Master Bercerita: Api Kebencian Memicu Perang


Jika kita membangun tekad agung untuk membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain serta menyadarkan diri sendiri dan orang lain, hati kita akan menjadi sangat lapang. Membawa manfaat bagi orang lain berarti membawa manfaat bagi diri sendiri. Menyadarkan orang lain juga berarti menyadarkan diri sendiri.

Jika bisa berpegang pada prinsip seperti ini,secara alami hati kita akan makin lapang. Jadi, dengan membawa manfaat bagi orang lain terlebih dahulu, kita secara alami juga akan memperoleh manfaat. Contohnya komunitas kita. Dengan menciptakan keharmonisan di tengah komunitas dan menyucikan hati orang-orang agar semua orang hidup damai dan bahagia, bukankah kita juga akan memperoleh kedamaian dan kebahagiaan?


Jadi, kita harus memahami bahwa membawa manfaat bagi orang lain berarti membawa manfaat bagi diri sendiri. Untuk membawa manfaat bagi diri sendiri, kita harus terlebih dahulu membawa manfaat bagi orang lain. Dengan prinsip seperti ini, apa pun yang kita lakukan, kita akan dapat berinteraksi secara harmonis dengan semua orang. Dengan demikian, komunitas kita akan menjadi komunitas yang paling bahagia dan damai.

Jika bertekad dan bersedia untuk berinteraksi dengan semua orang dan bersumbangsih di tengah masyarakat, kita hendaknya menjauhi segala kejahatan dan pandangan sesat. Buddha mengajari kita untuk berhati-hati dalam memilih teman, tempat kita berada, dan orang yang dekat dengan kita. Jadi, Buddha mengajarkan apa yang hendaknya kita jauhi.


Berhubung baru mulai mencari Dharma, kita harus memperteguh pikiran kita karena pikiran kita belum sempurna. Kita belum memiliki keyakinan yang mendalam dan pemahaman terhadap Dharma. Orang yang belum memahami Dharma secara tuntas mudah terpengaruh oleh ajaran sesat sehingga berjalan menyimpang. Kondisi luar sangatlah kompleks. Tanpa keyakinan yang teguh, kita akan mudah terbuai. Karena itulah, Buddha mengajari kita untuk menjauhi segala kejahatan.

Dahulu, ada seorang penebang kayu yang menafkahi keluarganya dengan menebang kayu. Setiap hari, dia pergi ke wilayah pegunungan dan bekerja keras menebang kayu. Setelah itu, dia akan membawa kayu-kayu itu untuk dijual. Dia harus mengeluarkan tenaga yang sangat besar, tetapi penghasilannya sangat kecil. Hasil penjualan kayu hanya cukup untuk membeli beras dan sayuran. Dia sangat bersusah payah.


Suatu hari, dia pulang ke rumah dengan hati penuh keluh kesah. Saat jam makan tiba, dia pun terus berkeluh kesah dan mengatakan bahwa dia bersusah payah setiap hari hanya demi makan tiga kali sehari. Saat dia pulang dan hendak makan, makanan malah belum siap. Amarahnya meluap dan dia terus memarahi istrinya.

Berhubung dimarahinya tanpa alasan yang jelas dan makanan di atas meja belum lengkap, istrinya pun masuk ke dapur dan memarahi putrinya. Tiba-tiba dimarahi sang ibu, sang putri juga merasa bingung dan tidak mengerti. Di tengah kebingungan, dia yang tengah memasak lupa bahwa dia telah menambahkan garam dan kembali menambahkannya lagi. Akhirnya, makanan siap disajikan di atas meja dan mereka bertiga dapat duduk untuk makan.


Setelah mencicipi makanan,penebang kayu itu berkata, "Mengapa asin sekali?" Amarahnya kembali terbangkitkan dan dia mengomel dengan lantang. Setelah itu, dia pergi lagi dengan membawa parang. Dia bertemu dengan sekelompok penebang kayu dan terus bercerita dengan gusar. Di lereng gunung, mereka berjalan sambil berbicara. Penebang kayu itu makin bercerita makin gusar dan mulai mengayun-ayunkan tangannya. Dia lupa bahwa dia tengah memegang parang.

Berhubung dia mengayunkan tangan dengan kencang, parang di tangannya pun terlepas dan melayang ke udara. Di kaki gunung ada sekelompok orang yang lewat dan parang yang melayang tadi kebetulan melukai satu orang di antara mereka. Orang ini bukanlah orang biasa, melainkan putra mahkota negeri tetangga.


Melukai putra mahkota negeri tetangga adalah hal yang sangat serius. Raja negeri tetangga sangat murka. Berhubung parang itu jatuh dari lereng gunung, dia merasa bahwa ini adalah pembunuhan berencana. Karena itu, dia pun menggerakkan pasukannya untuk menghancurkan negeri ini.

Kedua negeri ini semula bersahabat. Namun, seorang penebang kayu yang tengah gusar dan tidak sengaja menjatuhkan sebuah parang malah melukai putra mahkota negeri tetangga dan membuat kedua negeri ini berperang sehingga banyak orang yang tewas dan terluka. Jadi, percikan api saja dapat menghanguskan hutan yang luas. Kobaran api kemarahan dan kebencian dapat memicu terjadinya bencana di dunia ini.


Kini, kita sering membahas tentang pengungsi. Bukankah pengungsi ditimbulkan oleh segelintir orang yang terus membangkitkan kebencian sehingga bertindak dan berbicara secara impulsif dan membuat banyak orang menderita? Karena itu, kita harus sangat waspada. Jika kita tidak dapat mengendalikan pikiran kita, pikiran kita akan bergejolak dan kebencian pun terbangkitkan. Jika demikian, kita tidak bisa melatih diri dan akan terus mengakumulasi ketamakan, kebencian, dan kebodohan yang merupakan tiga racun batin. Jadi, jangan biarkan api kebencian berkobar di dalam pikiran kita.

Sumber: Program Master Cheng Yen Bercerita (DAAI TV)
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Felicia (DAAI TV Indonesia)
Penyelaras: Khusnul Khotimah
Lebih mudah sadar dari kesalahan yang besar; sangat sulit menghilangkan kebiasaan kecil yang buruk.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -