Ceramah Master Cheng Yen: Mewariskan Sejarah demi Membimbing Semua Makhluk


“Pada bulan Agustus tahun lalu, kami memiliki sebuah segmen di program berita malam dengan judul ‘Hari Ini dalam Sejarah’ yang merangkum rangkaian peristiwa bersejarah. Segmen ini tidak hanya memberi tahu semua orang peristiwa apa saja yang pernah terjadi, tetapi juga mengamati dari sudut pandang mikro dan makro untuk memahami makna historis dari peristiwa tersebut. Dengan demikian, kita bisa menggunakan sejarah Tzu Chi untuk mengembangkan misi pendidikan masyarakat. Ketika menelusuri sejarah, kita juga akan melihat perkembangan Empat Misi Tzu Chi yang bagaikan satu demi satu ‘kota jelmaan’,”
kata Chen Zhu-qi Juru bicara badan misi budaya humanis Tzu Chi.

Ketika menelusuri sejarah Empat Misi Tzu Chi, kita akan melihat bagaimana sepuluh tahun setelah misi amal dimulai, saya mengusulkan pembangunan rumah sakit. Setelah misi amal berjalan selama 10 tahun, didasari rasa iba terhadap kaum lansia yang menderita penyakit dan kurangnya fasilitas medis di Hualien, saya bertekad untuk membangun rumah sakit.

“Lihatlah foto bersejarah ini. Di dalam foto ini, Master dan Wakil Direktur Lin sedang melihat gambar desain konstruksi di tanah. Kita juga melihat Bhiksuni De Ci dan Bhiksuni De Xuan. Foto ini diambil pada tahun 1983, di tempat praktik pertanian Sekolah Pertanian Hualien yang sekarang menjadi lokasi RS Tzu Chi Hualien. Foto ini diambil oleh Bapak Lin Ying-ju, seorang relawan rumah sakit yang sudah meninggal,” kata Chen Zhu-qi Juru bicara badan misi budaya humanis Tzu Chi.

“Ketika Master sedang mencari lahan untuk membangun rumah sakit di Hualien, setiap hari seusai kebaktian pagi, beliau akan mengendarai mobil ke Griya Jing Si dan mengantar Master mengelilingi daerah Hualien untuk mencari lahan yang cocok. Bodhisatwa lansia ini mengambil foto ini untuk kita untuk mendokumentasikan sejarah Tzu Chi yang berharga. Ini juga merupakan konteks sejarah Tzu Chi yang penting,” lanjut kata Chen Zhu-qi.

“Dalam foto yang sama, kita melihat Master sedang menunjuk ke arah Pegunungan Tengah yang berada di kejauhan. Ekskavator sudah mulai menggali tanah. Di tengah tanah berlumpur, Master dan Wakil Direktur Lin sedang membayangkan dan merencanakan pembangunan. Di sinilah awal dimulainya misi kesehatan Tzu Chi. Ini juga mengingatkan kita untuk meninggalkan satu demi satu jejak langkah. Meski bertemu kesulitan, kita harus tetap melangkah maju,” pungkas kata Chen Zhu-qi.


Ada banyak cerita yang dapat ditelusuri, termasuk cerita tentang orang-orang yang tadi disebutkan. Jadi, untuk mewariskan sejarah Tzu Chi, kita harus mendokumentasikan kapan dan di mana peristiwa-peristiwa tersebut terjadi di Hualien.

Hualien menjadi tempat dimulainya Empat Misi Tzu Chi. Yang pertama adalah misi amal karena ada begitu banyak penderitaan di dunia. Sesungguhnya, jika tidak melihat penderitaan, kita tidak akan menyadari berkah yang kita miliki. Intinya, kita merasa menikmati hidup adalah hal yang wajar dan tidak akan membangkitkan cinta kasih yang tulus.

Banyak relawan muda yang mengatakan bahwa setelah mengunjungi orang-orang yang membutuhkan bersama para anggota komite, mereka menyadari bahwa donasi 100 dolar NT yang dikumpulkan oleh para anggota komite setiap bulannya dapat digunakan untuk melakukan banyak hal. Nilai guna dari uang 100 dolar NT ini seketika meningkat.

Jadi, saya berharap media massa sebagai bagian dari misi budaya humanis dapat menunjukkan wujud penderitaan kepada semua orang agar orang-orang dapat melihat penderitaan, mengetahui bagaimana penderitaan itu bermula, bagaimana kita menemukan mereka yang menderita, dan bagaimana kita membantu mereka.

Melalui cerita-cerita ini, ada banyak prinsip kebenaran yang dapat digunakan sebagai materi pembelajaran. Kita dapat memetik pelajaran sambil membantu orang lain. Dengan melangkah ke luar, kita baru bisa bersumbangsih. Dengan kerelaan dan keseimbangan batin, kita baru bisa membantu orang lain. Kita juga perlahan-lahan dapat membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan dan tetap merasa sukacita. Inilah perubahan pada pola pikir kita.

Awalnya, kita mungkin mengharapkan sesuatu sebagai imbalan. Namun, kita telah menentukan arah yang jelas dan berdedikasi dengan sepenuh hati sehingga kita dapat mengesampingkan ego kita sendiri. Ini bukan berarti lupa diri atau lengah. Sebaliknya, kita justru lebih bersemangat dalam mendengar, merenungkan, dan mempraktikkan Dharma.


Saat mendengarkan Dharma, kita harus merenungkan kebenaran yang ada di dalamnya. Setelah mendengar dan merenungkannya, kita harus mempraktikkannya. Dalam berbagai pertemuan, kita senantiasa mendengarkan, merenungkan, dan mempraktikkan Dharma. Untuk mempraktikkan Dharma, kita harus melangkah dengan mantap. Itulah yang disebut Jalan Bodhisatwa.

Ketika menapaki Jalan Bodhisatwa dengan cinta kasih berkesadaran, kita dapat memahami penderitaan di dunia, ketidakkekalan, dan lain-lain sehingga dapat memantapkan hati untuk berjalan di jalan ini. Jadi, inilah yang disebut cinta kasih berkesadaran. Dengan membangkitkan cinta kasih berkesadaran, kita dapat menapaki jalan ini tanpa menyimpang. Daripada hanya duduk dan berdoa untuk apa yang kita inginkan, kita seharusnya bersumbangsih dengan sukarela.

Saya selalu menyebut insan Tzu Chi sebagai Bodhisatwa untuk menyemangati mereka agar menjadi Bodhisatwa. Kita harus senantiasa memperlakukan orang lain dengan penuh rasa syukur, rasa hormat, dan cinta kasih. Saya sering mengucapkan terima kasih sebagai cara menjalin jodoh dengan orang lain.

Ketika ada orang yang memberikan donasi atau bersedia bekerja sama dengan kita, kita harus memberikan pujian dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Inilah cara kita menjalin jodoh baik dengan orang lain dan membimbing mereka ke jalan yang benar. Kita mendampingi mereka berjalan di jalan ini atas dasar semangat welas asih Bodhisatwa.

Dalam perjalanan ini, kita semua dapat menjadi saksi karena kita juga mengambil bagian di dalamnya. Yang dimaksud "kita" bukan hanya diri sendiri, melainkan juga Anda, dia, dan semua orang. Ketika teringat apa yang Tzu Chi lakukan, kita dapat menceritakannya dan orang lain dapat menjadi saksi bagi kita.


Kita juga dapat berbagi tentang apa yang pernah orang lain lakukan di Tzu Chi dan menjadi saksi bagi mereka. Dengan demikian, mereka juga dapat bersaksi, "Benar, saat itu saya melakukan itu. Bukan hanya itu, saya juga melakukan hal lain." Mereka dapat menginventarisasi nilai kehidupan mereka dan berbagi kisah. Jadi, kita jangan merasa direpotkan dan janganlah kita berpikir bahwa merekam jejak sejarah adalah suatu hal yang tidak bermakna. Kita tidak boleh berpikir seperti itu. Inilah yang disebut membalas budi.

Saya hanya memiliki satu harapan. Adanya Tzu Chi hari ini adalah berkat perjuangan para relawan senior. Tidak peduli apakah mereka pernah berbagi cerita atau tidak, asalkan berinteraksi dengan mereka, kita pasti dapat menggali kisah inspiratif.

Rekan-rekan Da Ai TV sekalian, harap kalian dapat mengemban tanggung jawab untuk merekam sejarah kita. Daripada menulis cerita-cerita fiktif, kita dapat merekam sejarah berharga yang dapat terus diwariskan. Seperti Sima Qian yang menulis Catatan Sejarawan Agung yang berarti bagi peradaban, dibutuhkan adanya orang yang merekam sejarah masa kini. Jadi, saya benar-benar berharap kalian semua dapat melakukan hal ini dengan baik.

Kemajuan teknologi zaman sekarang dapat membantu kita merekam banyak hal dalam bentuk tulisan, suara, dan gambar. Jadi, kita harus bersungguh hati. Saya benar-benar berterima kasih atas kesungguhan hati kalian semua. 

Cinta kasih terhimpun bagai tetesan air seiring waktu
Banyak insan berhati mulia memperoleh kesadaran lewat bersumbangsih
Bersyukur dan memberikan pujian atas keberhasilan orang lain
Mewariskan sejarah demi membimbing semua makhluk

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 27 Maret 2024
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet
Ditayangkan Tanggal 29 Maret 2024 
Tanamkan rasa syukur pada anak-anak sejak kecil, setelah dewasa ia akan tahu bersumbangsih bagi masyarakat.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -