibat kemiskinan, lahir, tua, sakit, dan mati. Orang-orang tetap tinggal di rumah yang bocor dengan dinding yang tidak bisa menahan angin. Musim dingin terasa sangat dingin dan musim panas terasa sangat panas. Demikianlah nasib mereka.
Mereka terlahir di sana dan harus mengalami penderitaan. Meski Buddha yang penuh welas asih ingin memperbaiki kehidupan mereka, tetapi sayangnya, Beliau tidak memiliki cukup waktu. Setelah mencapai kebuddhaan, Beliau membabarkan Dharma selama 49 tahun. Namun, berapa lama orang-orang di sana mendengarnya? Kalian telah mengenal saya belasan, dua puluhan, atau paling lama tiga puluhan tahun. Kalian telah mendengar ceramah saya. Namun, berapa banyak pemahaman yang kalian peroleh? Bukankah kalian masih berada pada tataran awam? Kita semua masih berada pada tataran awam.

Sebanyak apa pun Dharma yang saya babarkan, saya tetaplah seorang mahkluk awam. Kehidupan sehari-hari saya juga sama seperti makhluk awam lainnya. Hanya saja, kondisi saya agak berbeda. Saat muda, saya meninggalkan keduniawian. Saat saya masih muda, kondisi batin saya sudah terlepas dari keduniawian. Saya sudah terbebas dari ikatan keluarga.
Namun, sejak saat itu pula, saya mengemban misi Buddha. Kekhawatiran saya tak kalah dari umat perumah tangga. Jika tidak meninggalkan keduniawian, saya hanya perlu mengkhawatirkan keluarga kecil saya. Berhubung telah meninggalkan keduniawian, saya harus mengkhawatirkan seluruh dunia.
Setiap hari, banyak bencana yang terjadi di seluruh dunia. Kita harus mencari tahu bagaimana memulihkan sendi kehidupan para korban bencana di masa mendatang. Semua ini masih terus kita lakukan hingga sekarang. Demikianlah insan Tzu Chi, tidak pernah menyia-nyiakan waktu.
Penderitaan menunjukkan Dharma yang menakjubkan
Meyakini dan menjalankan prinsip kebenaran
Menolong yang kurang mampu dan membangkitkan kekayaan batin mereka
Menyatu dengan hati Buddha yang penuh cinta kasih dan welas asih
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 28 April 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 30 April 2026







Sitemap