Intisari Dharma: Seperti Embun


Pada saat ini, setiap orang melakukan hal yang berbeda. Beberapa orang bersikap peduli pada orang yang membutuhkan dan menguntungkan komunitas mereka. Yang lain berpura-pura dengan cara menyebabkan masalah. Ini semua terjadi dalam detik yang sama. Setiap orang menggunakan detik yang sama secara berbeda. Konsekuensi dari tindakan ini bagaimanapun juga sangat berbeda dan mereka memiliki dampak yang berbeda pada komunitas, masyarakat, dan planet kita.

Ketika banyak orang memiliki hati yang baik dan mental untuk membantu orang lain, dunia dapat menjadi tempat yang indah seperti musim semi dengan segala sesuatu yang tumbuh dan berkembang dengan subur.

Setiap orang dengan hati yang lurus selalu membantu orang lain, tidak mementingkan dirinya sendiri seperti setetes embun. Ketika banyak tetesan embun mengendap di tanah, maka tanah menarik kelembaban dan cukup bergizi. Ketika semua hal yang tumbuh di tanah berkembang, alam berkembang menjadi indah. Tapi seiring dengan banyaknya tetes embun yang terakumulasi, banyak orang yang hatinya tidak lurus, dan orang-orang tersebut juga memiliki dampak yang kuat.

Meskipun hal ini mungkin bukan sesuatu yang kita lihat bisa terjadi, tetapi konsekuensinya sudah mempengaruhi kita. Lihatlah, misalnya bagaimana iklim berubah sebagai akibat dari aktivitas manusia. Hal Ini tidak hanya membawa cuaca ekstrem seperti angin topan, tetapi juga bencana yang terjadi di seluruh dunia dan sering terjadi pada saat yang bersamaan. Ada gempa bumi besar, angin topan, banjir dahsyat, dan kebakaran yang memorak-porandakan hutan.

Bencana-bencana ini dihasilkan dari dampak kumulatif tindakan kita masing-masing di planet ini setiap saat. Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak pilihan yang bisa kita buat seperti akan melindungi lingkungan atau membahayakannya. Sekecil apa pun pilihan dan tindakan ini, planet kita sangat merasakan dampaknya.

Lantas bagaimana keputusan yang harus kita ambil? Tampaknya hal tersebut sangat bergantung oleh keadaan pikiran. Apakah pikiran kita diatur oleh keinginan, kedamaian, atau kepuasan kita?  Keadaan pikiran tentunya menentukan arah tindakan kita. Setiap tindakan memiliki konsekuensinya mengingat efek kumulatif masing-masing dan setiap tindakan, konsekuensinya pun menjadi jauh jangkauannya.

Namun, kebanyakan dari kita jarang memperhatikan ini. Pikiran kita terjebak dalam perasaan senang saat itu ketika suatu keinginan terpuaskan. Tapi, jika kita melihat lebih jauh di jalan, jalan seperti apa yang dijalani oleh tindakan kita?

Dalam sutra Buddhis, Buddha Shakyamuni berbicara tentang Bodhisatwa (bahasa Sansekerta untuk "makhluk yang mencapai pencerahan"), orang-orang ini disebut mencapai pencerahan karena wawasan mereka tentang kebenaran dalam kehidupan. Dua dari kebenaran kehidupan ini adalah bahwa hidup itu tidak kekal dan dunia kita mudah rusak.

Bodhisatwa mendorong orang untuk melihat jauh ke dalam kebenaran tersebut dan menyelidiki fenomena-fenomena alam yang terus berubah. Jika orang dapat mengamati dan memahami hal ini, pola pikir mereka akan mulai berubah. Membangkitkan kebaikan dalam orang-orang ini adalah salah satu cara para Bodhisatwa memenuhi tekad pengabdian mereka terhadap dunia.

Dengan meniru Bodhisatwa, relawan Tzu Chi berusaha untuk sadar akan kebenaran dalam  kehidupan serta membangkitkan kebaikan di hati orang lain. Dalam tindakan amal mereka, seperti misi bantuan bencana untuk Haiti yang dilanda gempa, para relawan tidak hanya memberikan bantuan tetapi berbagi semangat cinta kasih dengan orang-orang tersebut.

Mereka melakukan ini karena mereka memahami bahwa ketika hati orang-orang penuh dengan kebaikan dan mereka mengambil tindakan yang dimotivasi oleh kebaikan, mereka dapat mengubah dunia di sekitar mereka. Masyarakat mereka akan menjadi lebih damai dan harmonis dan perawatan dan perlindungan yang dihasilkan dari lingkungan yang lebih luas akan memungkinkan alam untuk kembali ke keseimbangan dan ketertibannya. Planet ini akan menjadi tempat yang lebih aman untuk hidup.

Di setiap waktu, setiap usaha yang dilakukan oleh satu orang membuat perbedaan sama seperti tetesan embun, kecil dan jarang diperhatikan, bergabung untuk menyuburkan dan merevitalisasi bumi kita.

Bertambahnya satu orang baik di dalam masyarakat, akan menambah sebuah karma kebajikan di dunia.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -