Ceramah Master Cheng Yen: Menyebarkan Cinta Kasih dan Kebajikan dengan Kesatuan dan Keharmonisan
Dengan menyebarkan energi kebajikan, masyarakat akan dipenuhi oleh orang-orang baik. Jika banyak orang baik melakukan perbuatan baik, masyarakat akan hidup damai dan harmonis. Orang-orang yang memahami prinsip kebenaran ini akan bersedia meletakkan celengan bambu di toko dengan sukacita. Semua ini adalah wujud kekuatan cinta kasih yang saling menyemangati. Begitulah cara kita menyebarkan Dharma, membawa manfaat, dan membimbing semua orang di dunia. Inilah misi kita.
Meski Tzu Chi disebut sebagai "Yayasan Buddha Tzu Chi", saya selalu menaruh rasa hormat kepada semua agama. Agama setiap orang memang berbeda-beda, tetapi kita memiliki cinta kasih yang sama. Apa pun agama kita, baik Kristen Protestan, Katolik, maupun Islam, semuanya menjunjung nilai cinta kasih. Tzu Chi juga mengajarkan cinta kasih agung. Entah disebut welas asih, kasih, atau rahmat, semuanya adalah cinta kasih.
Cinta kasih agung Tzu Chi harus mampu merangkul segalanya dan memuji semua agama. Dengan adanya agama, kehidupan memiliki arah sehingga tidak akan menyimpang, melainkan berjalan di jalan yang benar dan membawa manfaat bagi sesama. Saat ini, kita memiliki jalinan jodoh untuk berkumpul di Tzu Chi. Tzu Chi memiliki jalinan jodoh untuk menginspirasi banyak orang.

Sedikit pencerahan menciptakan pemahaman besar. Jadi, hendaknya semuanya mendengarkan, melihat, dan belajar dengan sungguh-sungguh. Apa yang kita dengar dan lihat juga harus diwujudkan dalam tindakan. Itulah sebabnya kita perlu tata krama. Saat bertemu siapa pun, kita harus menyampaikan doa. Itulah bentuk sopan santun. Kesopanan adalah perwujudan prinsip kebenaran. Orang yang memahami kebenaran pasti bersikap santun.
Kesopanan adalah bagian dari prinsip kebenaran. Ketika bertemu orang lain, hendaknya kita bersikap sopan. Ketika bersikap sopan, itu artinya kita memahami prinsip kebenaran. Inilah yang benar-benar harus dipelajari dalam hidup. Insan Tzu Chi juga harus bersikap demikian, bukan hanya diri sendiri, tetapi juga keluarga kita. Dunia membutuhkan teladan seperti ini.
Sebelum meneladan Buddha, mungkin kita belum memahami prinsip kebenaran dan tata krama dalam ajaran Buddha. Namun, setelah memasuki pintu Tzu Chi dan mengikuti berbagai pelatihan, kita diajarkan tata krama dalam setiap sendi kehidupan. Inilah sopan santun dan tata krama. Kita memiliki tanggung jawab untuk belajar sekaligus mendidik. Mendidik berarti menyebarkan Dharma dan membawa manfaat bagi semua makhluk. Jadi, kita harus menggenggam waktu dan tidak menunggu sampai merasa pandai baru mengajar.

Sesungguhnya, saat belajar itulah kita harus langsung mempraktikkannya dengan menapaki Jalan Bodhisattva. Kita harus belajar sambil melangkah. Jadi, belajar harus dimulai dengan langkah awal, yaitu menapaki Jalan Bodhisattva. Ujung dari Jalan Bodhisattva adalah pencerahan. Jalan yang belum pernah kita lalui, kita tidak akan tahu seperti apa pemandangannya. Hanya setelah benar-benar menempuh jalan itu, barulah kita memahami keindahannya.
Saudara sekalian, hendaknya kita bersyukur. Di Tzu Chi, terdapat begitu banyak pemeluk agama yang berbeda. Saya bersyukur karena setiap agama selalu mengajarkan kata-kata yang baik. Sebagai insan Tzu Chi, hendaknya kita bersikap tulus kepada semua orang, sama seperti umat Buddha ketika menghadap Buddha atau Bodhisattva Avalokitesvara. Bodhisattva Avalokitesvara dengan seribu tangan dan seribu mata sejatinya melambangkan bahwa semua orang memiliki kekuatan Bodhisattva ini di dalam diri.
Setiap orang mampu berbuat banyak hal bagi dunia dan sanggup memikul banyak tanggung jawab. Semua orang memiliki potensi dan bakat. Jadi, janganlah kita meremehkan diri sendiri. Namun, jangan pula menjadi sombong atau merasa paling hebat. Hal terpenting ialah menghormati orang lain. Kita harus memahami bahwa diri kita memiliki potensi yang tak terbatas, tetapi tetap tidak boleh menyombongkan diri karena kesombongan hanya akan menjadi penghalang bagi orang lain.

Saya sering mengatakan bahwa kita harus mengecilkan diri hingga seolah-olah bisa masuk ke dalam pandangan mata orang lain tanpa menyakiti atau mengganggu. Ada orang yang terasa "mengganggu mata" sehingga orang lain tidak mau melihatnya. Sebaliknya, kita harus berusaha agar di mata siapa pun, kehadiran kita terasa menyenangkan. Semua itu bergantung pada kemampuan kita untuk merendahkan hati dan mengecilkan ego. Dengan begitu, semua orang akan memandang kita dengan penuh sukacita. Inilah keterampilan yang harus dipelajari oleh insan Tzu Chi.
Kita harus menjadi teladan bagi sesama, meneladan keharmonisan insan Tzu Chi, serta bekerja sama dalam kesatuan hati dan keharmonisan. Kesatuan hati dan keharmonisan insan Tzu Chi sering saya ibaratkan dengan kedua tangan dan jari-jari. Satu tangan memiliki lima jari; dua tangan memiliki sepuluh jari. Kekuatan baru muncul ketika semuanya bersatu. Kita harus bersatu seperti ini. Apakah kalian bisa melihat aksara Tionghoa "bersatu"?
Ketika kedua tangan diletakkan di atas mulut, akan membentuk aksara Tionghoa "bersatu". Dengan bersatu, barulah kita bisa terjun ke tengah masyarakat dan membimbing semua orang. Tanpa keharmonisan, tidak akan ada persatuan. Jadi, kita harus benar-benar bersatu dan harmonis. Dengan bersatu dan harmonis, kelompok kita akan menjadi indah.
Menyebarkan Dharma, membawa manfaat, dan membimbing semua makhluk di dunia
Menyebarkan kekuatan cinta kasih dan kebajikan secara luas
Tata krama adalah wujud prinsip kebenaran dalam jalan menuju pencerahan
Merendahkan hati demi terciptanya keharmonisan
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 29 Desember 2025
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 31 Desember 2025







Sitemap