Master's Teaching: Bergabung dengan Para Relawan yang Sehati untuk Terjun ke Masyarakat; Menapaki Jalan Bodhisatwa dengan Keyakinan yang Benar dan Ketekunan


Tugas relawan Tzu Chi adalah terjun ke tengah masyarakat dan menolong mereka yang menderita. Buddha hadir di dunia ini untuk mengajarkan setiap orang agar menjadi Bodhisatwa dan membangkitkan Bodhicitta. “Bodhicitta” berarti “pencerahan.” Banyak orang terperangkap dalam delusi keserakahan, kemarahan, dan ketidaktahuan, melakukan segala sesuatu demi kepentingan diri sendiri. Namun, kita telah beruntung dapat memilih untuk memasuki pintu ajaran dengan pandangan yang benar.

Sebuah agama dengan pandangan yang benar memiliki keyakinan yang benar sebagai tujuan dan arah akhirnya. Buddha datang ke dunia ini untuk mengajarkan Dharma, membimbing arah kita dalam berinteraksi dengan orang lain dan menyikapi berbagai persoalan. Para praktisi Buddhis menggunakan ajaran Buddha untuk melenyapkan ketidaktahuan dan delusi dalam diri mereka sendiri. Terlahir sebagai manusia adalah hal yang langka, dan bertemu dengan ajaran yang memiliki Dharma sejati bahkan lebih langka lagi. Keyakinan kita harus memiliki arah yang benar—kita tidak boleh begitu saja percaya dan memuja apa pun yang kita lihat. Jika kita tidak berjalan di jalan yang benar maka yang kita ikuti adalah takhayul.

Agama-agama yang memiliki keyakinan yang benar bukan hanya Buddha saja, melainkan juga Kristen Protestan, Katolik, Islam, dan lainnya. Bapak Faisal Hu dari Turki adalah seorang Muslim yang taat. Dengan keyakinan yang teguh dan tanpa rintangan di dalam hatinya, ia telah menghayati semangat Tzu Chi. Ajaran Islam juga membawa manfaat bagi sesama dan mengajarkan umatnya untuk berbuat kebajikan.

Bapak Faisal Hu dan Bapak Chen Chiou Hwa dari Yordania bekerja sama dengan sangat baik. Yang satu adalah seorang Muslim, sementara yang lain adalah seorang Buddhis. Meskipun berada di negara yang berbeda, keduanya melayani masyarakat yang menderita di wilayah mereka masing-masing. Walau nama agama mereka berbeda, tetapi jalan yang mereka tempuh adalah sama. Mereka saling menghormati, dan tidak ada hambatan di antara mereka. Ketika orang-orang berbagi aspirasi dan tujuan yang sama, ketika pekerjaan yang ingin mereka lakukan juga sama, inilah yang disebut dengan sebuah misi.

Dengan prinsip yang sama, para relawan Tzu Chi juga harus bersikap hormat ketika mengunjungi wihara atau tempat ibadah agama lain. Kita dapat berbagi kepada mereka dan mengatakan, “Master mengajarkan para relawan Tzu Chi untuk bersungguh-sungguh memberikan manfaat bagi sesama.” Ketika kita membuka Sutra Makna Tanpa Batas, kita dapat mengatakan, “Saya merasa bersukacita saat melihat bagian ini; saya ingin menapaki jalan ini.” Kita dapat mengatakan, “Master telah memberikan penjelasan mengenai bagian sutra ini, dan inilah cara kami semua mempraktikkannya.”

Setiap pintu memiliki jalannya masing-masing, dan kita hanya dapat membagikan cerita tentang itu. Kita menggunakan Sutra untuk menyaksikan penderitaan di dunia ini dan membuktikan bagaimana Bodhisatwa terjun ke Tengah masyarakat. Istilah “Bodhisatwa” berarti “makhluk yang tercerahkan,” yaitu mereka yang menyadari penderitaan di dunia ini. Setiap orang pada hakikatnya memiliki sifat Kebuddhaan. Selama kita memiliki tekad, semua orang dapat menapaki Jalan Bodhisatwa.

Ketika Bapak Lee Teng-hui menjabat sebagai Ketua Pemerintah Provinsi Taiwan, beliau datang untuk menghadiri peletakan batu pertama Tzu Chi Hospital. Ketika beliau mendengar saya menyebutkan kata “misi”, beliau merasa istilah itu sangat tepat. Pada kesempatan lain, beliau secara khusus berkunjung ke Griya Jing Si, dan mengatakan bahwa beliau merasa Tzu Chi sangat dekat dengan masyarakat serta menekankan istilah “relawan bermisi.” Ia berkata, “Setelah mengenal Tzu Chi, saya merasa Tzu Chi sangat cocok untuk terjun ke masyarakat dan kehidupan sosial. Terutama cara Anda menyebut anggota Tzu Chi sebagai ‘relawan bermisi’. Apa perbedaan antara ‘relawan bermisi’ dan relawan biasa?”

Saya menjawab, “Relawan biasa melayani karena kewajiban. jika mereka punya waktu, mereka akan ikut serta tanpa harus memikul banyak tanggung jawab. Namun saya menggunakan istilah ‘relawan bermisi’ karena setiap orang memiliki aspirasi yang sama serta bertekad dan berikrar dari lubuk hati mereka. Hati dan pikiran kami bersatu, dan kesadaran kami menentukan bahwa ini adalah pekerjaan yang bermakna. Selain itu, kami bertekad untuk melakukan pekerjaan baik ini dan bertekad untuk menapaki jalan ini. Inilah sebabnya saya menyebut anggota Tzu Chi sebagai ‘relawan bermisi’.”

Beliau bertanya kembali, “Di masa depan, apakah para relawan di masyarakat bisa disebut ‘relawan bermisi’?”

Saya menjawab, “Selama setiap orang bersedia melayani dengan sepenuh hati, itu adalah hal yang baik, semua orang bisa melakukannya, tidak ada yang salah dengan itu.”

Sebagai Ketua Pemerintah Provinsi Taiwan, Lee Teng-hui bahkan melakukan perjalanan khusus hanya untuk istilah ini—sungguh berjiwa besar! Beliau adalah seorang Kristen yang taat dan juga menghormati berbagai agama. Saya menghormatinya sepanjang hidup saya.

Membangun rumah sakit pada masa itu merupakan sebuah upaya besar. Ketika Tzu Chi perlu secara resmi mengajukan status sebagai sebuah yayasan, saya sangat bertekad untuk menggunakan nama “Yayasan Buddha Tzu Chi”. Saya berharap dapat mempertahankan satu kata tambahan itu: “Buddha.” Sebelum berangkat, saya pergi ke Griya Huayu untuk memberi penghormatan kepada guru saya. Master Yin Shun berkata, “Jangan terlalu melekat. Melekat pada kata ‘Buddha’ mungkin akan membuat yayasan ini sangat sulit untuk disetujui.” Saya berkata kepada guru saya, “Saya harus berusaha—demi ajaran Buddha, demi semua makhluk hidup.” Tujuan membangun rumah sakit ini bukan hanya untuk masyarakat, tetapi juga agar semua orang mengetahui bagaimana ajaran Buddha melayani masyarakat secara luas.

Ketika saya sampai di kantor Pemerintah Provinsi dan berbincang dengan para pejabat di sana, salah satu dari mereka berkata, “Master, apakah Anda benar-benar harus begitu melekat dengan kata ini?”

Saya menjawab, “Jika kita tidak dapat menggunakan ‘Buddha’ maka maknanya akan hilang. Saya seorang Buddhis dan juga seorang monastik. Bagi seorang monastik melayani masyarakat adalah sesuai dengan jati dirinya. Tanpa pendirian ini, makna itu akan hilang.” Dengan demikian, nama “Buddha Tzu Chi” berhasil dipertahankan melalui upaya seperti ini.

Dengan demikian, kedelapan rumah sakit Tzu Chi serta satu kliniknya semuanya mencantumkan kata “Buddha.”

Ketika sesuatu bisa dilakukan, saya akan berusaha untuk mewujudkannya. Ketika sesuatu tidak dapat dilakukan, saya juga memahami dengan jelas hal-hal yang memang seharusnya dilakukan. Meskipun saya tidak memaksakan sesuatu, ada skala prioritas, dan ajaran Buddha juga harus tetap menempatkan dirinya di tengah-tengah masyarakat.

Kita membangun rumah sakit untuk menjaga kehidupan, menjaga kesehatan, dan menjaga kasih. Selama masa pandemi, ketika banyak pasien tidak memiliki tempat untuk pergi, rumah sakit Tzu Chi tidak menolak siapa pun. Saya bersyukur kepada seluruh pimpinan rumah sakit yang telah menjalankan tanggung jawab mereka, menjaga posisi mereka, dan melakukan apa yang harus dilakukan. Singkatnya, ketika kita memiliki tekad untuk memberi, pekerjaan Tzu Chi tidak pernah selesai. Seorang Buddhis sejati turun ke tengah masyarakat untuk melayani.

Dalam hal belajar dan mencapai pencerahan, saya juga masih terus belajar. Membaca Sutra setiap hari, ribuan Sutra dan ajaran semuanya hadir dalam lingkungan besar ini, di mana kita belajar menggunakan Dharma Buddha untuk membimbing setiap orang berjalan di Jalan Bodhisatwa.

Buddha mencapai pencerahan di dunia ini dan disebut sebagai “Yang Maha Tercerahkan”. Ketika batin murni, tubuh murni, dan lingkungan murni, itulah yang disebut “pencerahan. Sebuah tempat pencerahan bukanlah kehidupan yang kumal dan kacau, melainkan sederhana dan berkualitas. Tanah Suci memiliki kualitas dalam karakter dan kualitas dalam lingkungannya. Ketika pikiran murni, tindakan murni, dan tempat pembinaan spiritual murni, demikianlah sebuah tempat pencerahan.

Disusun berdasarkan wejangan Master Cheng Yen pada pertemuan Tim Penyambutan pada tanggal 1 Agustus 2025.

Diterjemahkan oleh: Putri Millenia Hadinata (Tzu Chi Palembang)
Keindahan kelompok bergantung pada pembinaan diri setiap individunya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -