Ceramah Master Cheng Yen: Mewujudkan Keharmonisan Antaragama dengan Cinta Kasih Berkesadaran


“Bersyukur, teman-teman semua walaupun dia agamanya beda tapi baik sama saya. Saya berterima kasih bener, Masya Allah, sama semakin cinta pada Yayasan Tzu Chi, semakin ingin mengabdi sampai akhir hayat. Biarlah saya tidak punya seperti orang-orang, saya cuma punya tenaga,”
kata Rio Rita, relawan Tzu Chi Indonesia.

“Kita menghormati, menghargai. Walaupun kita belum pernah bertemu, mungkin bertemu atau tidak, saya enggak masalah sih yang penting ajaran dia istilahnya saya anut lah ya, ya dia baik kok, menuju kebaikan,” pungkas Rio Rita.

Lihatlah, orang-orang tidak harus berpindah agama untuk menjadi insan Tzu Chi. Namun, kita harus berpegang pada semangat Tzu Chi yang sama. Kita harus bersungguh hati untuk belajar menjadi Manusia dengan cinta kasih berkesadaran juga disebut Bodhisatwa. Bodhisatwa adalah makhluk berkesadaran. Hendaklah semua orang memahami kebenaran ini.

Kita menyatakan berlindung kepada Buddha. Buddha merupakan Yang Maha Sadar Di Alam Semesta. Beliau datang ke dunia demi membimbing semua makhluk. Demi membimbing semua makhluk, Beliau harus mencari cara untuk menjelaskan prinsip kebenaran yang sangat mendalam. Berhubung prinsip kebenaran sangat mendalam, Beliau harus menginspirasi orang-orang untuk bersungguh hati memahaminya.


Buddha membabarkan Dharma di dunia pada lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Siapakah yang menyebarkan Dharma? Para anggota Sangha. Sejak zaman dahulu, tanpa para anggota Sangha, Dharma tidak akan bisa tersebar di dunia. Setelah mencapai pencerahan, Buddha mulai memikirkan bagaimana cara menyebarkan Dharma. Beliau pun teringat akan lima orang yang mengikutinya.

Setelah Pangeran Siddhartha meninggalkan istana, ayahandanya mengutus lima anak muda untuk membujuknya kembali ke istana. Namun, beliau tidak ingin kembali ke istana, melainkan terus mencari kebenaran. Lima orang tersebut juga tidak berani kembali ke istana. Mereka juga mengikuti Pangeran Siddhartha saat bertapa.

Kemudian, Pangeran Siddhartha merasa bahwa bertapa seperti itu tidaklah tepat. Karena itu, beliau pun mencari jalannya sendiri. Beliau lalu melatih diri dengan tenang hingga suatu hari, sebelum fajar menyingsing, beliau perlahan-lahan membuka mata, menatap ufuk timur, dan melihat sebuah bintang yang sangat cemerlang. Cahaya batinnya bertemu dengan cahaya bintang dan seketika itu pula, beliau tercerahkan dan memahami seluruh prinsip kebenaran alam semesta. Pada momen itu, batinnya memancarkan kecemerlangan dan beliau mencapai kebuddhaan. Inilah permulaannya.

Untuk menyebarkan Dharma di dunia, Buddha membabarkan Empat Kebenaran Mulia serta fase terbentuk, berlangsung, rusak, hancur; lahir, tua, sakit, mati; dan timbul, berlangsung, berubah, lenyap yang dialami oleh pikiran, tubuh, dan materi. Inilah empat fase perubahan dari tiga fenomena.


Lihatlah mikrofon ini. Untuk membuat mikrofon, dibutuhkan banyak kabel dan suku cadang yang sangat kecil. Menyatukan semua suku cadang untuk membuat sebuah mikrofon membutuhkan proses yang sangat rumit. Selain itu, juga butuh dukungan pengeras suara di sekitar agar suara saya saat memberikan ceramah dapat terdengar di setiap sudut ruangan ini. Dengan teknologi sekarang, suara saya juga bisa tersebar ke seluruh dunia dan didengar oleh banyak orang pada waktu yang sama. Jadi, kemajuan teknologi telah mendukung penyebaran prinsip kebenaran.

Kita terlebih harus yakin terhadap kebijaksanaan Buddha. Tanpa kebijaksanaan Buddha, kita tidak akan bisa mempersembahkan Dharma yang begitu menyeluruh di hadapan orang-orang, juga tidak bisa menyebarkan semangat Buddha dengan begitu efektif untuk membawa manfaat bagi orang-orang. Kita sungguh dipenuhi berkah.

Setiap orang berkaitan dengan pembentukan segala materi di dunia ini. Orang-orang merusak bumi dengan menebang pohon, lalu mengirimnya ke tempat lain. Pikirkanlah hal ini baik-baik. Manusia selalu menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menguras sumber daya alam. Ini juga menimbulkan kerusakan alam. Kini, bisakah kita tidak membalas kebaikan alam? Setelah memperoleh manfaat dari sumber daya alam, bisakah kita tidak membalas budi?

Jadi, dalam menghadapi segala hal dan materi di dunia ini, kita harus selalu ingat untuk membalas kebaikan alam. Kita harus membalas kebaikan semua orang, hal, dan materi. Sulit untuk membalas budi luhur orang tua dan sulit untuk membalas kebaikan sumber daya alam. Sumber daya alam yang harus kita balas kebaikannya sungguh tidak habis untuk diceritakan.


Selain itu, juga ada prinsip kebenaran yang tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba, dan kosong. Saya bisa membabarkan banyak Dharma dan mendeskripsikan kedalamannya. Namun, ia tidak bisa diraba. Inilah prinsip kebenaran, tidak berwujud, tetapi fungsi dan manfaatnya sangat besar. Kalian harus mendengarnya dengan jelas dan menyerapnya ke dalam hati.

Saya telah menguras pikiran untuk menjelaskan dengan perumpamaan. Karena itulah, saya sering menggunakan perumpamaan. Perumpamaan ini mengandung Dharma sejati. Jika langsung membahas prinsip kebenaran, banyak orang yang tidak memahaminya. Karena itulah, saya menggunakan berbagai perumpamaan untuk menjelaskan prinsip kebenaran agar orang-orang dapat memahaminya. Apakah prinsip kebenaran itu ada? Ada. Akan tetapi, ia tidak bisa dilihat ataupun diraba.

Saat saya bertanya apakah orang-orang mengerti, mereka menjawab, "Mengerti." Saat saya bertanya akankah orang-orang mengingatnya, mereka menjawab, "Ya." Saya tidak tahu apakah mereka benar-benar ingat karena saya tidak bisa melihatnya. Saya hanya mendengar jawaban "ya". Saya sendiri tidak bisa melihatnya. Namun, saya berharap kalian tidak membiarkan Dharma bocor. Jika kata-kata saya benar-benar kalian praktikkan, itu baru bermanfaat bagi dunia.

Saya sungguh bersyukur. Apa yang saya lakukan sekarang ialah membabarkan Dharma. Mari kita menghormati segala sesuatu. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan, semuanya merupakan Dharma.

Mewujudkan keharmonisan antaragama dan membimbing semua makhluk
Menjadi makhluk berkesadaran yang memahami prinsip kebenaran
Mengembangkan welas asih dan kebijaksanaan untuk menyebarkan Dharma dengan teknologi
Menjalankan ajaran dan tiga latihan tanpa celah

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 07 Februari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 09 Februari 2026
Benih yang kita tebar sendiri, hasilnya pasti akan kita tuai sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -