Intisari Dharma: Dharma Terbang Menuju Awan–Pembelajaran dan Pencerahan


Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Buddha mencapai pencerahan. Pencerahan yang luar biasa ini memungkinkannya untuk memutar roda Dharma dengan Dharma yang bajik, menuntun orang-orang menuju ke jalan kehidupan yang benar dengan harapan agar setiap orang dapat belajar untuk menuturkan kata-kata yang baik dan melakukan perbuatan yang baik, mengubah kejahatan menjadi kebaikan.

Pada saat itu, populasi bumi belum banyak; sarana transportasi masih terbatas, dan perbedaan bahasa antar wilayah membuat orang-orang sulit memahami satu sama lain. Buddha hanya menggunakan kedua kakinya untuk berjalan. Walaupun ia mengajarkan Dharma selama empat puluh sembilan tahun, tidak banyak orang dapat mempelajarinya.

Dalam menyebarkan Dharma demi kepentingan semua makhluk, kini kita dapat memanfaatkan teknologi sehingga para relawan Tzu Chi di seluruh dunia dapat mendengarkan secara bersamaan melalui konferensi video. Ketika suara Dharma mengalir dan kita menjaga pikiran benar, kata-kata yang kita tuturkan dapat menjadi Dharma sejati. Namun, ketika membicarakan ajaran Tzu Chi, sedikit saja penyimpangan dapat menyebabkan kita tersesat jauh. Karena itu, kita tidak boleh membiarkan pandangan atau kecenderungan pribadi memengaruhi Dharma.

Anda semua memiliki jalinan jodoh dengan saya. Saya sangat penuh berkah di kehidupan kali ini, saya memiliki jalinan jodoh dengan guru saya; sebab dan kondisi ini sungguh luar biasa. Baru-baru ini, Da Ai TV telah menyiarkan video-video mengenai guru saya 1), dengan setia menampilkan perjalanan hidupnya selama masa-masa sulit. Beliau belajar dengan tekun dan penuh kesungguhan melampaui cara pikir orang awam. Beliau mengajar sembari mempelajari Dharma Buddha–suatu proses pembelajaran dan pencerahan.

Tanpa pembelajaran maka tidak akan ada pencerahan. Aksara Tionghoa untuk kata “belajar” mengandung unsur “anak,” dan aksara untuk “pencerahan” mengandung unsur “melihat.” Walaupun bentuk kedua aksara tersebut sedikit berbeda, maknanya mencakup keseluruhan proses dari awal sampai akhir. Sejak lahir, manusia harus “belajar”; ketika kita belajar secara mendalam, inilah yang disebut sebagai “pencerahan.” Di dunia ini, ada Dharma yang bajik dan ajaran yang kurang baik. Para relawan Tzu Chi harus mempelajari Dharma dari para makhluk yang telah tercerahkan.

Dikatakan bahwa, hakikat manusia pada dasarnya baik. Setiap orang pada dasarnya memiliki pikiran yang murni dan tanpa noda. Sejak awal mula keberadaan, sifat sejati yang tercerahkan–yang memungkinkan kita untuk melihat hakikat sejati dari kehidupan–senantiasa ada di hati setiap orang.

Melalui tulisan, kita membantu setiap orang untuk melihat Jalan Boddhisatwa. Setiap aksara dan setiap kalimat haruslah bajik dan baik, dengan bijaksana menuntun semua makhluk.

Aksara untuk kata “membimbing” dalam istilah “guru pembimbing” menggabungkan unsur “jalan” dengan unsur “tanggung jawab.” Jalan itu terletak pada pengamalan tanggung jawab kita, dan melalui berbagai sebab serta kondisi, kita menuntun setiap orang menuju jalan kebajikan di dunia ini.

Ajaran Tzu Chi adalah cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin– memberi tanpa pamrih, berwelas asih kepada semua makhluk, dan menuntun semua orang menuju Jalan Buddha.

Jalan menuju pencerahan di dunia ini adalah Dharma Buddha. Sejak awal hingga akhir, dari pembelajaran hingga pencerahan, jalan tengahnya adalah Jalan Bodhisatwa. Ini adalah arah Tzu Chi.

Belakangan ini, saya terus-menerus merasakan adanya sebersit pencerahan, pencerahan akan ketidakkekalan dunia ini.

Kita tidak perlu bertanya kapan harus memulai melatih diri secara spiritual, yang perlu kita tanyakan hanyalah prinsip-prinsip seorang manusia. Segalanya dimulai dari mempraktikkan rasa hormat; hanya dengan menghormati kita dapat menjadi tekun. Ketekunan mengajarkan kita untuk membangkitkan hakikat sejati kita. Ketika kita benar-benar mengenali hakikat sejati ini maka hakikat Kebenaran Sejati dalam diri kita sama dengan hakikat Buddha. Seperti yang tertulis dalam sutra, “Pikiran, Buddha, dan makhluk hidup tidak berbeda dalam hakikatnya.”

Meskipun kita pernah tersesat, memiliki jalinan jodoh yang memungkinkan kita mengenali arah kehidupan adalah hal yang sangat luar biasa!

Dari sekian banyak manusia di bumi ini, berapa banyak yang benar-benar memahami tujuan dari keberadaan manusia? Semua agama memiliki ajaran yang baik, namun Tzu Chi telah menemukan jalan para makhluk yang tercerahkan. Makhluk berkesadaran tidak dapat dipisahkan dari alam manusia ini. Bergerak naik di dunia ini adalah pencerahan; melihat kebaikan juga adalah pencerahan. Ketika kita tidak dapat melihat Jalan itu, kita menjadi tersesat; dan tersesat berarti mengikuti keburukan, dan inilah yang membuat kita menjadi makhluk awam.

Untuk menonjol di antara para makhluk, kita harus menumbuhkan kesadaran batin kita yang tercerahkan. Untuk berkembang dari pembelajaran menuju pencerahan, kita harus mempraktikkan Jalan Bodhisatwa; hanya dengan melewati pembelajaran barulah kita dapat melihat jalan itu.

Dalam Sutra Teratai, terdapat sebuah perumpamaan yang mengatakan, “Tempat harta karun itu sangat dekat.” Seorang guru membawa orang-orang yang lelah ke sebuah kota ilusi agar mereka semua dapat beristirahat, namun tempat harta karun itu sesungguhnya tidak jauh dari sana.

Saya terus merasakan bahwa jarak sudah tidak jauh lagi–tempat harta karun itu sudah dekat. Ketika kita kembali ke hakikat sejati kita, pada saat itulah kita menemukan tempat harta karun itu. Kita harus senantiasa membangkitkan kesadaran diri. Saat kita berkumpul bersama, itulah tempat harta karun pada Bodhisatwa. Kita hendaknya selalu berdiam di tempat harta karun ini, saling membangkitkan kesadaran dan menuntun satu sama lain menuju pencerahan.

Dalam kelas bedah buku, kita berlatih dengan sangat tekun dan menghimpun orang bajik untuk menuntun satu sama lain. Kita saling membuka wawasan satu sama lain dari berbagai sudut pandang dengan mempelajari Dharma dan ajaran Tzu Chi.

Ada banyak cara untuk memberikan bimbingan. Contohnya, program “Kasih Sayang Jarum dan Benang” mengundang para Bodhisatwa senior untuk terlibat dalam kegiatan terampil menggunakan jarum dan benang. Anak-anak muda membantu memasukkan benang ke jarum, sementara para Bodhisatwa senior menjahit jahitan demi jahitan, membentuk berbagai karya sehingga para Bodhisatwa tetap terampil dan aktif.

Lihatlah tali gantungan ponsel ini–tali ini dibuat dengan begitu kokoh sehingga saya sempat mengira tali ini digunakan untuk menarik koper, tetapi ternyata tali ini digunakan untuk “menarik prinsip,” menarik serta membawa bekal Dharma.

Sebuah ponsel kecil mengandung informasi yang tak terbatas mengenai segala hal yang ada di alam semesta; ia dapat menyampaikan katakata penuh kebajikan dan menyalurkan Dharma yang luhur kapan pun. “Keranjang nasi dunia” ini perlu dibawa dengan baik menggunakan tali ini. Sebuah ponsel membawa “beribu-ribu pon,” informasi yang berharga dan setiap orang harus membawanya sebagai keranjang nasi bagi dunia.

Saya merasa penuh sukacita–segala yang saya lihat adalah Dharma. Saya bersyukur setiap orang memanfaatkan waktu untuk “Membaca ke Awan (Read to the Cloud).”2) Ketika Dharma disebarluaskan, semua orang dapat dipenuhi oleh sukacita Dharma. Awan welas asih dapat memberkati semua makhluk. Ketika dikumpulkan setetes demi setetes, air Dharma yang murni dan tanpa nod aini akan memberikan kehidupan bagi semua makhluk.

Disusun dari ajaran Master Cheng Yen dalam percakapan dengan Kelas Bedah Buku Daring Kaohsiung tanggal 1 Juni 2025.

Diterjemahkan oleh: Putri Millenia Hadinata (Tzu Chi Palembang)

1: 2025 menandai peringatan dua puluh tahun sejak wafatnya Mahabiksu Yin Shun. Master Yin Shun mengadvokasi Buddhisme Humanistik dan dikenal sebagai penulis yang sangat aktif dengan perilaku murni yang telah meginspirasi banyak pengikut. Beliau merupakan sosok penting dalam ajaran Buddhisme kontemporer dan memiliki pengaruh mendalam terhadap Tzu Chi. Untuk memperingati dua puluh tahun wafatnya beliau, Da Ai TV meluncurkan seri “Mengenang Master Yin Shun Dua Puluh Tahun Setelah Wafatnya”, mengundang semua orang untuk mengenang guru bijaksana yang telah mendedikasikan hidupnya untuk Buddhisme dan semua makhluk. Website: https://event. daai.tv/yinshun/

2: “Membaca ke Awan (Read to the Cloud)”: Kelas Bedah Buku Daring Kaohsiung menggunakan berbagai format bacaan dan konten program yang menarik, disiarkan secara global melalui Facebook dan Youtube setiap hari Rabu pukul 09.00-12.00 waktu Taiwan. Melalui pengelolaan yang tekun selama bertahun-tahun, kelas bedah buku tersebut telah mencapai kesuksesan selama 10 tahun. Mereka juga Menyusun buku spesial yang berjudul “Membaca ke Awan (Read to the Cloud)” sebagai hadiah untuk Master Cheng Yen sebagai ungkapan rasa syukur atas ajarannya, sekaligus memberikan Gambaran tentang organisasi tim, pengembangan bakat, dan pembentukan segmen acara yang kaya dan bermakna.

Jika menjalani kehidupan dengan penuh welas asih, maka hasil pelatihan diri akan segera berbuah dengan sendirinya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -