Ceramah Master Cheng Yen: Menyerap Dharma ke Dalam Hati dan Mempraktikkan Sutra Makna Tanpa Batas
Bodhisatwa sekalian, waktu berlalu detik demi detik, menit demi menit. Tahun demi tahun terus berganti. Saya berharap bahwa meski waktu terus berjalan, kehidupan kita jangan sampai berlalu dengan sia-sia. Tentu saja, setiap orang harus menjaga tubuh dengan baik, tetapi jangan hanya sekadar menjalani hari tanpa makna. Saya yakin kalian memahami maksud saya.
Kita sering berkata bahwa setiap bertemu orang lain, semuanya harus menceritakan tentang Tzu Chi karena Tzu Chi adalah ajaran yang benar sesuai ajaran Buddha. Buddha datang ke dunia demi satu tujuan besar, yaitu terjun ke tengah masyarakat untuk membabarkan ajaran benar dan mengajarkan Jalan Bodhisatwa.
Saudara sekalian, dalam meneladan Buddha, kita juga harus mempelajari cara berpikir-Nya. Dengan begitu, barulah disebut meneladan Buddha, yaitu menuntun semua makhluk untuk menapaki Jalan Bodhisatwa. Kalian dan saya memiliki jalinan jodoh yang tak terbayangkan.
Di sini, ada banyak relawan senior yang sudah 20, 30, bahkan 40 tahun menjalankan Tzu Chi dan tetap bertahan hingga sekarang. Dapat terlihat ketekunan dan semangat setiap orang. Mereka tidak pernah bermalas-malasan serta terus melayani dengan tekun dan bersemangat. Saya merasa sangat bersyukur dan tersentuh. Rasa syukur ini begitu luas dan mendalam.

Saya selalu bersyukur atas hal yang terjadi di masa lalu. Saat ini pun kita harus terus bersyukur. Misalnya, pada Pemberkahan Akhir Tahun di Kaohsiung ini, kita memiliki Aula Jing Si yang penuh suasana khidmat. Berjalan di sekitar aula beberapa hari ini, ke mana pun saya melangkah, ada beberapa sosok yang selalu teringat dalam hati saya, terutama Bapak Du.
Pada masa itu, beliau sangat mendukung saya. Tanah ini bisa ada karena beliau yang mengajak saya datang melihat lokasi lahan ini. Saya sangat berterima kasih kepadanya karena telah mencurahkan banyak tenaga dan dana untuk membeli tanah ini. Ketika berada di sini sekarang, ke mana pun saya melangkah dan apa pun yang saya sentuh, saya selalu teringat pada beliau. Begitu banyak hal yang patut disyukuri, termasuk kehadiran para relawan senior. Tanpa adanya relawan senior, tidak mungkin ada jalinan jodoh sebaik ini.
Selama beberapa hari berada di sini, hati saya terus dipenuhi rasa syukur. Sangat sulit untuk tidak mengucap syukur. Sejak awal, insan Tzu Chi Kaohsiung selalu tekun dan bersemangat untuk menginspirasi semua makhluk, menggalang Bodhisatwa, dan menjalankan misi dengan sepenuh hati.


“Kami akan meneruskan Tzu Chi dari kehidupan ke kehidupan serta terus mengikuti jejak Master. Berkat adanya Empat Misi Tzu Chi dan Delapan Jejak Dharma, perahu cinta kasih telah berlayar ke seluruh dunia untuk membimbing semua makhluk.”
Terima kasih. Semoga semua makhluk dapat terus menaiki perahu cinta kasih. Setiap cinta kasih yang dimiliki semua orang bertujuan untuk menyeberangkan semua makhluk. Lihatlah gulungan demi gulungan itu, semuanya berisi nama para Bodhisatwa. Meski tulisannya kecil, nama-nama di sana sangatlah banyak. Saya telah melihat, mendengar, dan menyentuhnya. Tanpa kekuatan cinta kasih dari kalian semua, bagaimana mungkin saya bisa menjalankan Tzu Chi? Tzu Chi bisa terwujud berkat kekuatan kalian.
Bodhisatwa sekalian, semangat Tzu Chi bersumber dari Sutra Makna Tanpa Batas. Setiap kata yang kalian lantunkan tadi adalah inti sari dari Sutra Makna Tanpa Batas. Terima kasih. Saya sangat tersentuh. Saya berkali-kali hampir meneteskan air mata karena sangat tersentuh. Apa yang kalian tampilkan hari ini bukan hanya untuk sesaat, melainkan harus terus dijaga setiap waktu. Lantunan Himne Inti Sari Sutra Makna Tanpa Batas ini jangan sampai terputus.
Begitu pula di rumah, tak peduli berapa panjangnya, meski hanya melantunkan satu kalimat atau satu kata saja, kalian sudah menciptakan pahala. Asalkan kalian menyelami Sutra dengan tulus dan mengingat satu kalimat setiap hari, pekerjaan hari itu akan berjalan seiring kalimat itu dan itulah berkah. Saya bersyukur melihat semuanya begitu antusias dan penuh dengan ketulusan. Saya merasa sangat bersyukur dan tersentuh.


Bodhisatwa sekalian, selama bertahun-tahun Tzu Chi berdiri, wilayah Kaohsiung termasuk yang sejak awal mendekat dan mengembangkan Tzu Chi. Semua itu karena setiap orang memiliki niat dan cinta kasih. Saya berterima kasih atas ungkapan ketulusan kalian hari ini. Dharma telah menyerap ke dalam hati dan berubah menjadi inti sari kehidupan. Ketika inti sari Dharma menyerap ke dalam hati, itulah ketulusan sejati.
Hendaknya kalian melantunkan Sutra Makna Tanpa Batas setiap hari, meski hanya satu kalimat atau satu bait. Jika setiap hari kita bisa menghafal satu kalimat dan mengungkapkan sedikit bagian dari Sutra, Dharma tidak akan menjauh dari hati kita. Jika bisa demikian, ini adalah yang paling baik.
Saya berharap semua orang tidak lupa untuk memasuki pintu Dharma dan membiarkan hidup ini terus disirami oleh Dharma. Inilah yang paling saya harapkan dari insan Tzu Chi. Ketika Dharma ada di dalam hati, kita akan merasakan sukacita Dharma. Kita juga bisa membantu semua orang untuk menyelami Sutra. Begitulah cara kita menciptakan pahala. Ini juga merupakan pelatihan diri. Begitulah inti sari Dharma meresap ke dalam hati.
Berusaha mencapai kebuddhaan dengan tekun dan bersemangat
Menggalang Bodhisatwa dan menggerakkan perahu cinta kasih
Menyebarkan Sutra Makna Tanpa Batas dengan keyakinan dan pemahaman
Menyerap Dharma ke dalam hati dan mewujudkannya lewat tindakan nyata
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 25 Januari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 27 Januari 2026







Sitemap