Master Bercerita: Balas Budi Kura-kura

Setiap hari, kita harus ingat bahwa Buddha datang ke dunia ini untuk mengajari kita menyelaraskan pikiran. Di dunia ini, ada berbagai jenis orang. Salah satunya adalah orang baik yang berbuat baik. Saat melihat orang lain berbuat baik dan bertutur kata baik, ada orang yang turut bersukacita dan memuji, tetapi ada pula orang yang mengkritik dan memfitnah mereka.

Saat melihat orang lain berbuat jahat, ada orang yang meningkatkan kewaspadaan, bahkan berusaha untuk membantu mereka mengubah pola pikir. Jadi, semua makhluk di dunia ini memiliki kehidupan dan pikiran yang berbeda-beda. Demi menyelaraskan pikiran orang-orang, Buddha datang ke dunia ini untuk mengajari dan membimbing kita.

Kita semua tahu bahwa sebagian besar orang memuji perbuatan baik. Mereka juga bisa tersentuh dan terinspirasi. Jadi, sebagian besar orang dapat menyerap ajaran Buddha. Demikianlah kondisi sekarang. Sesungguhnya, di masa lampau pun demikian. Ini sesuai dengan kebenaran bahwa sifat hakiki semua makhluk adalah bajik.


Dalam Sutra, terdapat sebuah kisah. Ada seorang ayah dan putranya yang hidup serba kekurangan. Lahan yang mereka miliki tidak luas, tetapi mereka sangat bersungguh hati menggarapnya. Suatu hari, sang ayah meletakkan tabungannya di hadapan putranya dan berkata, "Bertani sungguh sangat melelahkan. Belilah seekor kerbau di kota untuk membantu kita bekerja." Putranya berkata, "Baiklah, saya akan pergi ke kota. Ayah tidak perlu khawatir, saya akan segera pulang."

Sang ayah berkata, "Simpan uangnya baik-baik. Perjalanan sangat jauh, jangan sampai uangnya hilang." Putranya menjawab, "Saya akan berhati-hati." Kemudian, putranya pun berangkat. Perjalanan sungguh sangat jauh. Saat tiba di tepi sungai, dia sungguh sangat lelah. Dia duduk di atas sebuah batu dan memakan bekalnya. Dia memandangi sungai di hadapannya yang begitu lebar dan berpikir bagaimana menyeberanginya.

Saat memandangi sungai itu, dia mendengar ada lima hingga enam anak yang bermain di kejauhan. Usai makan, dia berjalan menghampiri anak-anak itu untuk melihat apa yang mereka lakukan. Awalnya, dia mengira mereka sedang mengetuk batu. Namun, saat melihat lebih saksama, ternyata itu adalah lima ekor kura-kura. Ada seekor kura-kura besar dan empat ekor yang lebih kecil.


Melihat anak-anak itu membalikkan kura-kura, memutarkan mereka, dan mengetuk tempurung mereka agar menjulurkan kepala, anak muda ini merasa tidak tega. Dia berkata pada anak-anak itu, "Mengapa kalian mempermainkan kura-kura seperti ini? Mereka juga merupakan makhluk hidup. Mereka juga bisa merasa sakit dan takut." Anak-anak itu berkata, "Kami bersusah payah baru bisa menangkap mereka. Memainkan mereka sangat menyenangkan."

Anak muda ini berkata, "Kalian tahu bahwa kura-kura juga merupakan makhluk hidup. Perbuatan kalian tidak benar." Anak-anak itu tak menghiraukan perkataannya, malah mengikat kura-kura itu dengan seutas tali. Anak muda ini merasa sangat tidak tega. Dia berkata, "Ke mana kalian akan membawa mereka?" Anak-anak itu berkata, "Kami akan menjualnya. Dengan begitu, kami bisa mendapat uang." Anak muda ini berkata, "Berapa harganya?" Anak-anak itu menyebutkan jumlah yang sangat besar.  Dia lalu meraba-raba uang yang dibawanya. Dia sungguh merasa tidak tega.

Jadi, dia berkata pada anak-anak itu, "Ini adalah semua uang yang saya miliki. Berikan semua kura-kura itu pada saya dan saya akan memberikan semua uang ini." Akhirnya, setelah menerima uangnya, anak-anak itu memberikan semua kura-kura itu. Anak muda ini segera berjongkok, dengan hati-hati melepaskan kura-kura itu satu per satu dari ikatan tali, dan berkata pada mereka, "Kalian tidak perlu takut. Kalian bisa pulang dengan tenang."


Dia membawa semua kura-kura itu ke tepi sungai satu per satu. Namun, kelima kura-kura itu enggan pergi. Anak muda ini pun berkata, "Pergilah." "Saya menghabiskan begitu banyak uang hanya demi melihat kalian berenang di sungai dengan gembira."  Lalu, semua kura-kura itu berenang menjauh. Anak muda ini sangat senang melihatnya, tetapi juga harus menghadapi kenyataan.

Berhubung sudah tidak memiliki uang sepeser pun, dia hanya bisa pulang ke rumah. Setelah pulang ke rumah, dia menjelaskan semuanya pada ayahnya. Mendengarnya, ayahnya tersenyum dan berkata, "Kamu melakukannya dengan baik. Menggunakan uang itu untuk menyelamatkan lima nyawa lebih bermakna daripada membeli seekor kerbau." Malam itu, saat mereka sedang tidur, terdengar suara ketukan pintu. Ayahnya pun bangun.

Ternyata, ada seekor kerbau di depan pintu. Di leher kerbau itu digantung selembar kertas yang menjelaskan bahwa demi membalas budi, kelima kura-kura itu mengumpulkan serpihan emas di sungai dan menukarnya dengan seekor kerbau untuk penyelamat mereka.


Meski kisah ini terdengar seperti dongeng, tetapi ia mengandung prinsip kebenaran. Setiap orang memiliki pandangan hidup yang berbeda. Meski ayah dan anak ini harus sangat bekerja keras, tetapi mereka menghormati kehidupan. Mereka memiliki akhlak yang mulia. Namun, lain halnya dengan anak-anak itu yang menganiaya makhluk lain dengan kejam hanya demi bersenang-senang. Ini menunjukkan bahwa pandangan hidup setiap orang berbeda-beda.

Buddha mengajari kita untuk memiliki pikiran dan pandangan benar. Jika setiap orang bisa senantiasa berpikiran dan berbuat baik, maka dunia ini akan menjadi sangat indah. Jika melihat ada orang yang melukai makhluk lain dengan kejam, kita juga tidak akan menyukainya. Jika kita melihat ada orang yang melindungi makhluk lain dengan penuh cinta kasih, hati kita akan dipenuhi kehangatan. Ini berarti kita memiliki rasa empati. Buddha mengajari kita untuk menyelaraskan pikiran. Saat melihat orang baik yang berbuat baik, kita hendaknya meneladaninya. Tentu, kita harus lebih bersungguh hati.

Beriman hendaknya disertai kebijaksanaan, jangan hanya mengikuti apa yang dilakukan orang lain hingga membutakan mata hati.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -