Ceramah Master Cheng Yen: Menyembuhkan Orang yang Sakit dan Menolong Orang yang Menderita
“Ada seorang pria berusia 47 tahun yang tiba-tiba mengalami serangan jantung dan kemudian jantungnya berhenti berdetak. Ia sempat dibawa ke rumah sakit lain dan para dokter di sana berusaha menyelamatkannya serta memasang jantung buatan. Namun, kondisi yang terlihat saat itu menunjukkan bahwa peluangnya sangat kecil. Ayahnya adalah seorang insan Tzu Chi. Ia sangat sedih dan sulit menerima keadaan tersebut,” kata Chao You-chen, Kepala RS Tzu Chi Taipei.
“Master menasihatinya untuk mengubah pola pikirnya dan berkata bahwa kita hanya memiliki hak guna atas kehidupan ini. Setelah mendengar itu, keluarga tersebut menyadari bahwa ini adalah sebuah arah cinta kasih agung. Berhubung pasien telah dipasangi jantung buatan dan memiliki keinginan untuk melakukan donor organ, proses pemindahannya harus dilakukan dengan sangat teliti dan sepenuh hati,” lanjut Chao You-chen.
Chao You-chen melanjutkan “Setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan, kami pun mengutus 2 orang perfusionis untuk menjemputnya ke rumah sakit kami. Setelah pasien tiba di rumah sakit, para staf medis di sini mengetahui niat keluarga tersebut. Jadi, kami memperlakukan mereka dengan penuh hormat dan berharap jalinan jodoh ini dapat terwujud dengan baik.”
“Karena mengalami serangan jantung, ia tidak dapat mendonorkan jantungnya. Selain itu, karena ia mengalami syok dalam waktu yang cukup lama, setelah kami menghubungi berbagai rumah sakit di seluruh Taiwan, hatinya juga tidak dapat digunakan. Ia juga mengalami atrofi pada salah satu ginjalnya sejak lahir sehingga hanya satu ginjal yang dapat didonorkan. Ia juga bersedia mendonorkan matanya,” ungkap Chao You-chen.
“Sesungguhnya, selama masih memungkinkan, ia bersedia mendonorkan semuanya. Ia bahkan bersedia mendonorkan seluruh tulang dan kulitnya. Peristiwa yang awalnya sangat menyedihkan ini akhirnya berubah menjadi sebuah kisah yang bagaikan warisan bagi keluarganya,” kata Chao You-chen.
Terhadap kepala rumah sakit dan para dokter di sini, saya sangat berterima kasih. Ada empat perkara besar dalam hidup manusia, yaitu lahir, tua, sakit, dan mati. Misi kesehatan Tzu Chi selalu memikul tanggung jawab atas keempat hal tersebut.

“Sesungguhnya, pada dinding donor organ di RS Tzu Chi Taipei, setiap nama yang tertera di sana memiliki sebuah kisah. Di Hualien, ada lebih banyak kisah mengenai Silent Mentor. Selain mereka yang telah mendonorkan tubuhnya, juga ada puluhan ribu orang yang sedang menunggu dalam antrean. Ketika ketidakkekalan datang, mereka bersedia mempersembahkan tubuh mereka untuk menjadi guru bagi para mahasiswa kedokteran. Di seluruh dunia, ini adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan,” pungkas Chao You-chen.
“Saya sangat bersyukur memiliki jalinan jodoh ini. Saya ingin menambahkan sedikit tentang hari itu. Ketika saya kembali ke ruang perawatan intensif bedah, seluruh proses persiapan yang berlangsung saat itu membuat saya bersyukur atas ajaran Master. Nilai budaya humanis yang kita miliki merupakan sesuatu yang tidak dimiliki oleh rumah sakit lain,” kata Zhang Heng-jia, Wakil kepala RS Tzu Chi Taipei.
“Dalam proses tersebut, saya belajar bahwa ketika pasien akan memasuki ruang operasi, semua relawan berdiri berjajar di samping sambil melafalkan nama Buddha untuknya. Saya rasa, baik di Taiwan maupun di seluruh dunia, tidak ada rumah sakit lain yang seperti ini. Kami memiliki ciri khas ini berkat Master yang membimbing kami untuk belajar dan maju selangkah demi selangkah,” pungkas Zhang Heng-jia.
Sejak seseorang lahir hingga saat terakhir kehidupannya, ia tidak dapat terlepas dari dunia medis dan dokter. Inilah kehidupan manusia di dunia. Tubuh merupakan sarana pelatihan diri, tetapi tubuh juga merupakan sesuatu yang paling tidak bersih. Tubuh ini disebut sebagai sarana pelatihan diri karena hanya ketika terlahir sebagai manusia, barulah kita memiliki jalinan jodoh untuk menerima ajaran Buddha serta memahami bahwa ajaran Buddha mengajarkan ketulusan, keyakinan, dan kesungguhan kebenaran yang diajarkan oleh Buddha. Jadi, hendaklah kita menerima ajaran Buddha yang merupakan Dharma sejati.

Tentu saja, pengetahuan medis sangatlah mendalam. Para tenaga medis bertanggung jawab untuk melindungi kehidupan manusia. Kehidupan itu sangatlah berharga. Fase kehidupan dimulai dari lahir, lalu menuju usia tua, di dalam usia tua terdapat penyakit, dan pada akhirnya menuju kematian. Jadi, seumur hidup, manusia membutuhkan dokter. Hendaknya para dokter membina hati yang penuh cinta kasih. Itulah sebabnya saya menyebut para dokter sebagai "Tabib Agung".
Di setiap RS Tzu Chi, sistemnya pasti sama. Di tempat-tempat yang jauh, seperti pegunungan dan daerah pedesaan, ketika ada lansia yang sakit atau keluarga kurang mampu yang tidak dapat keluar rumah, para dokter Tzu Chi akan pergi melakukan baksos kesehatan. Para dokter juga melakukan kunjungan ke rumah untuk memberikan pelayanan medis dan obat-obatan. Saya selalu merasa bersyukur. Inilah semangat dari misi kesehatan kita yang harus terus dilanjutkan.
Kita tidak memohon apa pun, selain para dokter menjalankan misi dengan sepenuh hati. Oleh karena itu, para kepala rumah sakit dan wakil kepala rumah sakit harus membimbing tim medis dengan baik agar mereka dapat mempraktikkan semangat misi. Ketika seseorang bercita-cita menjadi dokter, bukankah tujuannya ialah untuk menyelamatkan manusia? Semua itu berawal dari cinta kasih. Itulah tekad yang kalian bangun sejak awal, yaitu menghargai kehidupan. Janganlah kalian melupakannya. Hendaknya para dokter dan perawat dapat terus menjalankan tekad awal.
Setiap tahun, sebelum bermagang di rumah sakit, mahasiswa kedokteran Universitas Tzu Chi akan datang ke Griya Jing Si untuk mengucapkan sumpah dokter. Mereka berikrar untuk sepanjang hidup menjaga dan melindungi kehidupan. Saya merasa sangat tersentuh. Saya sering berpikir jika para mahasiswa ini lulus satu per satu dan terus menjalankan ikrar yang mereka bangun, dunia ini akan dipenuhi dengan Buddha hidup, yaitu dokter-dokter yang baik. Jika memikirkan hal ini, saya merasa bahwa di antara Empat Misi Tzu Chi, saya menaruh harapan terbesar terhadap misi kesehatan.

Saat ini, saya melihat bahwa para dokter telah benar-benar melindungi kehidupan. Para relawan Tzu Chi juga sering datang ke rumah sakit dan berkata kepada saya, "Master, saya sangat bersyukur karena kita memiliki rumah sakit." Para relawan Tzu Chi telah menganggap rumah sakit kita sebagai milik mereka sendiri. Saya masih ingat bagian depan rumah sakit yang dipasangi konblok. Bukankah itu juga disusun bersama oleh insan Tzu Chi? Yang paling penting ialah kepala rumah sakit juga memimpin para dokter untuk ikut berjongkok di atas tanah dan menyusun konblok satu per satu. Ketika melihatnya, saya merasa sangat tersentuh.
Setiap konblok disusun dengan rapi di atas tanah hingga seluruh permukaannya menjadi rata. Selain para dokter, kita juga harus berterima kasih kepada relawan Tzu Chi. Relawan Tzu Chi bekerja sama dengan tim medis untuk menjaga bumi ini. Mereka bersama-sama menyusun konblok hingga sangat rata. Saya sangat tersentuh. Terlebih, relawan kita juga terus membersihkan gedung rumah sakit ini. Para dokter dan perawat menganggap rumah sakit ini sebagai rumah sakit sendiri serta selalu menghargai dan menjaganya. Saya merasa sangat bersyukur.
Saat ini, kalian semua adalah murid saya dan juga murid Buddha. Kalian menghadapi kehidupan dengan hati yang tulus. Hal ini membuat saya merasa tenang. Meski saya hanya sesekali datang ke sini, setiap kali datang ke Taipei, saya merasa sangat bahagia karena RS Tzu Chi Taipei berada tepat di sebelah Aula Jing Si. Kalian hanya perlu berjalan kaki dari gedung rumah sakit ke Aula Jing Si, bagaikan kembali ke rumah sendiri. Kalian bisa berjalan kaki dari rumah sakit ke Aula Jing Si yang bagaikan rumah kita.
Ketika datang ke sini, saya merasakan bahwa kalian semua seperti datang berkumpul bersama keluarga di pagi hari. Kalian datang untuk berbagi cerita kepada saya dan membuat hati saya merasa tenang. Kalian juga menceritakannya kepada semua Bodhisatwa yang hadir di sini. Setiap jengkal tanah di tempat ini adalah hasil dari usaha sekelompok orang yang menggalang dana dengan penuh cinta kasih. Mereka juga terlibat dalam proses pembangunan. Saya merasa sangat bersyukur.
Tubuh merupakan sarana pelatihan diri untuk menolong orang yang menderita
Dokter menyembuhkan mereka yang sakit
Membangun ikrar untuk mengemban misi sebagai dokter
Bersama-sama membentangkan cinta kasih dengan kesatuan tekad
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 11 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 13 Maret 2026







Sitemap