Ceramah Master Cheng Yen: Mewariskan Ikrar dan Praktik untuk Menolong Dunia
“Saya merasa kondisi tubuh saya makin lama makin baik. Dahulu, saya harus memakai tongkat, tetapi setelah sekian waktu aktif berkegiatan, saya tidak memerlukannya lagi. Saya merasa bahwa selama masih hidup, manusia harus terus bergerak. Saya sangat bersukacita. Saya akan mengerahkan seluruh tenaga untuk terus melayani hingga benar-benar tidak mampu lagi,” kata Wang Zhi-chang, relawan Tzu Chi.
“Beliau selalu ikut serta dalam berbagai kegiatan, seperti daur ulang, pelayanan konsumsi, dan kebersihan. Hal itu sangat menyentuh dan patut diteladani. Dalam pelayanan tim konsumsi, ketika melihat jumlah jam baktinya, beliau termasuk yang terbanyak di wilayah kami, bisa dikatakan peringkat satu atau dua,” kata Qiu Shu-zi, relawan Tzu Chi.
Kehidupan ini memang banyak perubahan. Hendaknya semua orang memelihara kesehatan tubuh dan pikiran dengan menjaga fisik serta batin dengan baik. Untuk menjaga batin dengan baik, kita harus terjun ke tengah masyarakat. Lingkungan yang baik akan menuntun kita untuk melakukan hal yang baik pula. Jika menghadapi kesulitan, akan ada banyak orang yang memberi semangat dan memperhatikan kita. Dengan begitu, kita pun akan terus berusaha dan memotivasi diri sendiri. Inilah kehidupan di dunia.
Memiliki semangat misi di dunia sangatlah penting. Jika memiliki jalinan jodoh untuk bertekad berbuat baik dan menolong orang lain, kita akan menjadi orang yang dipenuhi berkah dan kebijaksanaan dalam hidup. Hal yang paling saya sukai ialah mendengar, yaitu mendengarkan kisah kehidupan kalian. Pengalaman hidup yang kalian bagikan itu bagaikan kitab demi kitab yang menambah pengetahuan dan kebijaksanaan saya. Hal ini membuat saya merasakan bahwa kehidupan sejatinya adalah sebuah kitab besar.

Saudara sekalian, kekuatan cinta kasih membuat kita saling terhubung untuk bergandengan tangan menapaki Jalan Bodhisatwa. Selain diri kita sendiri yang terus berbuat baik, kita juga dapat menginspirasi orang lain untuk berbuat baik dan menumbuhkan kebijaksanaan. Inilah membina berkah dan kebijaksanaan sekaligus.
Setiap hari, hati kita terbebas dari kemelekatan. Oleh karena tidak ada kemelekatan, tidak ada hal yang membuat kita takut dan panik. Dalam kehidupan ini, sejak mendalami ajaran Buddha, saya merasa telah melangkah di jalan yang penuh sukacita.
Kita mengenal Sepuluh Bhumi Bodhisatwa. Yang pertama ialah Bhumi Sukacita. Baru memasuki tingkat pertama saja, saya sudah sangat bersukacita. Perlahan-lahan, saya pun makin mendalami seluruh ajaran Sutra Teratai. Saya merasa bahwa kehidupan di dunia ini tidak terlepas dari ajaran Sutra Teratai. Untuk menolong semua makhluk, kita tidak terlepas dari ajaran Sutra Makna Tanpa Batas.
Sutra Teratai menjelaskan prinsip-prinsip kebenaran dengan sangat jelas, sementara Sutra Makna Tanpa Batas menjelaskannya dengan sangat sederhana. Dari sana, kita mengetahui bahwa kita harus menjadi Bodhisatwa yang menolong semua makhluk.
Wakil Ketua badan misi amal Tzu Chi, Simon Shyong, melaporkan kepada saya setiap hari tentang berapa negara yang telah dijangkau di hari itu dan apa bantuan yang kita berikan. Setiap hari, semua staf terus memberikan laporan kepada saya. Jalinan jodoh dalam hidup ini sungguh tak terbayangkan.
Saya berterima kasih kepada semuanya karena kita bisa menjangkau banyak negara dan menjalin jodoh dengan negara-negara tersebut dengan membantu orang-orang kurang mampu maupun yang tertimpa bencana secara tepat waktu. Ini sungguh merupakan berkah bagi kita. Tanpa kalian, saya tidak akan mampu melakukannya dan tidak akan memiliki kekuatan untuk menciptakan berkah bagi masyarakat.


Kita bisa menciptakan berkah bagi banyak orang, itu sepenuhnya karena kekuatan kita bersama. Ketika membantu orang lain, kalian juga tengah menciptakan berkah bagi diri sendiri. Berbagai tim relawan kita bekerja sama di komunitas untuk mencurahkan perhatian kepada orang yang membutuhkan, baik jaraknya dekat maupun jauh. Jumlah penerima bantuan terus bertambah. Ketika mereka sudah mampu berdiri sendiri dengan stabil, barulah kita menghentikan bantuan.
Namun, saya merasa bahwa kita jangan sekadar melepas atau menghentikan bantuan, kita juga harus menyemangati mereka untuk turut bersumbangsih. Jadi, seumur hidup ini, saya benar-benar merasakan dukungan dari begitu banyak Bodhisatwa. Kalian semua memberikan persembahan kepada saya melalui keharmonisan dan cinta kasih.
Jika saya mendengar bahwa keluarga kalian hidup rukun, kalian mengasihi semua orang di dunia, dan membantu mereka yang kurang mampu, itu sudah merupakan persembahan terbesar bagi saya. Bukankah saya terjun ke tengah masyarakat demi hal itu? Jika hanya untuk diri sendiri, saya cukup melatih diri sendiri, mengapa harus terjun ke tengah masyarakat? Saya merasa bahwa setiap kali melakukan perjalanan, saya selalu mendapatkan begitu banyak berkah. Berkah itu adalah hasil dari kebaikan yang kalian ciptakan.
Kalian selalu berkata kepada saya, "Kami telah melakukan hal ini. Tim kami sangatlah harmonis. Kami telah terjun ke tengah masyarakat. Ketika ada keluarga yang mengalami kesulitan, kami mengadakan rapat untuk membahas bantuan yang akan diberikan." Ketika mendengar semua ini, saya merasa bahwa inilah persembahan terbesar yang membuat saya sangat bersukacita. Saya menaruh harapan besar pada semua relawan.


Usia saya sudah lanjut. Entah masih berapa kali lagi saya bisa keluar dan mendengarkan laporan seperti ini. Di Griya Jing Si, terdapat banyak bhiksuni. Belakangan ini, terkadang saya meminta mereka untuk pergi ke komunitas dan mencurahkan perhatian. Kalian yang ada di komunitas pun sangat menghormati para bhiksuni.
Mereka akan menyampaikan ajaran, tekad, dan semangat saya, serta mengajarkan bagaimana melangkah di dunia. Mereka akan saling berbagi dengan kalian dan kalian pun harus menerima serta mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh. Sebagai murid yang saya bimbing, kalian harus menjadi teladan melalui tindakan nyata agar anak cucu kalian dapat melihatnya. Mewariskan Jalan Bodhisatwa dari generasi ke generasi, inilah yang disebut mewariskan cinta kasih dalam keluarga.
Selama ini, kalian telah melakukannya. Inilah yang disebut sebagai kitab kehidupan di dunia, yaitu kitab sejarah Tzu Chi yang berisi tentang kisah nyata para relawan yang disaksikan oleh banyak orang. Inilah catatan sejarah yang benar-benar terjadi. Jadi, hendaknya kalian melanjutkannya. Sampaikanlah kepada semua orang bahwa kita harus menuliskan riwayat hidup kita sendiri. Dengan begitu, kelak kita dapat mewariskannya kepada anak cucu kita. Sejarah cinta kasih Tzu Chi ini pun dapat diteruskan.
Setiap hari, kita menjalani kehidupan seperti biasa. Untuk setiap menit yang berlalu, jika kita sungguh-sungguh bersumbangsih bagi dunia, setiap menit itu akan menjadi bagian dari sejarah. Jadi, setiap jam dalam hidup kita merupakan kontribusi bagi dunia. Akumulasi kontribusi dari masa lalu hingga sekarang bisa menjadi pelajaran besar bagi dunia.
Membina berkah dan kebijaksanaan tanpa kemelekatan
Setiap perjalanan hidup adalah bagian dari kitab sejarah
Memberikan persembahan melalui keharmonisan dan kesatuan serta terjun ke tengah masyarakat
Mewariskan ikrar dan praktik untuk menolong dunia
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 26 Februari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 28 Februari 2026







Sitemap