Ceramah Master Cheng Yen: Mewariskan Kebajikan dan Cinta Kasih demi Mewujudkan Keharmonisan Masyarakat


“Dalam interaksi antarmanusia, kita perlu menenangkan diri dan belajar mendengarkan. Jangan mencoba untuk selalu berbicara dan memaksakan orang lain mengikuti perkataan kita. Ketika semua orang dapat berinteraksi dengan tulus, barulah kita benar-benar menemukan titik keseimbangan,” ujar De Kan Shifu, Bhiksuni Griya Jing Si.

“Jika kita hanya melakukan pekerjaan tanpa mendengarkan Dharma, saat menghadapi kondisi yang sulit, akan muncul keinginan untuk meninggalkan jalan ini. Namun, ketika ajaran Master ada di hati, dalam menghadapi berbagai rintangan sekalipun, kita tidak akan mundur,” tutur Goh Ah Lian, Wakil Ketua Tzu Chi Melaka.

Bodhisatwa sekalian, urusan dalam masyarakat makin lama makin banyak. Kita harus mendengarkan pengalaman dari relawan senior yang telah menempuh perjalanan selama bertahun-tahun. Saya melihat banyak yang usianya sudah lanjut, bahkan ada yang seusia atau lebih tua dari saya. Saya selalu mengatakan bahwa setiap orang harus mencintai hidupnya sendiri dan jangan membiarkan kehidupan berlalu dengan sia-sia. Terutama ketika usia makin bertambah, pikiran harus dijaga agar tetap jernih. Bukan hanya tubuh yang harus dijaga tetap sehat, pikiran juga harus dijaga agar tetap jernih.

Hendaknya kita menggenggam jalinan jodoh untuk melindungi kehidupan dan memanfaatkan nilai kehidupan itu. Jika kita memilih beristirahat, padahal sebenarnya masih mampu bekerja, lalu hanya berpikir bahwa kita sudah tua dan menyerahkan segalanya kepada generasi muda, walaupun itu juga baik, tetapi hendaknya kita tidak berhenti. Berapa pun kekuatan yang kita miliki, lakukanlah sesuai kemampuan.


Di lingkungan masyarakat, seringlah melakukan kunjungan dan menanyakan kabar. Dengan sering keluar dan berinteraksi, hati dan pikiran kita akan tetap sehat. Jika tubuh tidak digerakkan dan pikiran dibiarkan beristirahat terlalu lama, ketika ingin digunakan kembali nanti, justru terasa berat. Lama-kelamaan, kita akan merasa bahwa diri sudah tua dan tidak mampu, hingga akhirnya terus beristirahat dan benar-benar sulit untuk bergerak.

Saudara sekalian, saya pun memegang prinsip ini. Sama seperti sekarang, meski suara saya tidak sebaik dahulu dan orang merasa usia saya sudah lanjut, saya tetap berbicara dan tidak menyerahkannya kepada generasi muda. Namun, saya berkata kepada generasi muda untuk bersiap-siap karena suatu saat mereka harus melanjutkan. Inilah kehidupan.

Saya ingin terus menyemangati para anggota komite Tzu Chi untuk terus melangkah dan jangan biarkan donatur kita berhenti. Bahkan, kita bisa menyemangati donatur untuk terlibat dalam kegiatan Tzu Chi. Kita juga bisa menyemangati tetangga sekitar untuk menjadi anggota komite. Jika bisa demikian, semangat ini dapat diwariskan dari generasi ke generasi.

Hal terpenting ialah kita harus menggenggam saat ini. Selama masih bisa bergerak, lakukanlah; selama masih bisa berjalan, teruslah melangkah.

Dengan terus menjalankan kegiatan, kita akan terus ingat dengan setiap donatur dan anggota komite Tzu Chi. Dengan terus berinteraksi, pikiran kita terus aktif untuk mengingat orang-orang tersebut dan apa saja yang telah mereka lakukan.

Kita harus menjaga pikiran agar terus aktif. Tubuh boleh menua, tetapi hati dan pikiran jangan sampai menua. Kita harus menyemangati generasi muda dan mewariskan cinta kasih di dalam keluarga. Kita harus mengingatkan semua orang bahwa berbuat baik dan berbakti tidak bisa ditunda. Dengan mewariskan cinta kasih di dalam keluarga, barulah masyarakat bisa harmonis. Jadi, Saudara sekalian, jangan lupa bahwa kita pernah berjuang.


Perjuangan itu harus diteruskan kepada generasi berikutnya. Mewariskan cinta kasih dalam keluarga adalah hal utama yang ingin saya sampaikan dalam perjalanan kali ini. Semua keluarga Tzu Chi dapat bersumbangsih bagi masyarakat dan dunia.

"Tzu" berarti cinta kasih dan welas asih agung. Kita harus menggunakan hati yang penuh welas asih agar semua orang dipenuhi cinta kasih. Belajarlah untuk bersikap lembut dan saling memuji. Ketika melihat kekurangan orang lain, kita harus mendekati mereka dengan metode terampil sehingga tercipta sikap saling mengasihi dan saling memuji. Dengan begitu, masyarakat akan harmonis.

Dengan mengenakan "jubah kelembutan dan kesabaran", hati kita tidak akan terbelenggu. Ketika melihat orang lain atau mendengarkan seseorang berbicara, kita tidak akan membuat simpul di dalam batin kita karena simpul dalam batin akan membuat kita menderita. Hendaknya kita membuka simpul di dalam batin. Jika bisa demikian, masyarakat akan damai.

Kita harus menjadikan kekosongan Dharma sebagai singgasana. Kita tidak boleh terikat oleh segala hal karena Dharma bersifat kosong. Mungkin kalian akan berkata, "Master, Anda meminta kami untuk melindungi Dharma, tetapi Anda juga berkata bahwa Dharma itu kosong. Bagaimana maksudnya?"

Saya ingin menyampaikan kepada kalian bahwa kita harus memiliki kebijaksanaan. Kita perlu memahami bahwa Dharma yang baik itu akan membawa manfaat bagi masyarakat. Itulah yang harus kita pelajari, warisi, dan terus serukan tanpa henti.

Kita perlu mengajak semua orang untuk berbuat baik dan membangkitkan cinta kasih karena permasalahan di masyarakat begitu besar. Ketika ada jalinan jodoh baik, kita harus datang untuk menasihati keluarga orang-orang agar rukun, mendorong keharmonisan antartetangga, dan membimbing masyarakat agar dapat hidup dalam kesatuan. Inilah kebahagiaan kita.


Jika masyarakat tidak harmonis dan tidak damai, bagaimana mungkin keluarga bisa stabil? Jika semua orang bisa saling mengasihi, dunia ini akan damai dan indah. Sesungguhnya, menjadikan dunia sebagai tanah suci tidaklah sulit. Pada dasarnya, dunia ini adalah tanah suci, hanya saja terganggu oleh gejolak hati manusia. Jadi, hendaknya kita bersungguh hati.

Saudara sekalian, kita hendaknya saling menyemangati dengan kekuatan cinta kasih. Waktu terus berlalu. Saat ini, kesempatan saya untuk keluar pun makin sedikit. Saya berharap kalian dapat menghargai setiap kalimat yang saya sampaikan. Kalimat mana pun yang kalian rasakan manfaatnya, lakukanlah seperti yang saya ajarkan sejak dahulu.

Saudara sekalian, kekuatan cinta kasih tidak bisa dipahami hanya dengan mendengar saja. Sesungguhnya, ketika bertindak nyata, barulah kita bisa memahami bahwa tim Tzu Chi adalah perwujudan dari cinta kasih. Hendaknya semuanya bersungguh hati. Terutama kita umat Buddha, hendaknya bekerja demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk. Inilah harapan saya dan semua umat Buddha. Ingatlah untuk terus bersungguh hati.

Menyerap Dharma ke dalam hati dan bertindak untuk mengubah kesulitan
Mundur, tetap tidak berhenti dan tetap menunjukkan potensi bajik
Mewariskan kebajikan dan cinta kasih demi mewujudkan keharmonisan masyarakat
Mewujudkan tanah suci yang harmonis di dunia

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 23 Desember 2025
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 25 Desember 2025
Berlombalah demi kebaikan di dalam kehidupan, manfaatkanlah setiap detik dengan sebaik-baiknya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -