Intisari Dharma: Satu Tujuan Luhur Kita

Buddha datang ke alam manusia dan membabarkan Dharma selama 49 tahun, membimbing manusia agar menjadi lebih waspada, khidmat, dan sadar. Semua makhluk berkesadaran pada hakikatnya memiliki sifat kebijaksanaan Tathagata dan hati welas asih agung yang sama seperti Buddha. Namun, karena kecenderungan kebiasaan yang terakumulasi sepanjang jumlah kehidupan yang tak terhitung, kita semakin menjauh dari sifat Kebuddhaan kita, menumbuhkan sikap acuh tak acuh terhadap sesama manusia dan kehilangan welas asih di dalam hati. Inilah keadaan makhluk awam. Makhluk awam hidup dalam penderitaan; ketika menghadapi berbagai keadaan, mereka merasa takut dan mengeluh bahwa tidak ada yang peduli kepada mereka. Demikianlah kebodohan batin yang dimiliki oleh makhluk hidup.
Sutra Lotus menyatakan, “Dunia manusia bagaikan sebuah rumah yang terbakar.” Buddha adalah tetua agung dari rumah ini, yang memandang semua makhluk berkesadaran di dunia sebagai anak-anak-Nya sendiri. Sementara sang tetua mengajar dan menolong orang di luar, anak-anak di dalam rumah besar itu justru asyik bermain dan dipenuhi oleh keserakahan; demikianlah keadaan makhluk biasa yang diliputi ketidaktahuan. Ketika satu pikiran bodoh muncul, percikan demi percikan terus bermunculan, dan percikan kecil pun dapat menyulut api karma.
Kemarahan bagaikan api, sedangkan keserakahan bagaikan air. Banjir dapat menghancurkan segala sesuatu yang dilaluinya. Orang-orang berpikir, “Saya ingin ini, dan saya juga ingin itu.” Walaupun bumi sesungguhnya penuh dengan daya kehidupan, makhluk awam menyimpan pikiran keserakahan yang tak pernah terpuaskan. Mereka mengambil dari sini dan merampas dari sana, merusak segala sesuatu demi memenuhi keinginan mereka. Ketika kehancuran mulai terjadi, angin akan menerbangkannya; air akan menghanyutkannya, dan segala unsur saling berbenturan hingga menimbulkan kehancuran yang semakin besar.
Buddha datang ke alam manusia untuk mengajarkan Jalan Bodhisatwa, maka sungguh tepat jika saya memanggil semua orang sebagai “Bodhisatwa dunia.” Dunia ini dipenuhi dengan penderitaan, oleh karena itu ketika terjun dalam kerja kemanusiaan, kita harus memiliki pengetahuan dan mampu merespons dengan cepat. Tanpa persiapan yang matang dan pengelolaan yang bijaksana, kita tidak akan memiliki apa pun yang dapat diberikan dalam upaya penanggulangan bencana. Oleh sebab itu, kita harus mengembangkan kebijaksanaan dan bersatu hati untuk memberi manfaat bagi umat manusia dengan kebijaksanaan yang murni dan tak ternoda.
Kita harus terus mengembangkan cinta kasih agung tanpa syarat dan welas asih universal. Terhadap mereka yang tidak memiliki jalinan jodoh dengan kita, bukan keluarga maupun kenalan, ketika mereka menghadapi bencana dan penderitaan, kita harus segera menghibur, mendampingi, dan memenuhi kebutuhan mereka. Inilah yang dilakukan para Bodhisatwa; inilah cinta yang telah tercerahkan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita hendaknya belajar melatih diri menumbuhkan cinta yang tercerahkan dan belajar menjadi Bodhisatwa. Ketika musibah datang, kita dapat segera menerapkan kebijaksanaan. Kemampuan menangani berbagai persoalan dengan terampil dan cerdas memerlukan pembelajaran, namun melakukan segala sesuatu dengan benar adalah kebijaksanaan–inilah yang disebut “kesadaran.” Buddha datang ke alam manusia untuk membimbing makhluk berkesadaran yang dalam kebingungan agar mengubah delusi menjadi kesadaran.
Dalam proses dari “belajar” menuju “pencerahan”, kita tidak dapat terlepas dari menapaki Jalan Bodhisatwa. Anda dan saya semua adalah Bodhisatwa; kita semua berjalan di jalan ini bersama-sama. Ada kalanya saya ingin bertindak, namun tidak dapat melakukannya. Ketika menyadari suatu keadaan, saya akan berkata, “Tolong periksa apakah semua orang dalam keadaan aman?” “Bagaimana kondisi bencana di daerah itu?” Para relawan pun akan bergerak dengan cepat untuk mencari tahu bagaimana cara memberikan bantuan. Inilah yang disebut belajar menapaki Jalan Bodhisatwa dan tercerahkan melalui praktik memberi.
Makhluk berkesadaran memiliki pikiran dan sudut pandang mereka masing-masing. Jika kita tidak berinteraksi dengan kebijaksanaan, maka ketika kita menolong mereka, bisa saja mereka merasa, “Orang-orang ini memperlakukan saya dengan tidak baik,” atau “Mereka mengasihani saya.” Namun, meskipun kita tidak memiliki hubungan apa pun dengan orang lain, ketika kita merangkul sesama dengan kepedulian, kehangatan itu akan benar-benar terasa.
Bergabung dengan Tzu Chi sungguh memberi nilai bagi hidup kita. Jika kita tidak masuk ke dalam Tzu Chi, meskipun karier kita gemilang dan status professional kita tinggi, kita tetap akan hidup untuk diri sendiri–demi penghidupan pribadi, kepentingan pribadi dan harta kekayaan pribadi, semua untuk diri sendiri. Masuk ke dalam Tzu Chi bukanlah soal mengejar nama, keutungan, atau kepentingan pribadi, melainkan tentang memberi tanpa pamrih dan dengan rasa syukur. Mampu melihat satu sama lain sebagai saudara dan saudari se-Dharma, atau sebagai bodhisatwa, dan berjalan bersama para Bodhisatwa sebagai rekan seperjalanan–di situlah nilai hidup kita berada.
Buddha datang ke alam manusia demi satu tujuan luhur. Kita sebagai manusia juga memiliki satu tujuan luhur. Tujuan luhur itu adalah Tzu Chi. “Tujuan” inilah yang menjadi jalinan yang menghubungkan kita semua. Dengan satu tekad dan cita-cita yang sama, kita mewujudkan tujuan agung Buddha datang ke alam manusia yaitu membabarkan Dharma dan membimbing semua makhluk, dengan terjun ke tengah masyarakat untuk bersama-sama menapaki Jalan Bodhisatwa.
Apabila kita tidak mampu melakukannya, sungguh sangat disayangkan. Buddha menyadari penderitaan di alam manusia dan berikrar untuk terjun ke tengah manusia untuk “membuka, menunjukkan, menyadarkan dan menuntun manusia” agar memahami pemikiran dan pandangan-Nya. Buddha telah “membuka” dan “menunjukkan” ajaran kepada makhluk berkesadaran, dengan harapan setiap orang dapat “menyadari” dan “memasuki” ajaran tersebut. Anda dan saya memiliki jalinan jodoh; kalian semua mengenal saya dan mulai mendukung saya dalam menjalankan misi Tzu Chi. Di Jalan Bodhisatwa, kemampuan kalian bahkan melampaui saya. Kalian memiliki keluarga dan pekerjaan yang harus diurus, serta tanggung jawab profesional yang harus dipenuhi, namun tetap mampu meluangkan waktu dan tenaga untuk mengabdikan diri pada misi ini dan terjun langsung melayani masyarakat. Ini sungguh luar biasa. Bagaimana mungkin saya, seorang biksuni seorang diri, dapat menjangkau begitu banyak tempat? Saya membutuhkan kalian semua.
Praktisi Bodhisatwa awam memiliki kesempatan untuk menggarap berkah dan kebijaksanaan dalam jangka waktu yang lama. Ketika dihadapkan dengan berbagai bentuk penderitaan yang dapat dialami oleh makhluk berkesadaran, kalian dapat langsung merangkul dan menopang diri sendiri. Dengan adanya jalinan jodoh dan kesempatan, kalian dapat mendatangi keluarga-keluarga untuk memberikan bimbingan dan perhatian kepada mereka yang sedang kesulitan. Kalian dapat turun tangan sendiri untuk menolong, merawat setiap orang sebagaimana merawat keluarga sendiri –membuka tempayan beras mereka, melihat isi lemari dapur mereka, dan dengan penuh kepedulian bertanya, “Apakah hari ini ada cukup sayur?” atau “Apakah besok masih ada beras?”
Bagaimana caranya agar kita dapat menjadi “makhluk yang tercerahkan”? Kita harus belajar di alam manusia. Hanya dengan terjun ke masyarakat maka kita dapat memiliki jalinan jodoh untuk belajar. Dengan adanya jalinan jodoh untuk belajar maka akan ada jalan untuk kita tapaki di Jalan Bodhisatwa. Hanya ketika Jalan Bodhisatwa itu dapat kita jalani, barulah kita dapat tercerahkan di alam manusia dan menjadi praktisi Buddhis yang sejati.
Dikompilasi dari ajaran Master Cheng Yen ketika sesi sharing dengan Pusat Tanggap Bencana Kaohsiung dan Percakapan dengan Para Relawan Daerah Pingtung pada 4 Juli 2025.
Diterjemahkan oleh: Putri Millenia Hadinata (Tzu Chi Palembang)







Sitemap