Ceramah Master Cheng Yen: Mewariskan Keyakinan dan Ikrar serta Menyaksikan Cinta Kasih Agung


“Ayah saya adalah Fu Wei-gui dan ibu saya adalah Huang Yu-cheng. Mereka masing-masing dilantik pada tahun 2007 dan tahun 2008. Setiap kali pulang ke rumah lama kami di Shitan, yang paling saya ingat ialah melakukan daur ulang bersama orang tua saya di koridor dan mengemudikan sebuah truk kecil untuk mengumpulkan barang daur ulang dari berbagai titik di pegunungan,”
kata Xu Yu-en, relawan Tzu Chi.

“Melihat kedua orang tua saya begitu bersukacita menumbuhkan jiwa kebijaksanaan setelah bergabung dengan Tzu Chi, saya sungguh sangat terharu. Karena itu, saya berikrar untuk meneruskan jiwa kebijaksanaan orang tua saya,” lanjut Xu Yu-en.

Master pernah berikrar bahwa sebelum dunia ini tersucikan, langkah Tzu Chi tidak akan berhenti. Di sini, saya juga berikrar di hadapan Master. Sebelum dunia ini tersucikan, saya akan terus menjalankan ikrar saya. Saya akan mendedikasikan jiwa dan raga saya bagi masyarakat demi membalas budi luhur Master,” pungkas Xu Yu-en.

Melihat generasi muda membangkitkan tekad dan ikrar serta mewarisi semangat Tzu Chi, saya sangat gembira. Ingatlah bahwa Tzu Chi harus dijalankan hingga selamanya. Semangat Tzu Chi hendaknya tak hanya disebarkan di antara generasi kita, tetapi juga generasi berikutnya. Kita harus terus-menerus mewariskannya kepada anak cucu kita.

Saya yakin bahwa kalian telah bertekad, berikrar, dan berusaha untuk mengikuti langkah saya. Dari sini bisa diketahui kesungguhan hati dan keyakinan kalian yang teguh. Keyakinan adalah sumber dari segala pahala. Karena yakin terhadap saya, tindakan kalian tidak pernah menyimpang. Perbuatan baik di dunia ini hendaknya dilakukan oleh setiap orang.

Jadi, kita harus ingat bahwa di Tzu Chi, partisipasi setiap orang sangatlah berarti. Kita tulus mengutamakan kepentingan orang banyak. Dengan tulus, kita menghimpun kekuatan untuk membawa manfaat bagi orang banyak. Karena itulah, kita tidak pernah menyesal bergabung di Tzu Chi. Anak cucu kita juga akan merasa bangga memiliki orang tua atau leluhur seperti kita.

Di Tzu Chi, hendaklah semua orang bekerja sama dengan harmonis dan menghimpun kekuatan untuk bersumbangsih. Saya sangat bersyukur. Kita semua mengutamakan kepentingan orang banyak. Insan Tzu Chi di seluruh dunia selalu bersumbangsih bagi dunia.


“Peristiwa ini telah berlalu 18 tahun, tetapi saat mengenangnya, saya tetap tersentuh. Begitu bencana terjadi, saya langsung pergi ke daerah bencana. Begitu tiba, saya melihat para relawan dari Houli dan Fengyuan sudah ada di sana untuk menyediakan barang bantuan dan makanan sehingga kami dapat sepenuh hati melakukan penyelamatan,”
kata Ke Jin-fu, relawan Tzu Chi.

“Selama beberapa hari berturut-turut, mereka menyediakan makanan hangat dan memberikan penghiburan kepada keluarga korban sehingga upaya penyelamatan dapat berjalan lancar. Selama 37 tahun lebih bergabung dengan tim damkar, saya merasa bahwa asalkan ada insan Tzu Chi di daerah bencana, hati kami menjadi lebih tenang 80 persen,” pungkas Ke Jin-fu.

“Kami bersyukur atas ajaran Master. Saat tenteram, kami mengutamakan cinta kasih dan welas asih. Saat bencana terjadi, kami mengutamakan kebijaksanaan. Kami selalu menjadi sandaran tim penyelamat. Selama ini, kami selalu turut merasakan penderitaan dan kepiluan orang-orang,” kata Chen Ming-zhu, relawan Tzu Chi.

Kita harus menghargai jalinan jodoh kita di Tzu Chi. Meski saya tidak pergi ke mana pun, tetapi para insan Tzu Chi selalu berbagi pengalaman mereka dengan saya. Saya merasa bahwa kehidupan saya sangat bernilai. Meski saya tidak terjun secara langsung, tetapi asalkan kalian melakukan hal yang benar, kehidupan saya pun bernilai. Tanpa dukungan begitu banyak insan Tzu Chi, Tzu Chi tidak akan bisa berjalan sejauh ini.


“Selama lebih dari 20 tahun, Kamboja terus dilanda perang saudara. Setiap hari, warga Kamboja harus melarikan diri di tengah ketakutan. Pada bulan Juli hingga September 1994, guyuran hujan deras berkepanjangan mengakibatkan air Sungai Mekong meluap sehingga 13 provinsi dilanda banjir serius. Namun, wilayah dataran tinggi malah dilanda kekeringan. Saat itu, Tzu Chi menerima surat permintaan bantuan. Master lalu meminta Wakil Ketua Wang Duan-zheng untuk menyurvei kondisi bencana di Phnom Penh, Kamboja,”
kata Zhang Yu-yan, relawan Tzu Chi.

“Saat menyurvei kondisi bencana, kita langsung memulai upaya penyaluran bantuan. Saat itu, Khmer Merah terus melakukan pembunuhan dan penjarahan serta berpindah-pindah tempat. Karena itu, upaya penyaluran bantuan kita di Kamboja sesungguhnya penuh dengan bahaya. Saat itu, Pemerintah Kamboja menggerakkan tank untuk memastikan bahwa penyaluran bantuan kita dapat berjalan lancar. Jadi, tentara setempat digerakkan untuk melindungi kita,” kata Chen Pin-ru, relawan Tzu Chi.

Penyaluran bantuan di Kamboja ini sungguh penuh dengan kesulitan dan bahaya. Saya sering mengingatkan untuk menggenggam waktu guna mengukir sejarah Tzu Chi. Jiwa kebijaksanaan saya ada di Tzu Chi. Jika kalian tidak membagikan apa yang kalian lakukan di Tzu Chi, jiwa kebijaksanaan ini akan pudar. Kalian menjalankan Tzu Chi, juga berbagi tentang Tzu Chi.

Setiap hal yang berkaitan dengan Tzu Chi mengandung jiwa kebijaksanaan saya. Karena itu, saya sangat menghargainya. Pengalaman kalian di Kamboja pada saat itu merupakan sejarah Tzu Chi yang sangat berharga. Saya sangat berharap kalian dapat lebih sering membagikan pengalaman kalian. Jika kalian tidak membagikannya, sejarah itu akan hilang.

Ada banyak relawan di Taichung yang menggantikan saya untuk bersumbangsih di luar negeri, seperti Relawan Luo Ming-xian, Hong Wu-zheng, Yang Ming-da, dan beberapa relawan lainnya. Kalian yang benar-benar telah terjun secara langsung harus membagikan pengalaman kalian. Relawan yang lebih senior memiliki jalinan jodoh ini, tetapi relawan yang lebih muda mungkin belum memiliki jalinan jodoh seperti ini. Kalian yang memiliki jalinan jodoh hendaknya berbagi dengan mereka yang belum memiliki jalinan jodoh untuk bersumbangsih di luar negeri.


Ada banyak bencana yang terjadi di seluruh dunia. Di mana pun ada yang membutuhkan, kalian hendaknya bertekad untuk memberikan bantuan. Dengan menjangkau orang yang membutuhkan, barulah kalian bisa mengerti mengapa jiwa kebijaksanaan Tzu Chi begitu bernilai. Meski saya tidak berkunjung ke sini, kalian tetap harus berbagi pengalaman. Ini disebut mewariskan ajaran.

Kita yang lebih senior harus mewariskan semangat kita kepada yang lebih muda dari generasi ke generasi. Sumbangsih kita di luar negeri tidaklah sedikit. Namun, saya ingin mengingatkan kalian untuk tetap berbagi tentang sumbangsih kalian di Taiwan. Dengan demikian, orang-orang tidak akan mengira bahwa kita hanya bersumbangsih di luar negeri, tidak bersumbangsih di Taiwan. Kini, kita harus memberi tahu orang-orang bahwa sumbangsih kita di Taiwan juga tidak sedikit.

Saat kondisi Taiwan aman dan tenteram, kita tetap mencurahkan cinta kasih kepada orang-orang yang kekurangan dan menderita. Kita mengasihi dan menjaga mereka. Kisah-kisah ini sangatlah menyentuh. Saya hanya berharap bagaimana kita menjalankan Tzu Chi di era masing-masing dapat dicatat menjadi sejarah. Ini merupakan nilai dalam kehidupan kita. Kita harus mencatat dan menyusunnya menjadi sejarah. Inilah kitab sejarah Tzu Chi.

Meyakini tekad Guru dan mempraktikkan jalan kebajikan
Anak cucu mewarisi misi Tzu Chi dengan ikrar tak berujung
Berbagi kisah dan pengalaman serta menyaksikan cinta kasih
Menyusun kisah kehidupan menjadi sejarah dan mewariskan jiwa kebijaksanaan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 20 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 22 Maret 2026
Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tidak terhingga.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -