Ceramah Master Cheng Yen: Mewariskan Praktik dan Ikrar Bodhisatwa


“Kita harus tahu apa yang perlu dilakukan untuk umat manusia dan semua makhluk agar mereka bisa hidup dengan bahagia di sini dan pikiran mereka perlahan-lahan berubah hingga akhirnya tersucikan. Ini sangat bermanfaat bagi semua orang. Jadi, saya berharap setiap orang dapat memahami Sutra Makna Tanpa Batas dan melafalkannya,”
kata Bhante Ariyapala, Pendiri Buddha International Welfare Mission.

Kita sangat dipenuhi berkah. Sudah lebih dari dua ribu tahun sejak zaman Buddha, kita masih memiliki jalinan jodoh untuk mempelajari ajaran-Nya. Proses belajar ini adalah Jalan Bodhisatwa. Tujuan akhir seorang Bodhisatwa ialah mencapai pencerahan. Buddha disebut sebagai Yang Maha Sadar di alam semesta.

Sebelum mencapai pencerahan, dari kehidupan ke kehidupan, Buddha telah bertekad untuk mempelajari Dharma dan belajar bagaimana menuntun pikiran manusia di Dunia Saha ini menuju jalan yang benar dan mempraktikkannya dalam tindakan nyata. Inilah harapan Buddha.

Buddha berkata bahwa semua orang pada dasarnya memiliki hakikat kebuddhaan. Semua makhluk di masa depan pun setara dengan Buddha. Sekarang, lebih dari dua ribu tahun sejak zaman Buddha, kita tetap setara dengan-Nya, hanya saja pemikiran kita masih jauh berbeda. Di mana letak perbedaannya?


Saat terlahir di dunia, Buddha terus berpikir, "Semua manusia sama-sama makhluk hidup, tetapi mengapa ada begitu banyak perbedaan kelas?" Beliau merasakan bahwa warga di luar istana banyak yang hidupnya menderita. Beliau pun tidak sampai hati untuk menikmati kemewahan di dalam istana, sementara begitu banyak orang bekerja keras untuk menopang kenyamanannya.

Buddha merasa itu tidaklah adil dan mencari cara untuk menciptakan keadilan antarmanusia. Menciptakan keadilan dan kebahagiaan bagi masyarakat adalah nilai kehidupan Buddha di dunia. Oleh karena itu, Beliau memilih untuk meninggalkan keluarga dan mengejar kesetaraan bagi semua orang.

Lihatlah, di hutan pertapaan itu, banyak orang yang memiliki pemikiran serupa untuk menjauh dari noda batin dan kegelapan batin, serta mengejar pembebasan batin. Namun, jika hanya hidup di hutan pertapaan, apa yang bisa dicapai? Meski batin sendiri bebas dari penderitaan, apakah bisa mendidik lebih banyak orang?


Selain untuk diri sendiri, Buddha juga ingin terjun ke tengah banyak orang. Jangan seumur hidup hanya tinggal di hutan pertapaan dan tidak bergerak dari tempat pelatihan diri selama puluhan tahun. Pada akhirnya, napas terhenti, tubuh pun akan membusuk dan semuanya menjadi sia-sia.

Oleh karena itu, Buddha ingin mengubah cara dalam pelatihan diri agar saat masih hidup, Beliau bisa membuat setiap orang merasakan nilai kehidupan dan memahami prinsip materi. Beliau berharap selain memahami nilai kehidupan dan dari mana tubuh ini berasal, setiap orang juga bisa memahami asal-usul alam semesta. Jadi, Buddha meninggalkan hutan pertapaan dan merenung dengan tenang.

Merenung dengan tenang disebut dengan samadhi. Duduk bermeditasi dan memasuki samadhi akan memungkinkan batin menjadi tenang dan fokus sehingga ketamakan dapat dikikis. Jadi, kita harus terlebih dahulu menenangkan batin, lalu melatih keteguhan agar tidak terganggu oleh berbagai hal di luar diri, termasuk tindakan dan suara orang lain yang menimbulkan nafsu keinginan. Hati kita harus tetap teguh.

Ketika melihat orang lain memiliki hal yang baik, indah, dan keluarga yang kaya, janganlah kita membiarkan hati membangkitkan ketamakan. Kita harus membawa hati ini kembali pada keteguhan. Hati harus tenang dan teguh.


Bodhisatwa sekalian, kita sungguh beruntung karena dapat mengenal ajaran Buddha. Hendaknya kita menghargai ini dan bersungguh hati dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan ini, saya telah menjalankan Tzu Chi selama 60 tahun. Suatu hari nanti, tugas saya pasti akan selesai.

Anda dan saya memiliki jalinan jodoh. Saya tengah menunggu orang-orang yang memiliki jalinan jodoh untuk mewariskan ajaran ini, bukan sekadar menerima pelantikan, tetapi harus benar-benar kembali untuk mewariskan ajaran dan semangat Tzu Chi dari Taiwan ke negara masing-masing. Sebagai murid, kalian juga harus meneruskan misi saya. Bekerja demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk adalah misi yang diwariskan oleh guru saya. Beliau juga meneruskan tekad dan ikrar dari gurunya.

Jika ditelusuri terus ke belakang, hingga lebih dari dua ribu tahun yang lalu, titik awalnya adalah Buddha Sakyamuni. Hari ini, lebih dari 2.500 tahun kemudian, kita pun tetap berjalan mengikuti ajaran Buddha Sakyamuni yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Jadi, semangat ini tidak memiliki batas.

Bodhisatwa harus belajar untuk menyadari hakikat kebuddhaan
Melatih samadhi dan merenung dalam ketenangan
Praktik dan ikrar Tzu Chi telah genap 60 tahun
Menaati ajaran Guru dan mewariskan ajaran

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 27 Desember 2025
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 29 Desember 2025
Kehidupan masa lampau seseorang tidak perlu dipermasalahkan, yang terpenting adalah bagaimana ia menjalankan kehidupannya saat ini.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -