Ceramah Master Cheng Yen: Menyeberangkan Semua Makhluk dan Menggalang Cinta Kasih


“Semua ini adalah uang kembalian dari mengisi bahan bakar atau membeli sesuatu. Kapan pun memiliki uang berlebih, saya akan memasukkannya ke dalam celengan,”
kata Kean An, pekerja saluran air bawah tanah

“Setiap orang memegang celengan bambu yang melambangkan niat baik mereka. Cinta kasih ini dibangkitkan oleh Tzu Chi dengan semangat celengan bambu. Ini merupakan kualitas diri yang sangat baik. Kita juga diajari untuk berpola hidup hemat,” kata Chea Bunnarith, Wakil supervisor kantor penyaluran air.

“Tadi, saya telah melihat para pahlawan tanpa nama yang bekerja di bawah tanah. Kalian tak hanya mengasihi orang-orang, tetapi juga melakukan pekerjaan yang enggan orang lain lakukan. Kalian juga mempraktikkan kebajikan. Kalian giat menyisihkan uang ke dalam celengan bambu serta menyebarkan cinta kasih dan kebajikan,” kata Xie Ming-xun, penanggung jawab Kantor Perwakilan Tzu Chi Kamboja.

“Melihat pemandangan ini, saya merasakan secara mendalam bahwa lewat relawan yang berpartisipasi, semangat misi amal benar-benar disebarkan. Ini juga merupakan wujud cinta kasih yang tulus,” kata Hoeun Koemleap, relawan Tzu Chi.

Kita ingin orang-orang membangkitkan niat baik. Saya sering berkata bahwa kita harus menginspirasi orang-orang untuk mendonasikan 50 sen setiap hari.

Dahulu, saat Tzu Chi baru berdiri, saya meminta 30 orang ibu rumah tangga untuk mendonasikan 50 sen setiap hari. Mereka lalu berkata pada saya, "Master, kami akan mendonasikan 15 dolar setiap bulan." Saya berkata, "Saya tidak ingin kalian mendonasikan 15 dolar setiap bulan. Saya hanya ingin kalian mendonasikan 50 sen setiap hari." Mereka berkata, "Master, 50 sen per hari sama dengan 15 dolar per bulan." Saya berkata, "Saya juga bisa menghitungnya. Namun, jika mendonasikan 15 dolar per bulan, kalian hanya membangkitkan cinta kasih sebulan sekali. Jika mendonasikan 50 sen per hari, kalian akan membangkitkan cinta kasih setiap hari."

Agar orang-orang membangkitkan cinta kasih setiap hari, saya pun meminta mereka untuk mendonasikan 50 sen setiap hari. Saya tidak ingin mereka mendonasikan 15 dolar per bulan karena berharap mereka dapat bertekad dan terus membina kebiasaan untuk memberi dengan cinta kasih setiap hari.

Kalian hendaknya mengajak warga kurang mampu untuk berdonasi. Biasanya, kita memberikan bantuan yang cukup untuk kelangsungan hidup mereka. Imbaulah mereka untuk menyisihkan sedikit uang agar mereka yang kekurangan juga dapat membangkitkan kekayaan batin. Meski hanya berdonasi dalam jumlah kecil, itu menandakan bahwa mereka telah membangkitkan kekayaan batin.


“Saya menerima banyak bantuan dari Tzu Chi. Saat suami saya meninggal dunia, saya sendirian dan tidak berdaya. Saat itu, Tzu Chi memberikan bantuan besar pada saya,”
kata Pratima Devi, warga.

“Warga berinisiatif bertanya dan berkata bahwa mereka ingin mengadopsi celengan bambu dan celengan beras. Mereka sangat tulus. Jika membandingkan laporan sebelumnya dan kali ini, jumlah partisipan telah meningkat,” kata Li Cui-shan, relawan Tzu Chi Malaysia.

“Kalian datang ke desa kami untuk menolong warga kurang mampu dan kalian melakukannya dengan sangat baik. Meski kemampuan saya terbatas, saya juga ingin seperti kalian dan berbuat baik semampu saya,” kata Ranjit, warga.

Kita telah membangkitkan kekayaan batin mereka. Mereka juga bisa menyisihkan 50 sen setiap hari dan membina cinta kasih. Ini disebut mentransformasi. Kita mentransformasi batin mereka dari miskin menjadi kaya.

Imbaulah orang-orang untuk berikrar menyisihkan 50 sen setiap hari. Ini akan menjadi kebiasaan mereka. Jika ada yang belum mengenal Tzu Chi, kalian juga bisa memotivasi mereka untuk berbagi tentang Tzu Chi dan menggalang donasi. Donasi yang terhimpun akan digunakan untuk menolong sesama. Inilah yang disebut berdana.

Tentu saja, agar mereka dapat berdana, kita harus bersumbangsih bagi mereka. Ini demi membangkitkan kekayaan batin mereka. Inilah hukum sebab akibat. Kita berusaha mentransformasi benih kemiskinan dan membangkitkan kekayaan batin mereka. Seperti apakah kehidupan yang bernilai? Apakah kehidupan yang penuh kenikmatan? Kenikmatan selalu berlalu dengan cepat. Setelah kenikmatan itu berlalu, tidak ada yang tersisa.

Contohnya kalian. Kalian sangat berada dan semula bisa hidup nyaman. Namun, kalian rela meninggalkan kenyamanan itu dan pergi ke tempat yang penuh penderitaan. Meski mengalami berbagai kesulitan, kalian tetap sukarela. Ini berkat adanya tekad dan ikrar. Kalian melakukan dengan sukacita, juga menerima dengan sukacita.

Dengan sukacita dan sukarela, kalian menerima kondisi yang sulit di sana. Inilah yang sering saya katakan, yakni "melakukan dengan sukarela, menerima dengan sukacita". Meski mengalami berbagai kesulitan di sana, kalian tetap bersumbangsih dengan sukarela dan sukacita.


Warga setempat sungguh sangat menderita. Apakah yang bisa kita lakukan untuk mereka? Sebanyak apa pun uang yang kita berikan pada mereka, mereka akan tetap kekurangan. Jika membahas tentang semangat ajaran Buddha, mereka juga tidak mengerti. Kita harus membimbing mereka untuk memberi.

Jika mengemis setiap hari dalam jangka panjang, mereka akan beranggapan bahwa itulah profesi mereka. Mereka hanya akan mengemis setiap hari. Ini karena mereka tidak memahami kebenaran. Jika demikian, mereka akan selamanya kekurangan. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka hanya akan duduk di lantai dan mengemis.

“Saya memberi tahu mereka bahwa dengan uang ini, kita akan membeli bahan pangan, seperti kacang-kacangan atau beras, lalu membagikannya kepada orang-orang yang kekurangan makanan. Setiap orang ingin memupuk pahala. Mereka berdoa bagi keluarga mereka. Ada pula yang berdoa bagi suami mereka,” kata Rinku, relawan.

“Mereka mungkin mengemis sepanjang hidup mereka, tetapi kita memberi mereka kesempatan untuk memupuk pahala. Bagi mereka, ini adalah hal yang baik,” kata Poonam, relawan.

“Sobat, mengapa Anda bersedia berdonasi? Bisakah Anda memberi tahu kami?” tanya salah seorang relawan Tzu Chi.

“Kami sendiri juga kekurangan. Banyak orang yang sama-sama kekurangan. Kami juga bisa membantu sesama yang kekurangan,” jawab Raju Kumar, pengemis.

“Saya ingin membantu warga kurang mampu agar kehidupan mereka menjadi lebih baik,” ucap salah seorang pengemis lainnya.


Setelah pergi ke sana, kalian berbagi tentang kebenaran dan cinta kasih dengan mereka. Cinta kasih ini adalah cinta kasih Buddha dan Bodhisatwa. Kalian mengajarkan prinsip kebenaran pada mereka dan membimbing mereka untuk menolong sesama dengan cinta kasih yang tulus.

“Meski tidak memiliki uang, Anda tetap dapat mencurahkan cinta kasih setiap hari dan berdoa dengan tulus. Dia bilang oke,” kata Sweety Raj, relawan Tzu Chi.

“Saya akan berdonasi bagi orang yang membutuhkan. Setiap kali menyisihkan segenggam beras, saya berdoa. Saya berdoa dengan tulus semoga kehidupan tetangga saya bebas dari kesulitan. Saya juga mengajak tetangga saya mengikuti kegiatan,” kata Pyari Devi, warga.

Inilah yang kalian lakukan dalam keseharian. Demikianlah suasana saat kalian bersumbangsih. Apakah yang kalian peroleh? Rasa sukacita. Kalian bersumbangsih dan bersukacita setiap hari. Bersumbangsih setiap hari tidak membuat kalian kekurangan. Sebaliknya, bersumbangsih setiap hari membuat kalian mengenal rasa puas. Bimbinglah warga setempat dengan Dharma ini.

Jadi, kita harus menyeberangkan semua makhluk dari pantai ketamakan. Kita membutuhkan perahu cinta kasih untuk menyeberangkan semua makhluk. Kita harus menyiapkan peralatan untuk menyeberangkan semua makhluk. Karena itulah, kalian pergi ke sana dan hidup di sana bersama mereka.

Sesungguhnya, melihat kalian menjalani hidup di sana, saya sangat tidak tega. Kalian semula hidup nyaman di rumah sendiri. Di sana, cuaca sangat panas dan ada banyak serangga. Meski kalian menginap di hotel, pasti juga tidak senyaman rumah sendiri. Terlebih lagi, kalian harus menjalankan misi setiap hari. Saya sungguh merasa tidak tega. Namun, di sisi lain, mendedikasikan diri di sana membuat kehidupan kalian sangat bernilai.

Menghimpun cinta kasih dengan praktik donasi 50 sen setiap hari
Menggenggam jalinan jodoh untuk mentransformasi batin yang miskin menjadi kaya
Bersumbangsih dengan sukarela dan menerima dengan sukacita
Mempraktikkan Dharma untuk menyeberangkan semua makhluk

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 01 Juni 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 03 Juni 2026
Genggamlah kesempatan untuk berbuat kebajikan. Jangan menunggu sehingga terlambat untuk melakukannya!
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -