Ceramah Master Cheng Yen: Menyosialisasikan Vegetarisme dan Melestarikan Lingkungan dengan Cinta Kasih

“Master, kami adalah muridmu yang bodoh. Meski tidak punya kepandaian, tetapi kami teguh dalam kewajiban. Selama tiga sampai empat puluh tahun ini, kami terus berada di sini. Kami tidak sampai hati melihat Master setiap hari mengkhawatirkan orang-orang yang menderita. Kami berikrar dari kehidupan ke kehidupan akan menjadi batu kecil di sisi Master. Mohon agar Master menjaga kesehatan demi para murid dan terus membimbing kami. Master, kami akan patuh dan sungguh-sungguh merekrut orang. Harap Master bertenang hati. Kami akan tekun dan bersemangat. Master, Anda harus menjaga kesehatan. Terima kasih.” Relawan senior berbagi kisah masa-masa awal dalam acara ramah-tamah insan Tzu Chi wilayah Yunlin dan Chiayi.

Ya, terima kasih. Saya harus berterima kasih atas adanya banyak orang. Kalian memiliki nama yang sama, yaitu "insan Tzu Chi". Berkat banyaknya insan Tzu Chi yang bersatu, barulah ada Tzu Chi seperti hari ini. Jejak bantuan dan sumbangsih Tzu Chi telah tersebar di lebih dari seratus negara. 

Saya sering mengatakan bahwa 55 tahun lalu, saya menyerukan agar orang-orang menyisihkan 50 sen. Semangat celengan bambu ini masih ada hingga kini. Keping demi keping uang logam dari setiap celengan bergemerincing saat terhimpun di dalam guci.

 

Saya ingat saat singgah di kantor perwakilan Tzu Chi di Dounan, begitu memasuki pintu, saya langsung melihat kerajinan tangan dari bambu. Relawan kita dengan sepenuh hati membuatnya dengan kebijaksanaan dan keterampilan tangannya. Begitu pula saat singgah di Nantou, saya melihat bunga teratai dari bambu yang bisa berputar. Para relawan amat bersungguh hati dalam membuat kerajinan tangan yang indah itu. Mereka mampu membuat berbagai kerajinan tangan besar ataupun kecil. Mereka amat bersungguh hati.

Kita juga melihat di sebuah posko daur ulang terdapat atap yang bisa dibuka atau dilipat secara elektrik. Relawanlah yang merancangnya. Baik atap yang bisa dibuka dan dilipat maupun kerajinan tangan dari bambu, semuanya amat mengagumkan. Berkat rancangan dari para relawan, terwujudlah banyak benda yang sangat mengagumkan. Sungguh, ini membuat saya merasa bahwa insan Tzu Chi sungguh memiliki kehidupan yang bernilai.

Dengan mengembangkan nilai kehidupan, kita dapat mengubah barang-barang yang tak terpakai menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ini sungguh mengagumkan. Kita tidak merasa kehidupan kita tidak berguna dan berkata, "Ah, saya sudah tua."

Para relawan yang bersumbangsih di posko daur ulang, tidak sedikit yang berusia 90-an tahun. Yang berusia 80-an tahun sangat banyak. Jadi, para relawan misi pelestarian lingkungan ini dapat mengembangkan potensi mereka dalam memanfaatkan kembali berbagai barang dengan sangat indah. Ini membuat para relawan yang berusia lanjut hidup lebih bahagia.

 

Para relawan ini berkata kepada saya, "Terima kasih Master telah mendirikan posko daur ulang. Posko daur ulang Tzu Chi membuat kami gembira." Setiap orang mengaku sangat gembira kepada saya. Mereka sehat dan bebas dari kerisauan serta dapat melestarikan lingkungan. Inilah relawan Tzu Chi. Intinya, kita saling berterima kasih.

Rasa terima kasih saya terhadap semua orang amatlah penuh. Saya katakan bahwa dalam kehidupan ini, saya tak menyesal. Namun, saya berutang budi kepada banyak orang. Saya mungkin harus membayarnya dari kehidupan ke kehidupan. Tadi saya mendengar kalian berkata ingin mengikuti saya. Dari kehidupan ke kehidupan, kita tak sampai hati terhadap semua makhluk. Kita tetap akan berjalan di Jalan Bodhisatwa.

Jalan Bodhisatwa ini akan semakin baik jika orang yang berjalan bersama kita semakin banyak. Buddha memberi tahu kita bahwa masa kemunduran Dharma ini akan terus berlanjut. Kini kita berada pada era kekeruhan. Para ilmuwan masa kini juga mengatakan hal yang sama. Pencemaran udara dan perusakan alam kini terjadi semakin cepat. Bencana alam yang terjadi juga semakin kuat dan lebih cepat dari yang diperkirakan. Kita harus memercayai hal ini. Ini karena nafsu keinginan manusia semakin besar dan semakin luas.

Manusia bergaya hidup boros dan terus membuang barang. Orang-orang membuangnya, kita memungutnya. Mereka membuang berkah, kita mengumpulkan berkah. Jadi, pelestarian lingkungan telah menjadi sebuah pendidikan. Saya menyebutnya pelajaran besar.


Pandemi kali ini sungguh parah. Saya terus mengatakan bahwa hal ini sulit dilukiskan dengan kata-kata. Saya tak dapat mengatakan kondisinya akan seberapa berat. Saya juga tak dapat mengatakan kondisi ini akan berlangsung berapa lama. Kini kita semua harus menjaga dan mengasihi diri sendiri dengan rajin mencuci tangan. Jangan pergi ke tempat yang banyak kerumunan. Saat harus berkumpul, tetap jaga jarak fisik. Kita harus mengasihi diri sendiri dan orang lain. Kita harus terus mengasihi orang lain.

Untuk mencegah bencana saat ini, kita hanya dapat berbuat baik dengan cinta kasih dan bervegetaris. Kini bencana kerap terjadi. Melihat kondisi dunia saat ini, kita harus sadar. Jangan menunggu hingga bencana datang melanda.

Kekeruhan yang ada sudah sangat tebal. Bumi ini telah dirusak. Kini kita berada pada momen krisis. Tiada waktu lagi. Kita masih terus bersikap bodoh dan tak kunjung sadar. Kini kita harus bersungguh hati dan tulus untuk bertobat karena kita telah tenggelam dalam kegelapan batin.

Nafsu mulut telah membuat kita melibatkan hewan dalam rantai makanan kita. Penyakit masuk melalui mulut. Mulut kita berkaitan erat dengan hewan dan penyakit. Kita terus mengundang penyakit dari hewan untuk masuk ke mulut kita. Ini semua tak lepas dari pola makan kita.


Hewan-hewan mengandung bakteri dan virus yang mudah untuk masuk ke dalam tubuh kita. Jadi, di satu sisi kita harus mengembangkan cinta kasih untuk menyayangi hewan, di sisi lain kita juga hendaknya menolak untuk melibatkan hewan dalam rantai makanan kita. Kita boleh menyayangi hewan, tetapi jangan memakannya. Saya berharap kita semua hendaknya menyosialisasikan, menyebarkan, dan menjalankan vegetarisme. Kita harus menyosialisasikan dan menyebarkan vegetarisme.

Kita juga harus menjalankannya. Dengan bervegetaris, kita mengonsumsi makanan yang bersih. Ini bukan tidak bisa dilakukan. Kini kita semua harus menyosialisasikan dan menjalankan vegetarisme. Kita harus bergandeng tangan dan bersatu hati untuk terus menyosialisasikannya. Jika satu kali belum berhasil, lakukan lagi usaha kedua, ketiga, dan seterusnya. Bodhisatwa sekalian, demikianlah kekuatan cinta kasih harus kita sebarkan.

Menghargai berkah dan memperpanjang usia barang lewat kerajinan tangan
Giat melestarikan lingkungan dengan batin yang jernih
Menyosialisasikan vegetarisme berlandaskan cinta kasih dan welas asih
Terus berada di Jalan Bodhisatwa karena tidak tega terhadap semua makhluk

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 02 April 2021   
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 04 April 2021
Keindahan sifat manusia terletak pada ketulusan hatinya; kemuliaan sifat manusia terletak pada kejujurannya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -