Ceramah Master Cheng Yen: Tetap Berpegang pada kebajikan dalam Kondisi Sulit

Belakangan ini, akibat kondisi iklim ekstrem, salju turun dengan lebat dan menyebabkan bencana di berbagai negara. Bencana akibat salju ini semakin banyak. Perubahan iklim seperti ini juga disebabkan oleh umat mansuia. Kondisi iklim dan cuaca menjadi tidak normal.

Dalam cuaca yang dingin, kita sungguh dapat melihat warga yang kekurangan merasa kedinginan. Mereka sungguh menderita. Hanya dengan melihat saja, hati saya sudah merasa dingin. Biasanya, istilah "hati yang dingin" menggambarkan perasaan kecewa karena meski kita sudah berusaha, orang lain tetap tidak merasa puas. Ini membuat hati kita dingin atau kecewa.

Namun, "hati yang dingin" kali ini tidak seperti itu. Hati ini merasa dingin karena melihat cuaca dingin. Para keluarga kurang mampu harus hidup bagaikan di neraka dingin. Jadi, kita melihat banyak orang yang hidup menderita, tetapi di sisi lain, kita juga melihat kehangatan.


Dalam program tayangan Da Ai TV, ada seorang anak perempuan. Anak perempuan ini ayahnya tertimpa tembok yang runtuh saat bekerja. Pikirannya masih jernih, tetapi dia harus terbaring di tempat tidur. Istrinya melihat keluarganya sepertinya tak ada harapan, lalu pergi dan menceraikan suaminya. Dia pergi meninggalkan keluarganya.

Sang suami ini masih memiliki ayah, tetapi sudah lanjut usia dan masih harus bekerja. Anak perempuan itu saat itu berusia empat tahun. Kondisi keluarganya terus seperti itu hingga sekarang.

“Saat baru terluka, saya tak bisa berbicara. Saat makan buah anggur, dia yang mengupasnya untuk saya. Saat itu dia masih kecil, tingginya baru sekitar tinggi tempat tidur ini. Untuk menyuapi saya, dia masih belum sampai. Dia harus naik ke atas kursi, lalu kaki sebelahnya melangkah ke atas tempat tidur, baru bisa memberikan anggur itu kepada saya. Dia harus mengeluarkan bijinya dan mengupas kulitnya. Daging buahnya dia berikan kepada saya. Kulitnya dan sedikit daging buah yang menempel, baru dia makan sendiri. Saat itu dia baru berusia empat tahun. Sungguh, saya sangat terharu. Dia berkata, "Ayah, tak ada yang merawatmu, saya akan merawatmu." Dia baru berusia empat tahun, tetapi bisa berkata begitu,” tutur Hong Zhenqin, penerima bantuan Tzu Chi.


Kondisi keluarganya sangat sulit. Namun, dia tetap ceria. Kakeknya bekerja untuk menghidupi keluarga, sedangkan dia merawat ayahnya.

“Kadang saya berpikir yang penting Ayah bisa menemani saya. Ibu saya sudah bercerai dari ayah saya dan sudah kembali berkeluarga. Kondisi keluarga kami berbeda dari keluarga orang lain.Banyak hal yang harus dikerjakan. Saya tidak bisa pergi main seperti orang lain. Kadang ada teman sekelas yang punya uang, tetapi ayah dan ibu mereka tidak ada waktu untuk menemani mereka. Kakek suka bercanda dengan saya dan menemani saya. Jalinan kasih keluarga adalah yang terpenting. Saya rasa suatu hari kami sekeluarga pasti bisa pergi main. Pasti bisa,” kata Hong Shiya, sang anak.

"Tak apa meski hidup kekurangan. Asalkan bisa tetap bersama keluarga, kita tetap bisa bahagia. Tak apa jika tak punya uang, asalkan hidup rukun dan penuh kasih sekeluarga.”

 

Lihatlah, dia mencari kebahagiaannya sendiri. Dia juga bisa melakukan daur ulang. Dia mengumpulkan barang daur ulang. Teman-teman sekolahnya melihatnya mengumpulkan barang daur ulang.

“Banyak teman saya yang tahu. Sebagian besar teman saya sudah tahu. Kadang mereka juga membantu saya melakukannya. Awalnya mereka terkejut. Mereka bertanya, "Kamu tidak takut kotor?" Saya menjelaskan kepada mereka, "Semua ini saya lakukan demi melindungi Bumi, agar Bumi tidak terus tercemar. Dengan begitu, barulah Bumi tidak akan meledak dan umat manusia tidak akan punah,” kata Hong Shiya.

“Saya melakukan daur ulang sumber daya alam. Saya ingin kita semua menjaga dan melindungi alam.” Meski usianya masih kecil, dia juga memiliki kebijaksanaan hakiki. Buddha menyebutnya sebagai hakikat sejati. Hakikat sejati yang murni ini adalah hakikat kebuddhaan. Ia tidak tercemar, murni, dan bebas dari noda. Anak ini mampu memikul tanggung jawab keluarga dan merawat ayahnya. Dia juga tumbuh dengan bahagia.

Sejak usia empat tahun hingga sekarang, dia tidak bermain-main seperti anak-anak sebayanya. Dia juga tidak punya teman main. Keluarganya adalah lingkungan tempatnya bertumbuh. Dia begitu ikhlas, sukacita, dan menerima keadaan. Baginya, kemiskinan bukanlah halangan.

"Tak apa jika tak ada uang, selama kita memiliki kasih saying dan keluarga kita bisa berkumpul bersama. Saya sudah cukup bahagia." Jadi, dalam kehidupan ini, di manakah penderitaan? Asalkan dapat berpikiran terbuka dan membangkitkan hakikat murni yang bebas dari ketamakan dan noda batin, manusia dapat hidup bahagia. Dia juga dapat memberi kejutan di hari ulang tahun ayahnya.


“Ayah saya tidak pernah merayakan ulang tahun, mungkin dari kecil hingga dewasa tidak pernah. Ini pertama kalinya saya merayakan ulang tahunnya,” terang Hong Shiya.

“Ayah, tunggu sebentar. Ada kejutan. Kita akan mengadakan pesta,” kata Hong Shiya.

Singkat kata, begitulah kehidupan. Kita harus mengasihi diri sendiri seperti anak itu. Dia sangat kuat. Dia dapat merawat ayahnya. Para relawan Tzu Chi juga menjaga orang-orang yang menderita dan berusaha membuat mereka melihat harapan. Jadi, di mana ada penderitaan, di mana ada orang yang hidup sebatang kara, insan Tzu Chi akan memberi perhatian dan mendampingi.

Meski kehidupan penuh penderitaan, tetapi jika menjalaninya dengan ikhlas, kita akan bahagia. Jadi, kebuddhaan dicapai di alam manusia ini. Buddha berkata bahwa kebuddhaan tak dapat dicapai di alam dewa. Di alam manusialah kita dapat melatih diri dan memiliki harapan untuk mencapai kebuddhaan karena Jalan Bodhisatwaa ada di dunia ini. Setelah mengatasi berbagai penderitaan di dunia, kita dapat menampakkan hakikat sejati yang murni.

Tetap berpegang pada kebajikan dalam kondisi sulit
Keikhlasan membawa kebahagiaan
Kembali pada hakikat sejati yang murni
Meneguhkan tekad pada Jalan Bodhisatwa di dunia

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 21 Februari 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 23 Februari 2021
Cara kita berterima kasih dan membalas budi baik bumi adalah dengan tetap bertekad melestarikan lingkungan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -