Ceramah Master Cheng Yen: Mewarisi dan Mengembangkan Misi Tzu Chi


“Para Bodhisatwa di sini pernah berpartisipasi dalam penyaluran bantuan pascatopan Herb. Para Bodhisatwa ini telah bersumbangsih 30-an tahun. Mereka telah lebih dari 10 ribu hari menjalankan Tzu Chi. Mereka bersumbangsih dari rambut hitam hingga putih. Mereka merupakan Bodhisatwa yang tak pernah mundur,”
kata Lin Shu-e, relawan Tzu Chi.

“Tahun ini, saya telah berusia 88 tahun. Saya merasa bahwa nilai terbesar dalam hidup saya ialah dapat bertemu dengan Master dan bergabung dengan Tzu Chi. Saya mengubah cinta kasih individual menjadi cinta kasih agung untuk bersumbangsih tanpa pamrih. Contohnya, penyaluran bantuan pascatopan Herb. Saya berpartisipasi dalam berbagai aktivitas Tzu Chi. Dengan mengikuti langkah kaki Master, saya telah memperbaiki banyak tabiat buruk saya,” kata Li Yi-man, relawan Tzu Chi.

“Saya dilantik pada tahun 1989 dan menjadi ketua tim pada tahun 1991. Hingga kini, saya tidak pernah mundur. Saat itu, tim kami sangat beruntung dapat turut berpartisipasi dalam penyaluran bantuan pascatopan Herb. Saat itu, kami telah mempelajari semangat Master. Saya masih ingat pada masa-masa awal, setelah memimpin kami menyurvei kondisi bencana, Master akan duduk bersama kami di bawah pohon untuk menyantap nasi goreng kecap. Jadi, saat keluar rumah, setiap orang membawa makanan dan ransel masing-masing,” kata Yan Mei-feng, relawan Tzu Chi.

Saya sangat bersyukur dan merasa bahwa kehidupan saya sangat bernilai. Saat menginventarisasi kehidupan diri sendiri, saya mendapati bahwa mengenal begitu banyak orang juga meningkatkan nilai kehidupan saya. Sesungguhnya, berkat cinta kasih semua oranglah, barulah Tzu Chi bisa berkembang. Tentu saja, termasuk saya.

Kita memiliki jalinan jodoh yang sama. Tzu Chi telah melakukan banyak hal bagi dunia. Inilah sejarah era sekarang. Jika kita tidak menulis sejarah kita, kehidupan kita akan berlalu begitu saja. Jadi, kita harus menulis sejarah kehidupan kita. Ini akan menjadi warisan keluarga bagi anak cucu kita dan membantu mengukir kitab sejarah Tzu Chi di dunia. Inilah Sutra.

Di era sekarang, seiring berjalannya waktu, dengan bersumbangsih bagi masyarakat, maka kita adalah Bodhisatwa dunia. Ini layak untuk diabadikan. Yang diabadikan ini akan menjadi kitab sejarah Bodhisatwa. Jika tidak diabadikan, ia akan seperti burung yang terbang di langit, tidak meninggalkan jejak apa pun. Karena itu, kita harus mendokumentasikan kisah kehidupan para Bodhisatwa dunia.

Ingatlah untuk melengkapi waktu kejadian. Kapan suatu peristiwa terjadi, saat menulis artikel, kalian harus menyebutkan waktunya. Dengan adanya waktu kejadian, barulah itu bisa menjadi bukti bahwa pada tahun dan bulan tertentu, pernah terjadi peristiwa tertentu dan ada insan Tzu Chi yang bersumbangsih. Inilah tanggung jawab kita di era ini, yaitu bersumbangsih bagi dunia.


“Pada malam 31 Juli 2014, di Lingya dan Qianzhen, Kaohsiung, tepatnya pukul 11.55 malam, terjadi ledakan yang memorak-porandakan semua jalan. Menggerakkan para relawan Tzu Chi di tengah kondisi seperti ini tidaklah mudah karena mereka juga tinggal di daerah bencana dan mungkin merasa sangat khawatir. Namun, demikianlah Bodhisatwa,”
kata Su Xian, relawan Tzu Chi.

“Bodhisatwa selalu mengutamakan orang lain. Karena itu, meski kondisi lingkungan sekitar belum jelas, tetapi kepedulian mereka terhadap warga telah mengalahkan ketakutan mereka terhadap bahaya. Ini mirip dengan bab Pembabaran Dharma dari Sutra Makna Tanpa Batas. Lewat bencana, kita melihat Empat Kebenaran Mulia dan membangkitkan belas kasih. Kita membangkitkan cinta kasih dan welas asih agung untuk menolong semua makhluk yang menderita,” lanjut Su Xian.

Su Xian melanjutkan “Saat menolong mereka, kita juga menapaki Jalan Bodhisatwa dan mempelajari semangat ajaran Buddha. Tanpa air, listrik, dan gas, warga tidak dapat memasak. Karena itu, insan Tzu Chi menyediakan makanan hangat selama sebulan lebih dan mengantarkannya tiga kali dalam sehari. Dalam penyaluran bantuan darurat Tzu Chi, ini adalah pertama kalinya kita melakukan kunjungan kasih dari rumah ke rumah di seluruh daerah bencana. Seberapa luas daerah yang harus kita jangkau?”

“Master memberi tahu kami, ‘Daerah yang harus dijangkau boleh ditambah, tetapi tidak boleh dikurangi. Mulailah dari bagian luar.’ Mengapa harus memulainya dari bagian luar? Saya merasa bahwa ini demi keselamatan para relawan karena bagian luar pasti lebih aman. Yang terpenting, kita harus menenangkan hati warga. Ini terus kita lakukan sepanjang bulan Agustus. Relawan di seluruh Taiwan bergerak bersama. Dalam waktu lebih dari 30 hari, ada hampir 42 ribu relawan yang bergerak,” pungkas Su Xian.


Meski hari-hari itu telah berlalu, tetapi kesungguhan hati kita saat itu masih ada. Karena itu, catatan sejarah sangatlah penting. Kita semua harus mengingatnya. Kini, saat melihat catatan sejarah yang lengkap ini, kita juga dapat mengenang masa lalu.

Kita bisa melihat para relawan muda di Kaohsiung yang benar-benar bekerja sama dengan harmonis. Kisah demi kisah disusun dengan sangat baik. Dari sini bisa diketahui ketulusan dan kesungguhan hati kalian dalam menjalankan Tzu Chi. Saya sangat sukacita ada relawan muda yang menyusun sejarah Tzu Chi. Saya merasa sangat tenang. Meski sangat tenang, saya tetap ingin mengingatkan semua orang untuk membangkitkan tekad yang teguh.

Lihatlah, kisah-kisah yang kalian bagikan merupakan sejarah yang sangat bernilai. Kalian telah menyusunnya menjadi buku. Kita dapat mengenang apa yang telah kita lakukan dan melihat nilainya serta mewariskannya kepada generasi penerus kita. Dengan mengerahkan kekuatan cinta kasih di era sekarang, kita juga memberikan edukasi. Kisah kita bisa dijadikan warisan keluarga untuk mengedukasi anak cucu sendiri, juga bisa menjadi saksi bagi era sekarang.


Sesungguhnya, seperti yang disampaikan tadi, ada banyak sejarah yang berkaitan dengan ledakan gas di Kaohsiung. Ledakan gas itu merupakan ketidakkekalan. Saat itu, saya juga melihat, mendengar, dan merasakannya. Selama beberapa waktu itu, kita mendengar banyak tangisan yang memilukan. Apa yang telah kita lihat, janganlah kita melupakannya.

Seperti yang dikatakan dalam ajaran Buddha, ketidakkekalan bisa datang dalam sekejap. Karena itu, kita sungguh harus mawas diri. Ini hendaknya tak hanya berupa kata-kata. Kita harus benar-benar waspada. Mengenai ledakan gas ini, terkadang kita harus berbagi dengan orang-orang karena sudah terjadi sangat lama dan mungkin ada orang yang tidak mengetahuinya atau saat itu mereka belum lahir. Jadi, kita harus membahasnya kembali.

Hal yang patut disyukuri sangatlah banyak. Tanpa dedikasi para relawan senior dahulu, tidak akan ada begitu banyak relawan muda yang begitu bersungguh hati sekarang. Sungguh, tanpa para relawan senior, bagaimanapun memberikan ceramah, saya tidak mungkin bisa membagikan semua peristiwa dalam ingatan saya. Karena itu, hendaklah para relawan senior memikirkannya kembali. Jika ada kisah yang patut untuk dibagikan, segeralah berbagi dengan orang-orang. Berbagi kisah dengan orang-orang juga termasuk memberikan edukasi.

Menginventarisasi kehidupan dan menyusun kisah-kisah menjadi buku
Menelusuri sumber Dharma dengan jejak langkah keindahan dan kebajikan
Bekerja sama dengan harmonis untuk meneruskan estafet cinta kasih
Relawan senior mewariskan misi kepada relawan baru

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 16 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 18 Maret 2026
Setiap manusia pada dasarnya berhati Bodhisatwa, juga memiliki semangat dan kekuatan yang sama dengan Bodhisatwa.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -