Ceramah Master Cheng Yen: Merajut Cinta Kasih dengan Tangan yang Terampil dan Bijaksana


“Gantungan ini polanya sangat rumit, pembuatannya pun manual dan sangat mendetail. Sebagai seorang laki-laki dengan tangan yang kasar, saya sempat bertanya, ‘Apa saya bisa mengerjakannya?’ Namun, saya sangat bersyukur karena sejak awal, ada 3 orang relawan yang mengajari saya dari tidak bisa sampai bisa. Selama proses ini, para relawan terus membantu mengoreksi hingga akhirnya saya bisa mengerjakan seluruhnya. Saya melihat tangan para relawan yang sudah sering membuatnya pun tetap saja ada yang tertusuk jarum,”
kata Chen Xiao-xin, relawan Tzu Chi.

“Berhubung kami menuntut hasil yang sempurna, proses pengecekan dan penyempurnaannya benar-benar melelahkan untuk semuanya. Saya melihat kesungguhan hati setiap orang. Untuk membuat 1 gantungan koin 50 sen saja bisa memakan waktu lebih dari 1 jam, bahkan ada yang sampai 2 jam,” kata Lin Pei-qi, relawan Tzu Chi.

“Saya tidak ingin mereka mengulang dari awal, jadi saya berusaha untuk memperbaikinya satu per satu hingga benar-benar sempurna agar tidak perlu dikembalikan kepada mereka dan membuat mereka kecewa. Saat memperbaiki, terkadang jarumnya tidak sengaja menusuk tangan. Namun, sekarang saya sudah lebih pintar dan menemukan cara supaya tidak mudah terluka,” pungkas Lin Pei-qi.

“Saya di sini ingin mengajak semua relawan pria membuat gantungan koin 50 sen. Banyak yang berkata bahwa gantungan ini terlihat sangat rumit dan mendetail. Namun, jika kita memiliki niat untuk belajar, ini sangatlah sederhana dan pasti bisa dikerjakan dengan baik,” kata Chen Xiao-xin, relawan Tzu Chi.

“Saya melihat tangan para relawan perempuan sering terluka karena tertusuk dan koin-koin ini sangat berat saat dipindahkan. Kita benar-benar membutuhkan relawan laki-laki untuk mengerjakannya bersama-sama. Asal ada waktu, kita pasti bisa bersama-sama menyelesaikan apa yang ingin dilakukan oleh Master,” pungkas Chen Xiao-xin.

Baik. Terima kasih atas seruan Anda. Para relawan laki-laki harus benar-benar mendengarkannya.


“Melihat begitu banyak gantungan koin 50 sen, saya baru benar-benar memahami bagaimana biji saga itu dilubangi. Meja dan kursi yang kami pakai ini dibuat dari kardus daur ulang yang tebal. Bobotnya ringan dan bisa dipindahkan kapan saja,”
kata Lin Zheng-zong, relawan Tzu Chi.

Kalian telah menggunakan kebijaksanaan dengan menghargai barang. Ini sungguh tidak mudah. Melalui tangan yang terampil, kardus-kardus ini bisa berubah menjadi permukaan meja yang sangat kokoh. Ini benar-benar hasil dari pemikiran yang cerdas dan bijaksana. Ini bukanlah hal yang mudah. Terutama untuk bagian ini, saya selalu berpikir siapa yang menggunakan bor dan bagaimana melubanginya. Tidak disangka, ternyata menggunakan alat ini.

“Setiap 3 kali mengebor, kami harus membersihkan mata bor supaya tetap bersih. Jika tidak, serbuknya akan menumpuk makin banyak. Serbuk hasil pengeboran itu kami kumpulkan, lalu dimasukkan ke dalam wadah dan dijadikan pupuk untuk menanam tanaman,” kata Zhou Hui-jun, relawan Tzu Chi.

“Saya selalu meminta mereka mengistirahatkan mata setelah bekerja 15 menit,” kata Lin Zheng-zong, relawan Tzu Chi.

Semua proses ini harus direkam supaya semua orang tahu bagaimana proses mengerjakannya.

“Saat mengebor, di dalam hati saya selalu berkata, ‘Marilah kita menjalin jodoh baik’,” ucap Zheng-zong, relawan Tzu Chi.

Ini sungguh tidak mudah. Ketika kalian semua menerima gantungan ini, hendaknya benar-benar menghargainya karena prosesnya sungguh tidak mudah. Setelah dilubangi, bahkan serbuk-serbuknya bisa dijadikan pupuk. Bayangkanlah, untuk ukuran sekecil itu, harus mengebor berapa banyak baru bisa terkumpul satu wadah pupuk? Ini sungguh luar biasa dan tidak mudah. Hanya kalian yang bisa menemukan cara ini.

Saya selalu bertanya-tanya bagaimana semua ini dibuat. Jika pakai tangan, bahannya keras; jika menggunakan mesin justru akan sangat licin. Jadi, bagaimana cara melubanginya? Ternyata, ada kebijaksanaan seperti ini.


Sekelompok relawan menghimpun kekuatan cinta kasih sehingga apa yang ingin saya berikan dapat terwujud dalam jumlah yang diharapkan dan bisa menjalin jodoh baik dengan insan Tzu Chi di seluruh dunia. Jika saya memberi hadiah lain, itu tidaklah istimewa. Saya ingin memberi sesuatu yang orang lain tidak punya dan hanya kita yang memilikinya.

Jadi, kalau mau dihitung nilainya, ini tidak ternilai. Bukan tidak berharga, melainkan tidak ternilai harganya. Bagaimana semua ini diselesaikan? Dengan mengikatnya satu demi satu hingga tangan sakit. Ini sangatlah berharga. Ini bukan hasil 1 atau 2 orang, melainkan sekelompok orang yang terdiri atas relawan laki-laki dan perempuan. Ini tidaklah mudah. Semuanya harus dikencangkan dengan tangan.

Keseluruhan hasil ini bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang, melainkan hanya bisa terwujud berkat kesungguhan hati. Kesungguhan hati dan cinta kasih bisa terlihat dari sini. Oleh karena itu, hari ini saya merasa sangat bersukacita.

“Dengan tulus hati, saya mengundang siapa pun yang ingin bergabung dalam barisan pembuat ini. Dalam proses belajar, pasti ada rasa frustrasi, tetapi kami saling menyemangati dan tidak pernah menyerah. Saat membuat gantungan koin 50 sen ini, kami selalu memutar bab ‘Pembabaran Dharma’ dari Sutra Makna Tanpa Batas. Kami bekerja sambil mendengarkan dan melantunkannya. Jadi, makin mengerjakannya, hati makin bersukacita dan merasa tenang. Kami merasa bahwa membuat gantungan koin 50 sen ini seperti tengah meminum ramuan obat yang Ajaib,” kata Huang Zhen-yi, relawan Tzu Chi.

“Saya membawanya pulang ke rumah, memakai kacamata, lalu menganyam satu per satu dengan perlahan. Di usia sekarang, saya sangat bersyukur masih memiliki kesempatan untuk belajar hal seperti ini. Saya merasa bahwa ini adalah salah satu bentuk pelatihan diri,” kata Cai Lin Yong-xu, relawan Tzu Chi.

Sangat indah.

“Terima kasih, Master.”

Kalian membuat ini untuk saya menjalin jodoh dengan semua orang di seluruh dunia.

“Saya menjalani cuci darah sebanyak 3 kali dalam seminggu. Proses itu menyita banyak waktu saya, tetapi membuat saya lebih menghargai jalinan jodoh untuk bersumbangsih. Saya berterima kasih kepada para relawan yang mengajak saya untuk terlibat dalam pembuatan gantungan koin 50 sen ini,” kata Hong Li-wen, relawan Tzu Chi.

“Kehidupan orang-orang zaman sekarang serba berkecukupan sehingga sulit merasakan bagaimana perjuangan Tzu Chi 60 tahun lalu yang dimulai dari 50 sen. Melalui tangan Master, gantungan ini bisa dibagikan kepada semua orang sehingga saat melihat 50 sen itu, mereka akan teringat bagaimana dahulu Master tidak sampai hati melihat makhluk menderita dan memimpin semua orang untuk berbuat bajik di tengah keterbatasan. Hal ini membuat saya merasa sangat terhormat,” pungkas Hong Li-wen.


Datang ke Kaohsiung membuat saya sangat bersukacita karena setiap orang memiliki hati yang sangat bernilai. Jika mau diceritakan satu per satu, waktunya tidak akan cukup. Inilah yang disebut dengan sejarah. Menurut saya, apa yang disampaikan oleh setiap orang bukan sekadar cerita, melainkan sejarah. Setiap kisah tidak lepas dari manusia. Manusia menceritakan masa lalu yang disebut dengan kisah dan kisah yang bernilai disebut dengan sejarah.

Ketika kalian kembali ke Hualien, ceritakanlah setiap sejarah kepada saya. Saya merasa sangat bersukacita karena ini bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Ini bukanlah hadiah biasa. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli di seluruh dunia dan diberikan oleh insan Tzu Chi yang tulus. Hendaknya semuanya memahami bahwa ketika saya memberikan sesuatu kepada orang lain, saya ingin mereka tahu kisah di balik itu sehingga bisa menghargainya.

Saya berharap semua orang bisa bersatu dan harmonis. Selama saya berada di sini, melihat kalian bisa saling bekerja sama seperti ini, hati saya merasa sangat tenang dan bersukacita. Saya juga selalu mendoakan diri sendiri dan berkata, "Saya sangat dipenuhi berkah karena memiliki banyak murid yang bekerja dalam kesatuan dan keharmonisan." Apa pun yang ingin saya lakukan, kalian langsung mewujudkannya. Oleh karena itu, saya berterima kasih kepada kalian semua.

Beberapa hari bepergian dari utara ke selatan, saya merasa sangat puas. Saya dipenuhi dengan sukacita. Setelah melihat semua yang ada di Kaohsiung, saya akan kembali ke Taipei, lalu pulang ke Hualien. Saya akan menceritakan keunggulan Kaohsiung kepada semua orang agar semuanya saling belajar. Saya akan menyampaikan bahwa murid yang ideal ada di sana. Di setiap tempat pasti ada murid-murid ideal saya. Saya merasa sangat bersyukur.

Merajut cinta kasih dengan tangan yang terampil dan bijaksana
Menghargai benda dengan ketulusan untuk menciptakan nilai
Mewujudkan segala hal dengan kesatuan dan keharmonisan
Bertindak nyata dengan hati Buddha dan tekad Guru

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 31 Januari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 02 Februari 2026
Dengan kasih sayang kita menghibur batin manusia yang terluka, dengan kasih sayang pula kita memulihkan luka yang dialami bumi.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -