Ceramah Master Cheng Yen: Meringankan Penderitaan dan Kesedihan dengan Pendampingan Penuh Cinta Kasih

Empat hari ini sungguh terasa panjang. Hati saya bagaikan jatuh ke "neraka penggiling" dan hancur lebur. Saya belum bisa menyatukannya kembali. Hingga kemarin, jenazah terakhir di terowongan yang gelap di jalur kereta Taitung baru berhasil dievakuasi. Dengan penuh rasa hormat terhadap jenazah korban kecelakaan, banyak orang yang berkumpul di sana dan melafalkan nama Buddha dengan tulus.

Insan Tzu Chi terus memberi pendampingan di sana. Kita menjaga para anggota tim penyelamat dan petugas lainnya dengan menyediakan minuman, makanan, dan barang kebutuhan lainnya. Ketua Yan dan para staf kita juga mendedikasikan diri di lokasi kecelakaan. Di sana juga ada berbagai organisasi masyarakat, anggota pemadam kebakaran, personel polisi, dan lain-lain. Kepada orang-orang yang bersumbangsih di lokasi kecelakaan, kita menyampaikan rasa terima kasih kita.

Selama beberapa hari ini, orang-orang merasakan tekanan batin yang besar. Dari lokasi kecelakaan hingga rumah duka, kita terus memberi pendampingan.


Kemarin, para bhiksuni Griya Jing Si juga pergi ke lapangan untuk memberikan dukungan spiritual bagi orang-orang dengan memakaikan kalung Buddhis dan gelang tasbih di leher dan tangan mereka. Orang-orang sedikit banyak mungkin mengalami gangguan stres pascatrauma. Para anggota Tzu Cheng dan komite kita bukan hanya bersumbangsih bagi para petugas, tetapi juga merangkul keluarga penumpang.

Saat ada yang membutuhkan, relawan kita segera merangkul dan menghibur mereka untuk meringankan tekanan batin, kesedihan, dan penderitaan mereka. Pada saat seperti inilah relawan kita mengerahkan cinta kasih mereka. Yang paling menyakitkan ialah melihat anggota keluarga terluka parah atau jenazah orang tersayang yang tak lagi utuh.

Dunia ini penuh dengan penderitaan.


Kemarin, saya terus berpikir tentang kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Lewat siaran berita, saya juga mendengar tentang seorang putri yang berbakti. Dia bekerja di Taipei. Terakhir kali kembali, dia melihat sepatu yang dikenakan ibunya sudah agak usang. Dia lalu membeli sepasang sepatu untuk ibunya dan berpesan pada ibunya untuk memakainya. Kali ini, dia kembali lagi ke sini, tetapi tidak sempat bertemu dengan ibunya. Mengenakan sepatu darinya, ibunya berkata, “Putri saya yang membelikan sepatu ini. Jadi, saya mengenakan sepatu ini ke sini.”

Kita bisa membayangkan kesedihannya. Insan Tzu Chi terus mendampinginya dan membiarkannya melampiaskan kesedihannya lewat tangisan. Kemudian, insan Tzu Chi merangkulnya. Sungguh, kini yang dibutuhkan para keluarga almarhum ialah penghiburan agar mereka dapat melampiaskan emosi mereka.


Berhubung ada jenazah korban yang sudah dipindahkan ke Taitung dan Taipei, insan Tzu Chi pun mulai memberi penghiburan dan pendampingan dari rumah ke rumah. Pada saat seperti ini, kita harus mempertimbangkan kondisi batin keluarga korban dan terus memberi pendampingan.

Kecelakaan yang terjadi seketika ini merenggut nyawa banyak orang. Tanpa merasakan penderitaan yang berkepanjangan, kesadaran mereka meninggalkan tubuh mereka dan pergi ke tempat jalinan jodoh membawa mereka. Saya berharap keluarga yang ditinggalkan dapat memahami hal ini. Sedih karena kehilangan memang sulit dihindari. Namun, mereka harus menenangkan hati dan pikiran. Agar almarhum bisa beristirahat dengan tenang, keluarga harus menenangkan hati dan pikiran.

Trauma akan pulih seiring waktu, tetapi ingatan akan bertahan lama. Ini adalah penderitaan yang sulit dihindari. Karena itulah, mereka membutuhkan pendampingan jangka panjang. Saya berharap relawan kita dapat bersungguh-sungguh mencurahkan perhatian.


Saat keluarga dapat menenangkan hati dan pikiran, barulah almarhum dapat beristirahat dengan tenang. Kita semua harus memahami hal ini. Saat ini, tim medis kita juga berada di lapangan untuk meringankan kelelahan orang-orang. Untuk menjaga kondisi mental orang-orang, tim psikiater kita juga berada di lapangan. Jadi, kita harus bersungguh hati. Saya bersyukur kepada para relawan di Hualien yang terus bersumbangsih secara bergilir. Saya sangat berterima kasih pada kalian.

Kemarin, saya juga melihat bahwa staf kita sungguh sangat lelah. Namun, gerakan kali ini dilakukan dengan sangat tertib. Kalian juga sangat kompak. Jadi, saya berterima kasih kepada para relawan dan staf kita. Sungguh, kalian bekerja sama dengan harmonis dan melakukan estafet dengan baik. Terima kasih.  

Kecelakaan yang terjadi seketika mendatangkan kesedihan dan penderitaan
Upaya penyelamatan dilakukan siang dan malam tanpa henti
Memberi pendampingan dengan cinta kasih untuk memulihkan trauma
Memberi penghiburan secara estafet dan melangkah maju bersama

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 06 April 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 08 April 2021

Orang yang memahami cinta kasih dan rasa syukur akan memiliki hubungan terbaik dengan sesamanya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -