Ceramah Master Cheng Yen: Mewujudkan Ketenteraman Dunia dengan Cinta Kasih


Kita bisa melihat Pastor Zucchi, relawan Tzu Chi di Haiti. Kita mengirimkan beras ke sana dan relawan setempat membagikannya. Pastor Zucchi berkata pada penerima bantuan, "Kita harus menghargai beras. Kita juga harus saling mengasihi. Beras ini berasal dari Taiwan. Kita harus senantiasa bersyukur dan menginspirasi orang-orang untuk saling membantu dan mengasihi."

“Kami membagikan semua beras yang diterima kepada keluarga kurang mampu. Kami terlebih dahulu menyiapkan surat pemberitahuan pembagian bantuan, lalu membagikannya kepada keluarga yang membutuhkan. Kali ini, setiap keluarga dapat memperoleh dua karung beras. Mereka sangat membutuhkan beras-beras ini agar tidak kelaparan,” kata Pastor Zucchi relawan Tzu Chi.

“Semoga Tuhan memberkati Tzu Chi agar relawan Tzu Chi bisa sering datang ke sini untuk membantu warga di sini. Saya khawatir jika kalian tidak datang, kami akan kehabisan makanan. Saya sangat gembira bisa menerima beras hari ini. Setelah pulang ke rumah, saya akan berbagi dengan tetangga saya,” kata Myrlande Duval warga.

Lihatlah, mereka juga bisa berbagi dengan sesama. Berhubung tidak mudah untuk memperoleh beras, mereka dipenuhi rasa syukur saat menerima beras. Meski warga setempat menganut agama Kristen Protestan, Katolik, ataupun agama lainnya, mereka tetap bersyukur atas cinta kasih dan bantuan dari organisasi Buddhis yang jauh dari Haiti.

 

Kita juga melihat di Sierra Leone, Afrika, terjadi kebakaran di kawasan kumuh yang menghanguskan ribuan unit rumah bulan lalu. Dalam rapat dengan tim bantuan bencana internasional Tzu Chi AS, saya menyarankan untuk memberikan bantuan dengan bekerja sama dengan organisasi Kristen Protestan dan Katolik setempat. Yang paling mendesak ialah penyediaan makanan. Saya juga bersyukur kini relawan Tzu Chi AS tengah berdiskusi dengan Pemerintah Sierra Leone untuk mendirikan rumah bagi korban kebakaran.

Sekelompok relawan kita telah menunjukkan rumah contohnya pada saya. Mereka berkata bahwa mereka ingin mendirikan rumah seperti itu bagi para korban kebakaran. Rumah itu sangat kukuh dan bisa bertahan hingga puluhan tahun. Namun, kita membutuhkan pemerintah setempat untuk menyediakan lahan agar kita dapat membangun rumah bagi mereka dan memulihkan sendi kehidupan mereka. Dengan adanya lahan, tata kota dapat diperbaiki. Warga setempat juga dapat memulai usaha kecil dan membangun sebuah pasar. Kondisi di Sierra Leone mungkin akan membaik jika insan Tzu Chi di seluruh dunia dapat bekerja sama untuk merencanakan bantuan bagi mereka.

Kita sudah memiliki pengalaman seperti ini saat Ormoc, Filipina diterjang Topan Haiyan. Saat itu, wali kota Ormoc menyediakan lahan sekitar 50 hektare sehingga Tzu Chi dapat mendirikan Perumahan Cinta Kasih di sana. Awalnya, perumahan itu didirikan untuk ditempati oleh mereka selama tiga tahun. Namun, tahun ini sudah hampir tujuh tahun berlalu dan perumahan tersebut masih dalam kondisi baik. Para penghuni juga hidup tenteram dan bahagia. Ini berkat kesungguhan hati dan himpunan cinta kasih banyak orang.

 

Saya masih ingat pascatopan tahun 2009, Tzu Chi mendirikan beberapa perumahan di Kaohsiung dan Pingtung. Perumahan di Shanlin adalah yang terbesar. Itu merupakan rumah permanen. Kita membangun rumah dari besi beton dan semen agar dapat ditempati selama lima generasi atau sekitar seratus tahun. Jadi, kita memberikan bantuan dengan kualitas terbaik. Di perumahan itu, kita juga mendirikan gereja.

Lihat, inilah cinta kasih Tzu Chi yang utuh. Sebagai Bodhisatwa dunia, kita bersumbangsih dengan cinta kasih tanpa membeda-bedakan agama. Kita memberikan bantuan secara menyeluruh. Inilah bantuan yang kita berikan di Taiwan. Kita juga berharap dapat memberikan bantuan yang sama di negara yang jauh. Baik di Sierra Leone, Haiti, maupun Amerika Tengah dan Selatan yang lebih jauh lagi, kita sangat berharap dapat menolong orang-orang agar hidup tenteram dan bahagia serta memperbaiki kehidupan mereka. Demikianlah Bodhisatwa dunia yang juga disebut makhluk berkesadaran.

Kita memperluas cinta kasih dan memperpanjang jalinan kasih sayang tanpa membeda-bedakan agama. Kita mendedikasikan diri tanpa pamrih untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan. Kita tidak mengejar kedamaian dan kebahagiaan pribadi. Asalkan melihat semua makhluk hidup tenteram dan bahagia, itulah balasan terbaik bagi kita. Dunia aman dan tenteram adalah balasan terbaik bagi kita.


Bodhisatwa sekalian, saya ingin bersyukur kepada kalian. Menilik jejak langkah kita puluhan tahun ini, kita telah menolong banyak orang sehingga mereka bisa hidup tenteram dan bahagia. Untuk orang-orang yang tengah kita bantu, kita juga berharap mulai sekarang, mereka dapat hidup tenteram.

Bodhisatwa sekalian, Dharma tidak bisa disebarkan dengan kata-kata saja. Kita harus mengajak lebih banyak orang untuk meneruskan estafet cinta kasih. Kita bisa melihat bahwa estafet cinta kasih ini tidak terputus.

Belakangan ini, saya berkata bahwa kita harus bersungguh hati bersumbangsih. Waktu terus berlalu. Sudah lebih dari 50 tahun berlalu sejak saya mendirikan Tzu Chi. Seiring berlalunya waktu, apa yang kita lakukan dahulu telah menjadi masa lalu. Saya berharap kelak, generasi muda juga dapat meneruskan estafet cinta kasih dan meneguhkan cinta kasih ini agar orang-orang yang menderita dapat bangkit kembali dan turut bersumbangsih. Dengan demikian, dunia akan aman dan tenteram.

Menilik jejak Bodhisatwa di dunia
Menghimpun cinta kasih tanpa membeda-bedakan kewarganegaraan
Memberikan bantuan tempat tinggal dan memperbaiki kehidupan korban bencana
Meneruskan estafet cinta kasih dari generasi ke generasi

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 28 April 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia, Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 30 April 2021
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -