Ceramah Master Cheng Yen: Meredam Pandemi dengan Berkah dan Cinta Kasih


Saya terus berkata bahwa pandemi kali ini mendatangkan pelajaran besar bagi kita. Pelajaran pertama yang paling penting ialah pelajaran dalam hal makan. Untuk hidup, setiap orang harus makan setiap hari. Apa yang dimakan berkaitan dengan karma yang diciptakan.

Karma apa yang diciptakan saat orang-orang mengonsumsi daging? Hewan yang tak terhitung jumlahnya mengalami penderitaan saat disembelih hanya karena mulut manusia yang terus memakan daging dan tidak mengenal rasa puas. Demikianlah karma buruk terakumulasi.

Hidup di dunia ini, seiring berjalannya waktu, ada banyak orang yang terus menciptakan dan mengakumulasi karma buruk. Ini sungguh tidak terbayangkan dan tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Namun, karma buruk ini terus terakumulasi.

Kita bisa merasakan ketakutan orang-orang di seluruh dunia terhadap pandemi dan melihat bencana yang terjadi silih berganti akibat ketidakselarasan empat unsur alam. Kita juga mendengar tentang cuaca panas ekstrem tahun ini.


“Cuaca bulan Juni dan Juli sangat panas sehingga semua orang tidak bisa bekerja. Karena suhu udara yang tinggi, semuanya menjadi sangat sulit, baik keluar rumah maupun berbelanja. Segala hal menjadi sangat sulit karena cuaca panas yang tidak tertahankan,” ujar Aram, seorang warga.

“Kami sangat lelah dan tidak bisa berdiri di bawah terik matahari. Kondisi kami sangat buruk dan tubuh kami lemas. Beberapa hari lalu, saya jatuh pingsan. Suplai listrik juga terputus karena generator listrik rusak setiap hari. Kami tidak mendapat suplai listrik,” kata Ahmed, seorang pedagang.

“Tidak diragukan lagi, ini tidak wajar. Kini suhu udara lebih tinggi 7–10 derajat Celsius dari tahun-tahun sebelumnya. Ini telah memecahkan rekor suhu tertinggi,” ujar Stakov, Petugas Prakiraan Cuaca Rusia.

Di masa mendatang, pemanasan global akan semakin parah dan manusia akan merasakan cuaca yang panas, bagai ikan dan daging yang tengah digoreng di atas kompor. Setelah kita pergi dan kembali lagi di kehidupan mendatang, kita akan merasakan cuaca yang panas, sepanas di atas kompor. Cuaca sekarang sungguh sangat panas, bahkan ada yang suhu udaranya melampaui 50 derajat Celsius.

Saat manusia terserang demam hingga suhu tubuh hampir mencapai 40 derajat Celsius, orang-orang akan berkata bahwa harus segera dilarikan ke rumah sakit. Sungguh, saat suhu tubuh terlalu tinggi, itu sangat berbahaya. Begitu pula saat suhu Bumi terlalu tinggi. Suhu yang terlalu tinggi akan membuat Bumi kekurangan air. Jadi, udara yang panas dan air yang terbatas akan membuat kehidupan manusia sangat sulit. Demikianlah yang akan terjadi di masa mendatang.
 

Berhubung banyak orang yang meninggal dunia akibat pandemi, di sebagian wilayah, petugas pemakaman sudah angkat tangan karena permakaman sudah penuh, kekurangan peti jenazah, dan sebagainya. Mereka yang meninggal dunia akibat Covid-19 bahkan tidak bisa bertemu keluarga sendiri. Saat terinfeksi, mereka harus diisolasi.

Setelah mereka meninggal dunia, keluarga mereka juga tidak bisa mendekat. Sungguh, memandang ke seluruh dunia, kondisi pandemi kali ini sungguh tidak sampai hati saya sampaikan, juga sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Saat ini, dunia ini sungguh penuh dengan kepiluan dan penderitaan.

Pada saat seperti ini, bisakah kita tidak bertekad dan berikrar untuk membina cinta kasih menyeluruh dan ketulusan? Jangan membunuh hewan lagi. Dengan mengonsumsi tanaman pangan saja, kita dapat memenuhi kebutuhan gizi dan menyucikan tubuh kita. Setelah menyucikan tubuh kita, marilah kita bersatu hati untuk bertobat dengan tulus. Hanya dengan bertobat serta membantu, mengasihi, dan bersyukur satu sama lain, barulah dunia ini bisa tenteram.

Saya terus berkata bahwa ada hal yang sangat mudah, tetapi sulit bagi orang-orang untuk melakukannya. Jadi, mengatakannya pun percuma. Namun, karena pandemi kali ini, kita tidak bisa tidak menyosialisasikan vegetarisme. Kita harus hidup berdampingan dengan semua makhluk dan mengerahkan cinta kasih tanpa batas demi memupuk berkah tanpa batas.
 

Dengan cinta kasih tanpa batas, barulah kita bisa memupuk berkah tanpa batas. Hanya berkah yang dapat meredam bencana. Ini adalah lingkaran cinta kasih. Jadi, dari berbagai cara untuk meredam bencana yang saya sampaikan, semuanya dilandasi oleh cinta kasih universal.

Kita hendaklah terus bersumbangsih tanpa pamrih dan bersyukur satu sama lain. Dengan bersatu hati, membina keharmonisan, saling mengasihi, dan bergotong royong, barulah kita dapat menghalau pandemi.

Bodhisatwa sekalian, saya berharap kalian dapat lebih memperhatikan kondisi di seluruh dunia. Dengan mengetukkan jari di layar ponsel saja, kita bisa memperoleh banyak informasi tepercaya di situs web Tzu Chi. Kita harus memperhatikan hal-hal yang terjadi di seluruh dunia. Dengan mengetahui hal-hal yang terjadi di seluruh dunia, kita bisa mengembangkan kebijaksanaan.

Mari kita berikrar untuk menapaki Jalan Bodhisatwa. Inilah arah tujuan kita dalam mempelajari Dharma. Jadi, mari kita mencari tahu tentang hal-hal yang terjadi di seluruh dunia dengan hati yang murni tanpa noda. Untuk itu, kita harus lebih bersungguh hati.

Ketamakan akan cita rasa daging membuat karma buruk terus terakumulasi
Pandemi dan ketidakselarasan empat unsur alam terjadi di seluruh dunia
Meredam pandemi dengan berkah dan cinta kasih
Semua makhluk hendaklah hidup berdampingan

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 15 Juli 2021
Sumber: Lentera Kehidupan- DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 17 Juli 2021
Dalam berhubungan dengan sesama hendaknya melepas ego, berjiwa besar, bersikap santun, saling mengalah, dan saling mengasihi.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -