Ceramah Master Cheng Yen: Mewujudkan Nilai Kehidupan dengan Mengerahkan Potensi Kebajikan


“Saat bergabung di Tzu Chi, saya masuk ke TIMA Taiwan Utara. Setelah hampir 10 tahun bergabung di TIMA, barulah saya mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan Tzu Cheng di Sanxia. Setelah dilantik menjadi anggota Tzu Cheng, Dharma benar-benar menyerap di hati saya,”
kata Chen Zhen-fang, Dokter TIMA.

“Saat pertama kali kembali ke Griya Jing Si untuk mengikuti pelatihan mencari akar Tzu Chi dan menyatakan berguru kepada Master, saya terus-menerus mendengar Master dan para bhiksuni Griya Jing Si berkata bahwa jumlah Bodhisatwa baru yang membangun tekad makin berkurang dari tahun ke tahun. Kekhawatiran itu bagaikan api yang terus berkobar di hati saya. Jadi, saya mulai melepaskan rasa malu dan keraguan yang sebelumnya membuat saya tidak berani berbicara. Saya terus berusaha dengan sepenuh hati dan kesabaran,” lanjut Chen Zhen-fang.

“Setiap kali ada kesempatan, saya akan membagikan tentang apa yang saya lihat, alami, dan rasakan di Tzu Chi. Saya tidak ingin melewatkan satu pun kesempatan dengan orang-orang yang memiliki jalinan jodoh dengan saya dan Tzu Chi. Mereka mungkin akan menjadi benih Tzu Chi dan Bodhisatwa baru. Saya berharap dapat membimbing mereka untuk bergabung di Tzu Chi dan terus bertumbuh di ladang pelatihan Tzu Chi dari hari ke hari,” ungkap Chen Zhen-fang.

“Saya merasa bahwa kontribusi yang bisa saya berikan tidaklah banyak, tetapi setidaknya saya berharap dapat membantu meringankan kekhawatiran Master dan para bhiksuni. Inilah sumber keberanian saya. Dari yang awalnya tidak berani, menjadi berani untuk bersuara dan menginspirasi orang lain. Dalam beberapa tahun terakhir, hasil yang saya capai ialah berhasil mengajak 10 orang untuk bergabung di Tzu Chi,” pungkas Chen Zhen-fang.

Dokter dan Bodhisatwa sekalian, saya merasa sangat tersentuh dan bersyukur. Semuanya telah menunjukkan dedikasi di Tzu Chi dengan cinta kasih yang tulus. Cinta kasih, dedikasi, dan sumbangsih kalian kepada Tzu Chi benar-benar sulit diungkapkan dengan tulisan maupun ucapan. Namun, semuanya telah tersampaikan tanpa perlu banyak kata. Ini membuat saya sangat tersentuh.


Bodhisatwa TIMA sekalian, saya sungguh berterima kasih atas kegiatan baksos kesehatan yang kalian lakukan. Oleh karena banyaknya kebutuhan di berbagai daerah, TIMA pun perlahan berkembang, terutama dalam menyelenggarakan baksos kesehatan hingga ke pulau-pulau. Saya sangat berterima kasih kepada misi kesehatan dan para dokter.

Saya mendirikan TIMA dengan tujuan untuk menolong dan merawat masyarakat. Misi seorang dokter ialah menjaga kehidupan manusia. Apa sebenarnya misi kita? Misi saya ialah Tzu Chi. Saat ini, saya sangat berharap, baik dalam misi kesehatan, misi pendidikan, misi budaya humanis, dan lainnya, semua ini menjadi tekad dan ikrar setiap insan Tzu Chi.

Hendaknya setiap orang menjalankan ikrar dan tekad dengan sungguh-sungguh. Inilah yang disebut dengan menginventarisasi jiwa kebijaksanaan. Ketika memilih menjadi dokter, Anda harus benar-benar merenungkan tentang dokter seperti apa yang Anda inginkan dan apakah itu sebuah profesi atau panggilan hidup. Jika hanya profesi, maka bekerja saat waktunya masuk dan pulang saat waktunya selesai, serta hanya merawat pasien di rumah sakit. Itu hanyalah menjalankan tanggung jawab dasar. Namun, itu saja tidaklah cukup.

Sebagai seorang dokter, tanggung jawab terhadap kehidupan itu berlangsung tanpa henti, baik siang dan malam. Melindungi kehidupan dan kesehatan dengan cinta kasih adalah hal yang harus dipegang teguh. Menjadi seorang dokter berarti harus mampu mengemban hal-hal tersebut. Inilah yang disebut dengan dokter yang baik. Seorang dokter yang baik bagaikan Buddha hidup yang melindungi kehidupan manusia. Dalam kehidupan ini, hal paling berharga ialah kehidupan itu sendiri. Nilai seorang dokter terletak pada kemampuannya dalam menjaga kehidupan, sekaligus mampu menenangkan dan menghibur batin pasien.


Saya merasa sangat bersyukur. Sepanjang hidup ini, saya dipenuhi berkah dan memiliki jalinan jodoh yang baik. Saya dipenuhi berkah karena mendapatkan dukungan dari banyak orang dan memiliki jalinan jodoh untuk bertemu kalian. Setiap kali bertemu, kalian pun sangat menghormati saya. Saya merasa sangat puas dan bersyukur. Meski usia saya sudah lanjut, saya tetap merasa bahwa selama hidup di dunia ini, saya harus menjaga kehidupan ini dengan penuh sukacita.

Selama saya masih hidup dan masih mampu berkontribusi bagi Tzu Chi, baik di Taiwan maupun di dunia internasional, saya akan menjalankan tanggung jawab sepenuhnya. Saya percaya bahwa setiap orang harus selalu menginventarisasi kehidupan. Setiap hari memiliki tanggung jawabnya masing-masing dan tanggung jawab itu harus kita ingat. Jangan hanya berpikir untuk menguntungkan diri sendiri. Itu justru akan membawa penderitaan. Jika dalam hidup ini kita dapat membawa manfaat bagi banyak orang, setiap hari akan dipenuhi dengan sukacita.

Bersumbangsih bagi masyarakat merupakan tanggung jawab yang dapat kita wujudkan di dunia. Ketika kita dapat mengemban tanggung jawab dunia, itulah yang disebut dengan nilai kehidupan. Saya sering mengatakan bahwa hendaknya semuanya Melindungi kehidupan dan kesehatan dengan cinta kasih, serta menginventarisasi kehidupan. Kedua hal ini sering saya bicarakan. Jika kita sudah melakukan hal yang bernilai, renungkanlah seberapa besar nilai tersebut Ketika kita melakukan suatu hal bagi dunia, apakah itu sudah cukup? Jika merasa belum cukup, hendaknya kita memanfaatkan waktu dengan lebih baik untuk bersumbangsih bagi banyak orang. Namun, kita juga harus menjaga kesehatan diri sendiri.

Jadi, saudara sekalian, ketika merawat orang lain, jangan lupa untuk merawat diri sendiri. Bukan hanya tubuh, tetapi juga hati dan pikiran. Dokter sekalian, masih banyak kehidupan yang menanti kalian untuk dijaga. Bukan hanya memberikan obat secara fisik untuk diminum, tetapi juga obat untuk batin. Saat ini, penyakit batin lebih banyak daripada penyakit fisik. Jadi, dokter yang baik bukan hanya mengobati penyakit, melainkan juga mencegah sebelum penyakit itu muncul. Hendaknya para dokter bersungguh-sungguh dalam merawat setiap pasien.


“Dua tahun lalu, saya bergabung di TIMA dan mulai ikut baksos kesehatan di daerah terpencil. Selain itu, di berbagai Aula Jing Si dan kantor perwakilan, saya melakukan pemeriksaan kesehatan digital bagi relawan lansia. Dalam kegiatan tersebut, saya juga memberikan edukasi tentang pola makan sehat dan pentingnya olahraga teratur,”
kata Su Bo-cheng, Dokter TIMA.

“Saya juga menyampaikan bagaimana menjalani penuaan yang sehat serta cara mencegah disabilitas dan demensia. Menjadi tua yang sehat, baik diri sendiri maupun keluarga bukan hanya sebuah kebajikan, melainkan juga sebuah tanggung jawab. Melalui pola makan sehat dan olahraga teratur, selama kita mampu menjalaninya, meski usia sudah lanjut, kita tidak akan menjadi beban bagi keluarga maupun masyarakat. Bahkan, kita masih bisa bergerak dengan leluasa dan terus memberi manfaat bagi orang lain,” pungkas Su Bo-cheng.

Kalian harus selalu ingat apa yang sering saya katakan, "Menjadi dokter bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah panggilan hidup." Ketika kalian memilih menjadi perawat, itu disebut sebagai sebuah tekad. Demikian pula ketika memilih menjadi dokter, itu juga merupakan sebuah tekad.

Bertekad menjadi seorang dokter sama seperti ikrar Bodhisatwa Avalokitesvara dalam mendengar penderitaan dan menolong semua makhluk. Kita harus memiliki tekad dan ikrar ini dalam menjalani kehidupan. Selama ada manusia, pasti ada penyakit. Jadi, pasien sangat membutuhkan kalian. Baik penyakit fisik maupun batin, semuanya memerlukan dokter untuk membantu dengan penuh cinta kasih. Ini sangatlah penting. Saya merasa sangat bersyukur.

Kekuatan cinta kasih adalah hal yang paling dibutuhkan di dunia ini. Hati yang penuh cinta kasih adalah hal yang paling dicari di dunia. Saya berharap semuanya dapat menjadikan cinta kasih sebagai dasar dalam menjalankan profesi sehingga profesi tersebut dapat menjadi sebuah misi. Inilah yang ingin saya bagikan kepada kalian.

Bertekad menjadi seorang dokter untuk menolong mereka yang sakit dan kurang mampu
Melindungi kesehatan dan merawat batin
Mewujudkan nilai kehidupan melalui ikrar dan praktik
Menyalurkan energi positif dan siklus kebajikan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 27 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 29 Maret 2026
Cara untuk mengarahkan orang lain bukanlah dengan memberi perintah, namun bimbinglah dengan memberi teladan melalui perbuatan nyata.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -