Ceramah Master Cheng Yen: Tekun dan Bersemangat Menumbuhkan Jiwa Kebijaksanaan


“Saya sering mendengar para relawan senior berkata, ‘Dengan mengemban tanggung jawab fungsionaris, sesungguhnya diri sendirilah yang paling berkembang.’ Awalnya, saya tidak merasa demikian. Tahun pertama, saya mengurus segala hal dengan keakuan. Saya benar-benar menguras pikiran dan tenaga, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Tahun kedua, saya belajar untuk berkoordinasi sehingga hasilnya pun lebih baik,”
kata Qiu Qi-rui, relawan Tzu Chi.

“Tahun ketiga, saya menggunakan prinsip keharmonisan dalam segala aktivitas di kantor kita. Kami selalu bekerja sama dengan harmonis. Dengan demikian, hasilnya pun jauh lebih baik. Selama tiga tahun ini, baik dalam pengurusan masalah maupun pola pandang, saya mengalami kemajuan besar,” pungkas Qiu Qi-rui.

“Berkat adanya jalinan jodoh, saya bertemu dengan Master. Master berkata pada saya, ‘Tidak berbuat apa-apa, maka tidak memperoleh apa-apa; berbuat lebih banyak, juga tidak kehilangan apa-apa.’ Kata-kata Master yang sederhana saya dengarkan dengan serius sehingga kebijaksanaan saya berkembang,” kata Huang Kun-ming, relawan Tzu Chi.

“Saat hati seseorang lapang, segala sesuatu akan terbebas dari rintangan. Jadi, Master telah menyelamatkan saya dan keluarga saya. Karena itu, saya harus bersyukur dan membalas budi. Saya akan menjaga komunitas saya dengan baik. Master, saya tidak akan mengecewakan Master,” pungkas Huang Kun-ming.


Berhubung telah lanjut usia, kita sendiri hendaknya tekun dan bersemangat. Jangan berpikir untuk berhenti dari aktivitas relawan. Usia kehidupan kita memang tidak panjang. Karena itu, kita harus menggenggam jalinan jodoh. Jangan menyia-nyiakan jalinan jodoh baik. Begitu ada, kita harus menggenggamnya dengan erat dan jangan melepasnya.

Mendengar pengalaman kalian tadi, saya merasa sangat sukacita dan yakin terhadap kalian. Hendaklah kalian bersungguh hati mengemban misi. Yang terpenting, kita harus menginspirasi lebih banyak orang. Hal yang bisa dilakukan satu orang sangat terbatas. Kita membutuhkan banyak orang untuk berbuat baik bersama. Karena itu, kita harus menginspirasi lebih banyak orang.

“Master, Anda telah memberi kami sebuah ladang berkah besar. Di Depo Pendidikan Daur Ulang Tzu Chi Xishe, kami telah membina insan berbakat yang tak terhitung dan menginspirasi relawan yang tak terhitung. Kini, ada sekitar 80 orang yang bersumbangsih di depo daur ulang kita setiap hari,” Kata Chen Feng-rong, relawan Tzu Chi.

“Para relawan Tzu Chi juga memberikan pendampingan secara bergilir. Di sana juga ada sekitar 30 orang relawan konsumsi. Jadi, setiap hari, di depo daur ulang kita ada lebih dari 100 orang yang bersumbangsih. Master, mohon tenanglah. Saya akan menjaga rumah kita dengan baik,” pungkas Chen Feng-rong.

Saya selalu merasa bahwa kita harus menghargai Tzu Chi. Jika tidak berdiri dengan kokoh, bagaimana bisa Tzu Chi berkembang selama 60 tahun ini? Satu orang bergabung dan berdiri dengan mantap, lalu ada dua, tiga, lima, sepuluh, hingga puluhan ribu orang yang bergabung dan berdiri dengan mantap. Kita selamanya tidak menyesal. Kita semua memiliki ikrar yang sama, yaitu bersumbangsih bagi umat manusia. Di sinilah letak nilai kehidupan.


Setiap hari, saya berkata bahwa kita harus menginventarisasi nilai kehidupan diri sendiri. Apakah kalian mendengar saya berkata demikian setiap hari? (Ya.) Saya sering berkata demikian. Meski saya bukan berbicara langsung pada kalian, tetapi kalian telah berulang kali mendengarnya. Lama-kelamaan, kalian mungkin merasa bahwa kalimat tersebut ditujukan pada kalian.

Jika kalian merasa bahwa kalimat di atas tadi ditujukan pada kalian, berarti kalian benar-benar tekun dan bersemangat. Jika kalian merasa bahwa kalimat itu bukan ditujukan pada kalian, kalian akan berpikir bahwa itu bukan tanggung jawab kalian dan kalian tidak perlu menjalankannya. Jika demikian, kalian tidak akan memperoleh pencapaian.

Saya selalu berkata bahwa siapa yang menabur, dialah yang akan menuai. Kita hendaknya bersumbangsih tanpa diminta. Jika bertekad dan menjalankannya dengan sukarela, kita akan menuai apa yang kita tabur. Kalian mungkin berpikir, "Apa yang saya peroleh?" Hakikat sejati dan hati yang tersucikan. Inilah yang terpenting.

Buddha datang ke dunia demi satu tujuan utama, yaitu membimbing semua makhluk. Selama berbagai kehidupan yang tak terhitung, semua makhluk terjebak di dunia yang penuh kekeruhan. Buddha datang ke dunia untuk memberi tahu orang-orang bahwa dunia ini penuh dengan noda batin. Noda batin bagaikan sebuah sungai besar. Jika orang yang berenang di dalamnya tidak memiliki keberanian, kekuatan, dan arah yang benar, pada akhirnya mereka akan tenggelam. Jadi, kita harus mengetahui arah tujuan kita.

Perlu diketahui bahwa kita terus berlatih agar bisa berenang ke arah yang benar dan membina keberanian untuk berenang. Dengan adanya keberanian untuk berenang, kita juga bisa menyelamatkan orang yang tenggelam. Jadi, kita juga bisa menyelamatkan semua makhluk.

Kita terlahir di dunia ini sebagai makhluk awam. Namun, kita bisa menjadi lebih baik dari makhluk awam, yaitu menjadi Bodhisatwa yang bisa membimbing semua makhluk. Artinya, kita harus bersumbangsih bagi semua makhluk dan terus-menerus melangkah maju hingga mencapai tingkat tertinggi. Inilah yang kita lakukan di Jalan Bodhisatwa.


Bodhisatwa datang untuk menyelamatkan semua makhluk. Sejak berkalpa-kalpa tak terhingga yang lalu, Buddha terus kembali sebagai makhluk awam dari kehidupan ke kehidupan demi menyelamatkan semua makhluk. Jika menyaksikan program Da Ai TV tentang kisah para mahabhiksu, kalian hendaknya yakin terhadap mereka. Saya sendiri pun memandang penting mereka serta meyakini dan menerima ajaran mereka.

Mengapa para mahabhiksu ini bisa begitu yakin terhadap arah yang ditunjukkan Buddha? Mengapa mereka bersedia mengorbankan diri demi ajaran Buddha? Mereka melakukannya demi menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan, kita harus terus melatih diri hingga memiliki tekad yang teguh. Kita harus melatih diri setidaknya tiga kehidupan, baru bisa memiliki arah yang benar. Meski demikian, tekad pelatihan kita pun masih kurang teguh dan kita harus lebih tekun dan bersemangat.

Kini, Tzu Chi memiliki banyak relawan. Saat menghadapi kondisi tertentu, saya juga pernah merasa putus asa. Namun, saya segera mengingatkan diri sendiri bahwa ada banyak orang yang tengah bersumbangsih. Jika saya hanya berdiri di tengah jalan dan tidak tekun, saya mungkin akan jatuh karena terdorong oleh orang lain.

Saya seharusnya terus berlari mengikuti orang di depan saya. Meski orang lain mendahului kita, itu bukanlah masalah. Jangan sampai kita terpisah dari organisasi ini. Jangan berhenti dan membiarkan diri sendiri tertinggal jauh di belakang. Hendaklah kita terus berlari dan berjalan maju.

Menggenggam jalinan jodoh untuk melatih diri bersama
Berikrar untuk menyeberangi sungai noda batin dengan keberanian
Menuju arah yang benar untuk menyucikan hati dan membawa manfaat bagi sesama
Jangan menunda untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 23 Januari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 25 Januari 2026
Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -