Master Bercerita: Hukuman Atas Meminum Air

Sebersit pikiran adalah sebutir benih. Seperti yang sering saya katakan, kita harus menjaga pikiran dengan baik untuk menanam dan menumbuhkan benih yang baik. Jika membangkitkan sebersit pikiran buruk, berarti kita menanam benih yang buruk.

Dalam ajaran Buddha dikatakan bahwa saat sebutir benih ditanam, ia pasti akan berbuah. Inilah hukum sebab akibat. Buah karma yang kita peroleh sekarang merupakan hasil dari benih karma yang pernah kita tanam.

 

Kita terlahir di kehidupan sekarang dengan membawa benih dari kehidupan lampau. Di kehidupan sekarang, baik atau buruknya kondisi kehidupan kita, penderitaan atau kebahagiaan yang kita rasakan, serta panjang atau pendeknya usia kita, semuanya tak luput dari benih yang kita tanam di kehidupan lampau. Karena bertemu dengan berbagai kondisi di atas, kita tetap terus menanam benih karma baru.

Benih-benih ini yang akan menentukan kondisi kita di masa mendatang, sedangkan kondisi sekarang mendorong kita menanam benih karma baru. Demikianlah siklus sebab akibat ini terus berlanjut.

Dalam Sutra Pengumpulan Enam Paramita, dikatakan bahwa Buddha pernah berbagi dengan para murid-Nya tentang kehidupan lampau-Nya.

Ada seorang raja yang memimpin rakyatnya dengan penuh welas asih. Dia tidak mengatur rakyatnya dengan ketat, tetapi semua orang menaati aturan.

Ada seorang petapa yang berpegang pada sila dan kebenaran. Raja sangat menghormatinya.

Suatu hari, saat sedang berjalan, petapa itu merasa sangat haus. Dia lalu berjalan ke sebuah kolam di sekitar sana. Air kolam terlihat sangat jernih. Dia lalu membungkukkan badan dan meraup air untuk diminum.

Setelah meminum air, dia berpikir, "Kolam ini juga milik seseorang. Apakah aku melanggar sila mencuri?" Semakin dipikirkan, dia semakin tidak tenang.

Dia berpikir, "Jika aku mencuri, kelak aku akan terlahir di alam neraka. Lebih baik aku meminta hukuman sekarang."

Dia lalu menghadap raja dan berkata, "Aku telah berbuat salah. Aku meminum air kolam di dekat sawah tanpa persetujuan dari pemiliknya."

Mendengarnya, raja merasa sangat lucu dan berkata, "Air adalah sumber daya alam. Apa salahmu meminum air dari kolam?"

Petapa itu berkata, "Aku meminum air di kolam itu tanpa persetujuan dari pemiliknya. Itu termasuk mencuri. Jika tidak dihukum di kehidupan sekarang, aku akan menerima akibatnya di kehidupan mendatang. Yang Mulia, hukumlah aku."

 

Karena tidak berdaya, raja pun berkata, "Sekarang aku sangat sibuk. Begini saja, engkau duduklah di taman bunga sebentar. Aku akan menghukummu saat ada waktu luang."

Raja menyuruh putra mahkota untuk mendampingi petapa itu ke taman bunga dan mencari tempat duduk untuknya.

Putra mahkota pun membawanya ke taman bunga dan membiarkannya duduk di suatu tempat.

Enam hari kemudian, raja tiba-tiba teringat akan hal ini dan ingin tahu di mana petapa itu berada. Raja lekas mengutus orang untuk mencarinya. Petapa itu masih duduk di sana.

Selama 6 hari, dia tidak makan dan minum. Saat menghadap raja, dia tidak sanggup berdiri dan jatuh pingsan.

Raja segera menyuruh pengawal untuk memapahnya ke samping. Makan siang bernutrisi pun disiapkan untuknya.


Raja berkata kepada petapa itu, "Ini adalah kesalahanku. Aku lupa bahwa engkau masih berada di taman bunga. Engkau tidak makan dan minum selama 6 hari karena keteledoranku. Sebagai seorang raja, aku secara langsung memberi persembahan dan meminta maaf padamu."

Petapa itu berkata, "Aku sedang menunggu hukuman Yang Mulia."

Raja berkata, "Selama 6 hari tidak makan dan minum, bukankah ini sudah hukuman yang berat?"

Mendengar ucapan raja, petapa itu pun tenang.

Dia berkata, "Aku telah menerima hukuman dari Yang Mulia. Saya sangat bersyukur."

Raja terharu hingga menangis. Namun, permaisuri yang berada di belakangnya menertawakan keteledorannya.

Kemudian, petapa itu pun pulang.

 

Usai menceritakan kisah ini, Buddha berkata kepada para murid-Nya, "Apakah kalian tahu konsekuensi dari keteledoran raja selama 6 hari itu? Beberapa kehidupan setelah itu, Aku terlahir di dunia ini dan berikrar untuk melatih diri. Dalam proses melatih diri setelah meninggalkan istana, Aku kelaparan selama 6 tahun. Raja itu adalah kehidupan lampau-Ku. Permaisuri yang tertawa di belakang raja adalah kehidupan lampau Yasodhara. Hanya karena menertawakan raja, Yasodhara mengandung selama 6 tahun setelah Aku meninggalkan istana sehingga seluruh rakyat meragukan kesetiaannya. Putra mahkota yang membawa petapa itu ke taman bunga dan meninggalkannya di sana adalah kehidupan lampau Rahula. Karena keteledorannya, dia harus tinggal di rahim ibunya selama 6 tahun."
 

Lihatlah, kesalahan 6 hari yang tidak disengaja bisa mendatangkan akibat selama 6 tahun. Meski kesalahan ini tidak disengaja, tetapi benih yang telah ditanam pasti akan berbuah. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus senantiasa menjaga pikiran kita.

Meski terkadang kita melakukan kesalahan tanpa disengaja, tetapi itu tetaplah kesalahan. Jadi, jika kita melakukan kesalahan, kita tidak akan bisa menghindari kondisi dan buah karmanya kelak. Jadi, bertemu kondisi baik atau buruk bergantung pada perbuatan kita di masa lampau.

Meski bertemu kondisi yang tidak baik, kita juga harus mengubahnya menjadi baik. Meski saat ini menghadapi banyak kesulitan, kita harus menganggapnya sebagai proses untuk mengikis karma buruk kita.

Sumber: Program Master Cheng Yen Bercerita (DAAI TV)
Penerjemah : Hendry, Karlena, Marlina, (DAAI TV Indonesia)
Penyelaras : Khusnul Khotimah
Kebahagiaan berasal dari kegembiraan yang dirasakan oleh hati, bukan dari kenikmatan yang dirasakan oleh jasmani.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -