Ceramah Master Cheng Yen: Menyebarluaskan Dharma demi Membangkitkan Kesadaran


Dunia ini sungguh penuh penderitaan dan penuh ketidakkekalan. Kita harus lebih menghargai orang-orang di sekitar kita. Jalinan jodoh ini harus kita hargai. Terlebih lagi, bagi kita yang memahami ajaran Buddha, semakin perlu untuk menjalin jodoh baik serta mengubah jodoh buruk menjadi jodoh baik. Kita juga harus menggenggam waktu yang ada.

Jika tidak membimbing diri sendiri pada kehidupan ini, kapan lagi kita baru akan membimbing diri kita? Jadi, Bodhisatwa sekalian, hukum sebab akibat tidak dapat kita ciptakan sendiri, tetapi kita berperan untuk menentukan arahnya. Kita tidak menciptakannya, tetapi berperan menentukannya. Benih dari masa lalu mematangkan berbagai kondisi yang membuahkan akibat di masa kini. Buah karma ini memberi kita pelajaran besar.

Lewat pelajaran besar ini, kini kita dapat menyadari secara mendalam bahwa ketidakkekalan dapat terjadi dalam sekejap. Jadi, dari pikiran yang penuh noda batin, kita harus segera beranjak menuju kesadaran.

Jadi, bagaimana kita menyucikan hati manusia? Kita harus terus berbagi Dharma dengan semua orang. Inilah yang disebut mewariskan Dharma. Begitulah ajaran Buddha. Pertama-tama, kita harus mengingatkan diri sendiri. Selanjutnya, kita harus mewariskan Dharma tentang ketidakkekalan ini kepada orang lain. Jadi, kegelapan batin semua makhluk harus dilenyapkan.

Suara satu orang sangatlah terbatas dan terlalu kecil. Dibutuhkan suara banyak orang untuk berseru. Jangan mengeluarkan suara ratapan. Kita harus menggemakan suara Dharma. Semua orang hendaknya membabarkan Dharma dan menyebarkan serta mewariskan suara Dharma. Hanya jika Dharma tersebar luas di dunia ini, barulah dunia akan damai dan orang-orang dapat terbebas dari rintangan karma penyebab penderitaan.

 

Bodhisatwa sekalian, kalian di Amerika Serikat, berada di sisi Bumi yang bertolak belakang dengan posisi Taiwan. Namun jalinan kasih antara guru dan murid begitu erat. Kalian semua hendaknya bersungguh hati.

Lihatlah, tahun ini, saat ingin berbicara dengan kalian, saya harus mengandalkan teknologi. Kalian semua yang berada di hadapan saya saat ini, saya dapat melihat kalian. Saat saya berbicara, kalian dapat mendengar dan melihat saya. Namun, dalam sekejap, saat saya mengatakan sampai jumpa, kamera dimatikan dan kalian lenyap dari hadapan saya. Inilah teknologi. Teknologi membuat kalian muncul secara semu, juga membuat kalian langsung hilang dari hadapan saya. Begitulah prinsipnya.

Jadi, Empat Kebenaran Mulia meliputi penderitaan, sebab penderitaan, akhir penderitaan, dan jalan mengakhiri penderitaan. Jadi, saya berbicara kepada kalian sesuai kebenaran ini. Saya bagaikan mengitari separuh Bumi untuk berbicara kepada kalian. Meski kita terpisah jarak sejauh separuh Bumi, tetapi nasihat yang saya sampaikan hendaknya kalian masukkan ke dalam hati. Jadi, kita memiliki tekad yang sama. Kalian juga memahami hati saya.

Saya berharap kalian semua menggenggam jalinan jodoh kita pada kehidupan ini. Saya berharap jalinan jodoh baik ini dapat terus berlanjut ke kehidupan mendatang. Jadi, kita semua harus bersatu hati dan harmonis. Dapat berjalan di jalan yang sama dengan guru yang sama adalah kesempatan yang langka. Jadi, kita semua harus bersatu hati dan saling mengasihi.

 

Kini banyak bencana alam terjadi di dunia. Kita harus lebih berusaha untuk menghimpun kekuatan untuk bersumbangsih bagi orang-orang yang menderita. Dengan banyaknya orang, barulah kekuatan akan besar. Saya terus berpesan agar kalian menggalang Bodhisatwa dunia.

Benar, kini kita harus membimbing semua makhluk. Untuk itu, kita harus menyebarluaskan suara Dharma. Suara kalian juga bisa menjadi suara Dharma. Jadi, dengan meneruskan Dharma ini kepada orang lain, barulah kita dapat menyucikan hati manusia. Dengan demikian, barulah bencana dapat diredam.

Jangan meremehkan sepatah ucapan diri sendiri. Jangan pernah meremehkannya. Mungkin sepatah ucapan kalian dapat mengurai kerisauan batin orang lain dan entah dapat membimbing berapa banyak orang untuk membangun tekad dan ikrar. Jadi, kita harus menghargai diri sendiri. Lebih banyaklah mengatakan dan menyebarkan perkataan baik. Kita perlu menyucikan hati manusia. Untuk itu, kita semua harus lebih bersungguh hati.

Kita berharap pandemi kali ini dapat segera berlalu agar perjalanan internasional bisa normal kembali. Selain perjalanan fisik, kita juga bisa melakukan perjalanan batin untuk datang ke Griya Jing Si kapan pun kita mau. Kita semua harus bersatu hati, harmonis, saling mengasihi, dan bergotong royong.

 

Obat mujarab untuk kondisi sekarang ialah ketulusan. Dengan ketulusan, kita mengembangkan cinta kasih. Dengan cinta kasih ini, kita saling mengasihi antarmanusia, terlebih lagi mengasihi semua makhluk di dunia. Kita harus terus menyosialisasikan hal ini.

Kalian seharusnya tahu apa yang ingin saya sampaikan. Cara yang paling nyata ialah bervegetaris. Inilah cara paling nyata bagi kita untuk menunjukkan cinta kasih terhadap semua makhluk. Dengan mengasihi semua makhluk, barulah kita dapat selalu mengingatkan diri bahwa Jalan Bodhisatwa selalu berkaitan dengan semua makhluk yang menderita. Dengan demikian, kita tidak akan lepas dari Jalan Bodhisatwa. Intinya, banyak hal yang tak habis disampaikan.

Waktu terus berlalu detik demi detik. Genggamlah setiap waktu yang ada. Bersyukurlah atas kehidupan kita sendiri. Buatlah kehidupan kita selalu bermakna dan mantap di Jalan Bodhisatwa Dengan beribu-ribu doa, saya mendoakan kalian semua agar selalu mantap melangkah di Jalan Bodhisatwa. Saya berharap kalian dapat memahami perkataan saya, mengasihi orang yang saya kasihi, serta saling mengasihi satu sama lain dan saling mendukung di Jalan Bodhisatwa. Saya mendoakan kalian semua. Terima kasih.

Membangkitkan kesadaran setelah melihat ketidakkekalan
Menyebarluaskan suara Dharma demi melenyapkan kegelapan batin
Guru dan murid bersatu hati melindungi semua makhluk
Menjalankan ajaran dengan tekad tak tergoyahkan

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 25 April 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia, Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 27 April 2021
Apa yang kita lakukan hari ini adalah sejarah untuk hari esok.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -