Ceramah Master Cheng Yen: Mewariskan Ajaran Baik dari Generasi ke Generasi hingga Selamanya


Bodhisatwa sekalian, kalian seharusnya turut tersentuh seperti saya karena Tzu Chi berawal di Hualien. Di Hualien, benih-benih Tzu Chi ditanam, lalu akarnya terus menjalar ke dalam tanah dan tunasnya mulai tumbuh ke permukaan. Kini, Tzu Chi telah berusia 60 tahun. Pohon ini sudah tumbuh cukup besar. Namun, saya sangat berharap pohon besar ini dapat berbunga dan berbuah.

Saya berharap setiap pohon di setiap tempat juga dapat berbunga, berbuah, dan menghasilkan benih demi benih. Saya berharap kita semua dapat membagikan benih-benih ini kepada generasi selanjutnya. Hendaknya kalian memperhatikan pohon ini hingga tumbuh besar. Setelah menerima benih, segeralah mengembangkannya. Saya berharap dunia ini dapat menjadi hutan Bodhi. Jadi, saya sungguh berharap kalian dapat menghargai kesempatan ini.

Sepanjang hidup ini, kita sangat dipenuhi berkah sehingga memiliki jalinan jodoh untuk bertemu. Setiap insan Tzu Chi, tidak peduli kapan mulai bergabung, semuanya sangat tekun dan bersemangat dalam mengikuti perjalanan ini. Bukan hanya sekadar mengikuti, tetapi juga bertumbuh menjadi benih yang sama. Di mana pun berada, semuanya terus menggarap ladang dan menanam benih Bodhi.

Begitu banyak Bodhisatwa mengikuti saya menjalankan Tzu Chi. Selama puluhan tahun, semuanya sangat sibuk. Tidak ada yang mengatakan ingin berhenti. Kalaupun ada yang berhenti, itu karena akarnya belum tertanam kuat dan masih dangkal sehingga mundur di tengah perjalanan. Jika memikirkan hal ini, kita akan merasa bahwa mereka belum memiliki jalinan jodoh. Makhluk yang tidak berjodoh memang sulit dibimbing.

Saya berharap kelak mereka akan memiliki jalinan jodoh. Namun, hal itu bergantung pada kalian semua dan generasi penerus kalian yang harus terus mewariskan semangat ini. Ada satu hal yang selalu menjadi perhatian saya. Sebagian besar insan Tzu Chi yang mulai menjalankan Tzu Chi hingga sekarang masih bersumbangsih seorang diri.

Orang-orang yang kalian bimbing sebagian besar berasal dari luar keluarga sendiri. Bagaimana dengan anggota keluarga kalian? Kalian bisa pulang dan merenungkan sendiri, berapa banyak anggota keluarga yang telah kalian ajak? Ketika insan Tzu Chi kembali dan berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka membimbing generasi pertama, kedua, dan ketiga, melihat hal seperti ini, saya merasa sangat bersukacita.


“Master, nenek buyut saya adalah Yang Wu Bao-xiu dan nenek saya adalah Huang Yang Ru-yun. Beliau ada di sini. Keduanya merupakan insan Tzu Chi. Ibu saya juga ada di sini. Beliau adalah Huang Yun-xuan, generasi ketiga Tzu Chi. Saya, Jiang Hong-yi, generasi keempat Tzu Chi,” kata Jiang Hong-yi, relawan Tzu Chi.

Saya sangat senang melihat kalian sudah mencapai generasi keempat. (Benar, generasi keempat.) Generasi keempat harus terus melanjutkan perjalanan ini. Saat ini, tanggung jawab itu ada pada Anda.

“Saya mengemban tanggung jawab besar. Saya akan terus memikulnya,” pungkas Jiang Hong-yi.

Saya selalu mengingatkan kalian untuk menginventarisasi kehidupan. Jika kalian sudah mewariskan semangat ini, saya mengucapkan selamat kepada kalian. Bagaimanapun, Tzu Chi menjalankan berbagai kegiatan demi masyarakat. Kita dapat mengatakan bahwa Tzu Chi benar-benar mempraktikkan Jalan Bodhisatwa di dunia.

Sudah lebih dari 2 ribu tahun sejak Buddha hadir di dunia. Beliau sudah tiada selama lebih dari 2 ribu tahun, tetapi ajaran Buddha masih bertahan hingga sekarang. Hal ini karena ada orang-orang yang terus mewariskannya. Saya sering memberi tahu kalian bahwa kita perlu membawa Tzu Chi kembali pada semangat awal.


Belakangan ini, saya terus mengingatkan semua orang bahwa kita harus kembali pada semangat awal. Kita harus menjadi teladan bagi generasi berikutnya agar mereka juga dapat meneruskan perjalanan ini. Kehidupan manusia berlangsung dari kehidupan ke kehidupan. Kita harus mendidik anak-anak dan membangkitkan cinta kasih mereka. Kita perlu membantu mereka memahami Jalan Bodhisatwa yang dijalankan oleh Tzu Chi.

Saat ini, sebagian anak mungkin menganut agama yang berbeda-beda. Kita tidak perlu menentang pilihan mereka. Sebaliknya, kita harus bersungguh-sungguh menjalankan ajaran hingga mereka merasakan bahwa orang tua mereka meyakini ajaran Buddha dan memperoleh kebijaksanaan, bukan hanya percaya takhayul. Mereka juga dapat melihat bahwa segala hal yang kita lakukan itu benar sehingga tidak ada alasan untuk menyalahkan kita.

Kita perlu menjalankan praktik ini dengan baik hingga anak-anak merasa yakin dan memuji perbuatan kita meski mereka tidak menganut agama Buddha seperti kita. Ada anak yang justru makin ingin melakukan sesuatu ketika orang tuanya melarang. Jadi, kita perlu mengikuti keadaan dengan tepat.

Hendaknya kita benar-benar menjaga diri dengan baik. Dalam menjalankan ajaran Buddha di dunia, kita harus senantiasa memiliki hati yang penuh rasa syukur. Jika kita dapat membuat anak-anak merasa sukacita, memuji, dan mendukung kita dalam menjalankan kebaikan, kita juga harus berterima kasih kepada mereka. Kita perlu sering memuji putra dan menantu kita, terutama menantu perempuan. Hal ini sungguh tidak boleh dilupakan.


Ketika saya duduk di sini dan mendengarkan orang-orang dari berbagai negara yang datang untuk berbicara dengan saya, setiap keluarga memiliki kesulitannya masing-masing. Pada akhirnya, kita perlu menyesuaikan diri dan menjaga hubungan dengan anak-anak dan menantu. Namun, kita juga harus menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua dengan baik. Jika kita mampu melakukannya, keharmonisan keluarga akan makin terjaga.

Generasi kalian sekarang sudah berusia lanjut. Namun, selama tubuh masih sehat, jangan menganggap bahwa karena sudah tua, kita tidak perlu lagi berbuat apa-apa. Justru ketika usia bertambah, kita harus makin giat menghimpun kebajikan. Jadi, jangan berkata bahwa kita sudah tua. Jika belum mampu membimbing anggota keluarga sendiri, kemampuan kita untuk membimbing orang luar juga terbatas.

Jadi, biarlah orang-orang di luar sana berkata, "Semua anggota keluarganya merupakan insan Tzu Chi. Mereka hidup rukun dan bahagia." Jika kita mampu mewujudkannya, itu merupakan keberhasilan yang besar. Seluruh anggota keluarga menjadi Bodhisatwa, itulah yang terbaik.

Melindungi dunia dengan menabur benih kebajikan
Menggarap ladang berkah dengan tekun tanpa ada rasa jenuh
Melatih diri dan membimbing orang lain di Jalan Bodhisatwa
Mewariskan semangat dan membuat Tzu Chi terus berkembang

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 24 Oktober 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 26 Oktober 2026
Hadiah paling berharga di dunia yang fana ini adalah memaafkan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -