Ceramah Master Cheng Yen: Menyebarkan Dharma dan Semangat Untaian Bacang


“Saya masih ingat pada tahun 2008, saat orang tua saya bergabung dengan Tzu Chi, dalam hati saya ada sedikit penolakan terhadap Tzu Chi karena orang tua saya sibuk dengan urusan Tzu Chi. Saat itu, ada sedikit keluh kesah dalam hati saya. Saya merasa telah diabaikan,” kata Shen Ruo-bin, relawan Tzu Chi.

“Namun, mereka tidak pernah menyalahkan saya. Mereka juga tidak memaksa saya untuk bergabung dengan Tzu Chi. Tahu bahwa saya suka menolong orang lain, mereka pun mengajak saya untuk berpartisipasi dalam bazar amal tahunan Tzu Chi. Saya telah melakukannya selama 7 atau 8 tahun. Benih kebajikan saya pun perlahan-lahan bertunas,” lanjut Shen Ruo-bin.

Shen Ruo-bin melanjutkan “Kini, saya telah berusia 40-an tahun. Ayah saya bergabung di Tzu Chi saat berusia 58 tahun. Saya mengingatkan diri sendiri untuk menggenggam waktu dan jalinan jodoh. Pada hari ulang tahun saya di bulan Agustus lalu, saya memberi diri sendiri sebuah hadiah, yaitu berbuat baik. Saya berpartisipasi dalam baksos kesehatan di Sri Lanka.”

“Saat berada di Sri Lanka, kami mengalami kendala bahasa. Namun, senyuman dan pendampingan kami yang tulus telah menyentuh hati warga setempat. Mereka juga terus berterima kasih kepada kami dan membuat kami sangat tersentuh,” ungkap Shen Ruo-bin.

“Kali itu, saya baru benar-benar memahami bahwa penyembuhan bukan hanya tentang obat-obatan dan berobat, melainkan cinta kasih agung dan perhatian antarmanusia. Awalnya, saya mengira bahwa saya pergi untuk memberi, tetapi yang saya peroleh malah jauh lebih banyak,” pungkas Shen Ruo-bin.


Mengenang masa lalu, waktu tidak mungkin diputar kembali. Namun, tekad dan ikrar yang telah dibangkitkan, jalan yang telah ditapaki, dan pemahaman yang diperoleh, semua itu sangatlah berharga. Kehidupan kita sangatlah bernilai.

Kalian juga berbagi tentang orang yang mengajak kalian untuk bergabung dengan Tzu Chi. Apakah dia bisa selamanya mendampingi kalian? Itu tidak pasti. Karena itu, kita hendaknya menghargai mereka. Orang yang mengajak kalian bergabung dengan Tzu Chi juga sangat menghargai kalian. Karena itulah, mereka bersungguh hati membimbing kalian untuk bergabung. Akan tetapi, kehidupan tidaklah kekal. Ada sebagian yang telah pergi ke kehidupan berikutnya untuk terus membentangkan jalan Tzu Chi.

Saya sering berpikir tentang murid-murid saya. Di kehidupan sekarang, saya telah membentangkan jalan bagi mereka. Setelah terlahir kembali, mereka pasti juga membentangkan jalan bagi saya. Kita tidak akan pernah meninggalkan jalan agung di dunia ini. Jalinan kasih sayang di antara kita sungguh sangat berharga. Karena itu, hendaklah kita memotivasi satu sama lain.

Kita harus memperpanjang jalinan kasih sayang dari kehidupan ke kehidupan dan menghargainya. Jalan yang kita praktikkan adalah Jalan Bodhisatwa di dunia. Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Buddha datang ke dunia demi satu tujuan agung, yaitu membuka jalan bagi kita dan membimbing kita untuk terus membentangkan jalan. Buddha telah membuka jalan dan menunjukkan arah pada kita.

Dalam melangkah maju, arah kita tidak boleh menyimpang sedikit pun. Jika kita menyimpang sedikit saja, orang-orang di belakang kita akan jauh tersesat. Karena itu, kita harus bersungguh-sungguh membentangkan Jalan Bodhisatwa ke arah yang benar. Jika ingin lebih cepat mencapai kebuddhaan, kita harus menapaki Jalan Bodhisatwa dengan teguh dan mantap. Buddha adalah Yang Tercerahkan. Kita juga harus tercerahkan.


Kehidupan memang penuh dengan ketidakkekalan, penderitaan, dan kekosongan. Kita harus melenyapkan kegelapan batin dan kemelekatan, tetapi juga harus ingat akan eksistensi yang menakjubkan. Eksistensi yang menakjubkan ini adalah hakikat kebuddhaan. Setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat kebuddhaan. Hendaklah kita menghormati dan menghargai hakikat yang ada dalam diri kita.

Setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan, tetapi kapan kita dapat melihat hakikat kebuddhaan ini? Meski hakikat kebuddhaan dimiliki oleh setiap orang, tetapi diri sendiri tidak dapat melihatnya. Kini, kita memiliki jalinan jodoh untuk mempelajari ajaran Buddha. Di dunia ini, orang yang mempelajari ajaran Buddha sangatlah banyak, tetapi tidak banyak yang memahami Tzu Chi. Orang yang memahami dan bergabung lebih sedikit lagi. Karena itu, hargailah jalinan jodoh di antara kita.

Untuk membawa manfaat bagi dunia, kita harus terus bersumbangsih hingga kehidupan mendatang. Yang paling saya khawatirkan ialah krisis yang akan dihadapi generasi mendatang. Inilah era kemunduran Dharma. Era kemurnian Dharma telah berlalu. Kini, pengetahuan dan perilaku baik perlahan-lahan memudar dan digantikan oleh keinginan terhadap keuntungan sehingga orang-orang terus bertikai. Inilah krisis pada era kemunduran Dharma.

Krisis seperti ini bisa menimbulkan konflik antarmanusia. Begitu konflik terjadi, sangat sulit untuk memperbaiki keadaan. Karena itu, setiap orang hendaknya sangat waspada. Saya berharap kalian dapat bertekad untuk menyebarluaskan Dharma di negara kalian, menghimpun kekuatan cinta kasih, dan yang terpenting, memberi keteladanan. Kalian telah membimbing orang-orang dengan baik.


Saya ingin memberi tahu kalian bahwa selama ini, kalian telah menuju arah yang benar. Karena itu, kalian hendaknya membentangkan jalan yang lebih lapang lagi. Hendaklah kalian membimbing orang-orang untuk bersumbangsih secara nyata dengan langkah yang mantap. Saya mendoakan kalian semua. Kalian bisa kembali kali ini, saya sangat sukacita.

Seiring berjalannya waktu, kita terus menua. Karena itu, genggamlah waktu yang ada. Ingatlah semangat untaian bacang kita. Bawalah untaian bacang ini ke Singapura. Ini melambangkan semangat misi Tzu Chi. Kita semua adalah bagian dari untaian bacang ini. Semangat untaian bacang berasal dari Griya Jing Si. Untuk mewariskan semangat untaian bacang ini, dibutuhkan upaya dari kalian semua. Bagai merangkai untaian bacang, kalian harus bisa menyatukan para ketua tim dan donatur kita.

Lihatlah untaian bacang ini. Bacangnya terbungkus daun dengan indah. Berasnya harus ditumis hingga sangat harum, juga harus ada isian bacang yang melambangkan adanya Dharma di dalam hati. Semua itulah yang membentuk untaian bacang ini.

Bertekad dan berikrar untuk menapaki Jalan Bodhisatwa
Menyadari ketidakkekalan dan eksistensi menakjubkan di balik kekosongan sejati
Menjadi teladan untuk membimbing ke arah yang benar
Menyebarkan Dharma dan semangat untaian bacang

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 03 September 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 05 September 2026
Kita harus bisa bersikap rendah hati, namun jangan sampai meremehkan diri sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -