Ceramah Master Cheng Yen: Tulus Memberi Persembahan berupa Keyakinan, Rasa Hormat, dan Praktik
“Dalam kamp fungsionaris 4 in 1 tahun ini, ada lebih dari 120 Bodhisatwa lansia yang turut berpartisipasi. Karena itu, kami berpikir untuk mewujudkan harapan semua orang. Para staf dan tim pemerhati saudara se-Dharma kita berikrar untuk mengajak para Bodhisatwa lansia kembali ke Griya Jing Si untuk memohon Dharma dari Master dan melepas kerinduan semua orang terhadap Master. Karena itulah, hari ini, ada banyak Bodhisatwa lansia yang hadir. Sebagian besar dari mereka telah bersumbangsih dari rambut masih hitam hingga memutih,” kata Ma Qing-hua, Wakil ketua Tzu Chi Singapura.
"’Tiga Tiada’ yang Master ajarkan telah menyelamatkan paruh kedua kehidupan saya. Sebelumnya, temperamen saya tidak baik dan sulit untuk memaafkan orang lain. Terima kasih, Master. Master adalah guru pembimbing jiwa kebijaksanaan saya yang telah mengubah paruh kedua kehidupan saya. Saya akan menghargai jalinan jodoh antara guru dan murid ini,” kata Lin Ya-zhi, relawan Tzu Chi.
“Saya, Lu Ci Hao, berikrar untuk mengikuti Master dari kehidupan ke kehidupan tanpa mundur. Saya akan bersumbangsih hingga napas terakhir. Master, saya sangat merindukanmu,” kata Lu Shun-qiong, relawan Tzu Chi.
Kalian sangat dekat di hati saya. Bodhisatwa sekalian, kita semua terpisah oleh jarak yang sangat jauh. Meski berada di Singapura, kalian bisa mendukung saya dan Tzu Chi. Di Singapura, kalian sangat mengasihi diri sendiri dan orang lain. Kalian mengasihi diri sendiri dengan tekun dan bersemangat melatih diri. Meski saya berada jauh dari kalian, tetapi kalian yakin dan percaya terhadap saya. Ini karena hati kalian sangat dekat dengan hati saya.
Kalian mengasihi Tzu Chi bagai mengasihi saya. Kalian mengasihi ajaran dan jiwa kebijaksanaan saya. Kalian melakukan semua yang ingin saya lakukan, mengatakan semua yang ingin saya katakan, dan mengasihi semua yang ingin saya kasihi. Saya yakin bahwa kalian semua mendengar Dharma. Ini menunjukkan rasa hormat kalian.
Orang yang berpegang pada Dharma dan aturan pasti memiliki rasa hormat. Kita mempraktikkan Dharma dengan menapaki Jalan Bodhisatwa bersama. Untuk meneruskan Dharma, kita harus bisa mendengar, menyebarkan, dan mempraktikkannya. Inilah persembahan berupa praktik.


Ada pula persembahan berupa keyakinan. Persembahan berupa rasa hormat diberikan dengan menunjukkan rasa hormat kita. Setelah mendengar ajaran saya, jika kalian dapat meyakini, menerima, dan menjalankannya, ini termasuk persembahan berupa rasa hormat. Jadi, ada persembahan berupa keyakinan, ada persembahan berupa rasa hormat.
Kalian yang mempraktikkan Jalan Bodhisatwa berarti memberi persembahan berupa praktik. Inilah tiga persembahan. Jadi, kalian telah memberikan tiga persembahan. Saya bersyukur pada kalian. Selain jalinan jodoh di antara kita, Dharma juga harus diteruskan kepada generasi penerus kalian dari generasi ke generasi. Seperti yang saya katakan, saya telah menyaksikan ketekunan dan semangat kalian.
Saya sangat yakin jiwa kebijaksanaan Tzu Chi akan bertahan di dunia hingga saya kembali dan meneruskannya lagi. Saya mungkin saja terlahir sebagai anggota keluarga kalian. Jalinan jodoh ini akan terus berlanjut. Asalkan memiliki jalinan jodoh, kita akan selamanya menjadi bagian dari keluarga besar Tzu Chi dari kehidupan ke kehidupan.
Kini, kalian harus mewariskan Dharma, bukan sekadar mengobrol santai. Kalian memiliki misi untuk mewariskan Dharma. Janganlah kita menyerah pada usia karena kita masih memiliki pikiran yang tajam dan dapat bergerak dengan gesit. Kita belum tua. Kita memiliki Dharma. Kita harus berani, tekun, dan bersemangat.


“Master, saya merasa bahwa hal terbenar yang saya lakukan di kehidupan sekarang ialah bergabung dengan Tzu Chi. Master, saya akan sungguh-sungguh menjalankan Tzu Chi. Kini, saya masih sangat sehat, tidak ada penyakit apa pun. Saya bisa menjalankan Tzu Chi hingga napas terakhir,” kata Zhuo Jin-feng, relawan Tzu Chi.
“Master, saya mengasihi Master. Mengasihi Master membuat saya sukacita,” kata Chen Su-e, relawan Tzu Chi.
Kamu sangat sukacita, saya juga sangat sukacita. Saya mendoakanmu. Jagalah kesehatan dan bersukacitalah setiap hari.
“Saya bersumbangsih dengan sukacita setiap hari,” lanjut Chen Su-e.
Bersumbangsih membuat kita sehat.
“Saya mengasihi Master. Master, jagalah Kesehatan,” pungkas Chen Su-e.
Kalian begitu mengasihi dan menghormati saya. Saya juga menggenggam kesempatan saat kalian kembali ke Griya Jing Si. Tentu saja, saya akan pergi lebih dahulu dari kalian. Kalian harus bersungguh hati menyebarkan ajaran saya agar saat saya kembali lagi, saya bisa meneladan perbuatan kalian.
Kalian bisa menggendong dan menggandeng saya dengan baik serta mengajak saya ke ladang pelatihan Tzu Chi untuk mendengar Dharma. Demikianlah pewarisan dari generasi ke generasi. Saya berharap setiap orang dapat mewariskan Dharma selama 50 generasi dan kepada 50 orang setiap generasi.


Kini, saya adalah guru pembimbing jiwa kebijaksanaan kalian. Kalian juga harus mewariskannya kepada generasi penerus kalian. Kalian akan menjadi orang tua mereka sekaligus guru pembimbing jiwa kebijaksanaan mereka. Demikianlah kita terus-menerus melakukan pewarisan dari generasi ke generasi.
Jika Tzu Chi bisa mempertahankan praktik ini di dunia, jumlah Bodhisatwa dunia akan makin bertambah. Jadi, asalkan ada tekad dan ikrar, pasti ada kekuatan. Saya sangat yakin pada hukum sebab akibat. Asalkan ada sebab dan kondisi, pasti akan ada buah dan akibat.
Dalam hidup ini, arah pelatihan diri kita ialah lebih banyak menjalin jodoh baik. Dengan demikian, barulah kita bisa menapaki Jalan Bodhisatwa. Harus ada orang yang membuka jalan. Meski Buddha telah menunjukkan arah, tetap harus ada yang membimbing langkah kita. Jika hanya melihat arah yang ditunjukkan dengan jari, menyimpang sedikit saja, kita akan jauh tersesat.
Jari yang tadinya menunjuk ke kiri mungkin akan perlahan-lahan melenceng ke kanan. Begitu pula sebaliknya. Jika kiri dan kanan tidak selaras, konflik akan sering terjadi. Jadi, dalam melatih diri, kita harus menjalin jodoh baik untuk bekerja sama dengan harmonis.
Kerinduan terhadap Master terlihat dalam ucapan dan perbuatan
Tulus memberi persembahan berupa keyakinan, rasa hormat, dan praktik
Berani, tekun, dan bersemangat membentangkan jalan kebenaran
Meneruskan jiwa kebijaksanaan dari generasi ke generasi
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 30 Desember 2025
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 01 Januari 2026







Sitemap