Suara Kasih : Mengembangkan Welas Asih

 

Judul Asli:

Senantiasa Mengembangkan Keterampilan, 
Welas Asih, dan Kebijaksanaan
     

Melatih diri dan menghimpun karma baik bersama-sama
Berjalan di jalan benar dengan hati yang tulus dan pikiran yang murni     
Donor dan pasien sama-sama memiliki berkah
Semoga keterampilan, welas asih, dan kebijaksanaan bertumbuh setiap hari

Silent Mentor
“Saya sungguh bersyukur atas jalinan jodoh ini sehingga saya memiliki kesempatan untuk berterima kasih dan bertobat kepada Kakek Guru. Kami sangat berterima kasih kepada tim medis Rumah Sakit Tzu Chi di Xindian kepada tim medis Rumah Sakit Tzu Chi di Xindian dan relawan Tzu Chi yang merawat dengan sepenuh hati saat Ayah saya dirawat di Rumah Sakit, dan pada akhirnya memenuhi harapan ayah saya untuk mendonorkan organ tubuhnya. Kakek Guru, ayah saya pernah berkata bahwa ia sangat mengasihi Master dan sangat senang menjalankan misi Tzu Chi. Karenanya, ia bekerja keras untuk terus menggalang Bodhisatwa dunia. Hari ini ayah menggunakan kehidupannya untuk membimbing kami bertiga. Kini saya berikrar di hadapan Kakek Guru bahwa saya akan menjadi insan Tzu Chi. Kebijaksanaan yang diwariskan ayah akan senantiasa kami sebarkan. Kami akan melanjutkan misi ayah dan giat belajar. Terima kasih, Kakek Guru,” kata salah seorang keluarga pasien.

Kita melihat para anggota keluarga begitu merasa kehilangan, namun tetap bersedia memenuhi keinginan terakhir keluarga mereka. Kehidupan seperti ini sangatlah indah, akhir yang sangat indah. Pagi tadi saya bertemu dengan beberapa orang dari luar negeri yang datang ke Taiwan untuk menghadiri seminar riset sel induk. Salah satu dari mereka adalah seorang profesor yang merangkap sebagai dokter. Tiba-tiba ia bertanya kepada saya, jika pasien menderita kanker otak, apa yang harus ia lakukan untuk menolongnya. Sebenarnya, saya ingin menjawab, ”Penyakit kanker otak seharusnya ditanyakan kepada dokter, bukan kepada saya.”

Kanker otak merupakan masalah medis. Kemudian ia pun melanjutkan, ketika hati ingin melakukan sesuatu, otak tidak mau menuruti hati untuk melakukannya. Ketika ada niat untuk berbuat baik di hati, otak tidak mau bertindak. Jadi, ia bertanya apa yang harus ia lakukan. Sesungguhnya, saya sering berpikir tentang ini. Apakah benar hati yang berpikir? Hati adalah hati, berpikir seharusnya dengan otak, tetapi mengapa kita selalu mengatakan berpikir dengan hati? Hati dan otak harus bersatu, namun apakah benar bersatu saya juga tidak tahu karena saya bukan dokter.

Menurut saya, hati dan otak mempunyai fungsi masing-masing. Perbuatan yang kita lakukan, baik yang bajik maupun yang buruk bukanlah masalah hati atau otak, melainkan kebiasaan. Apakah hati yang melakukan perbuatan buruk ataukah otak yang melakukannya? Ataukah gabungan dari keduanya? Bagaimana cara kita membuktikan ini? Ini sangatlah sulit untuk dianalisis. Namun, menurut saya, semua ini disebabkan oleh pengaruh lingkungan. Jawaban saya adalah lingkungan.

Pasien Seperti Keluarga Kita Sendiri
Agama bagaikan sebuah lingkungan. Setelah belajar agama,kita akan mulai mengubah kebiasaan kita. Kita akan berpikir ke arah yang positif dan berbuat bajik. Ini semua adalah suatu kebiasaan. Dalam 100 hari setelah pembukaan, Rumah Sakit Tzu Chi di Taipei menjalani evaluasi akreditasi. Anda semua pasti mengetahui bahwa evaluasi ini sangatlah melelahkan. Setiap orang harus bekerja siang dan malam, sangat melelahkan. Tentu saja berkat kerja sama setiap oranglah kita lulus evaluasi tersebut. Pada saat itu diperlukan lingkungan yang kondusif dan kesatuan hati dari setiap orang. Kita berharap semua staf di lingkungan rumah sakit kita dapat memiliki ikatan batin dan kesatuan hati dalam menyumbangkan keahlian masing-masing. Dengan demikian, fungsi rumah sakit dapat berjalan semaksimal mungkin.

Dalam kunjungan ke Inggris kali ini, saya bertemu dengan Kakak Liu. Ia banyak membantu kami. Ia memiliki perut yang besar karena menjalani 4 kali operasi di Inggris. Lubang kecil pada usus besarnya menyebabkan pendarahan. Ia berusia 68 tahun. Dokter di Inggris memberi tahu keluarganya bahwa mereka ingin menyerah terhadap kondisinya. Namun, beberapa relawan berlatar belakang medis memohon para dokter agar menolongnya karena ia masih sangat muda dan penyakitnya tidaklah parah. Berkat permohonan mereka, dokter bersedia menjalankan operasi untuknya. Saat mendengar hal ini, saya berharap Rumah Sakit Tzu Chi Taipei tidak pernah menyerah dengan satu pasien pun. Selain itu, ketika pasien tidak menemukan rumah sakit lain untuk pengobatannya, saya berharap kita dapat menolongnya dan melindungi setiap kehidupan yang berharga dengan cinta kasih universal Tzu Chi.

Rumah Sakit Tzu Chi Taipei sudah menginjak tahun ke-5. Para dokter sungguh-sungguh melayani bagaikan Buddha. Dengan hati Buddha, mereka menolong setiap orang layaknya keluarga sendiri. Mereka sungguh memiliki hati Buddha, hati Bodhisatwa, dan hati orang tua. Begitu pun dengan para perawat kita. 5 tahun berlalu bagai sehari. Mereka sudah bekerja keras untuk turut menenangkan batin keluarga pasien. Di samping merawat pasien, batin keluarga pasien juga harus kita jaga. Dunia medis saat ini sudah berbeda. Meski memiliki peralatan yang lengkap dan teknologi medis yang maju, namun batin manusia zaman sekarang sangatlah rumit. Meski kita mempunyai fasilitas yang baik, namun batin manusia kini sangat rumit. Jika setiap orang dapat menempatkan diri pada lingkungan serta kebiasaan yang baik, maka pasien akan bersyukur kepada dokternya.

 

 

Kita sudah mendengar cerita dari anak-anak komite Tzu Chi, bahwa anak-anak komite Tzu Chi ketika surat persetujuan donor ditandatangani, tim medis di belakangnya harus bekerja keras untuk memenuhi harapan terakhir donor. Ini sungguhlah sulit. Selain tim medis, relawan serta dokter spesialis juga harus turut bekerja sama untuk menyukseskan transplantasi organ tubuh.

 

Donor mencapai harapan terakhirnya, Resipien pun dapat melanjutkan kehidupannya. Para resipien adalah orang-orang yang berjodoh dan memiliki berkah. Transplantasi organ tidak hanya menolong satu pasien, melainkan juga keluarganya dan masyarakat, karena mungkin sang resipien adalah orang yang berguna bagi masyarakat. Donor maupun resipien sama-sama memiliki berkah. Namun, tanpa bantuan tim medis yang bekerja sama dengan satu misi dan tujuan; jika tim medis hanya memiliki keterampilan, namun tidak memiliki cinta kasih, maka hasil yang indah tak akan tercapai.

Singkat kata, saya sangat bersyukur, terutama atas semua yang saya lihat dan saksikan hari ini. Saya tetap ingin mengatakan bahwa saya sangat bersyukur dan merasa tersentuh. Kemampuan dan peralatan saja tidaklah cukup. Organ tubuh memiliki fungsi dalam kehidupan. Jika terjadi kerusakan padanya, tabib terhebat pun tak dapat menolong. Yang terpenting adalah keterampilan yang dibarengi cinta kasih. Inilah semangat yang harus ada dalam batin kita. Singkat kata, teknologi dan pengetahuan medis hendaknya dipadukan dengan agama. Agama yang saya maksud tak mesti agama Buddha. Asalkan agama itu mengajarkan keyakinan benar, maka kesehatan fisik dan batin sang penganut akan terwujud.

Saya sungguh berterima kasih. Semoga kelak kita dapat menggalang lebih banyak Bodhisatwa dunia. Apalagi RS Tzu Chi sudah memasuki tahun ke-5. Semoga keterampilan, kebijaksanaan, dan welas asih kita dapat terus tumbuh setiap harinya.

Diterjemahkan oleh: Erni & Hendry Chayadi
Foto: Da Ai TV Taiwan

 
 
Melatih diri adalah membina karakter serta memperbaiki perilaku.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -