Master Bercerita: Kisah si Penyu dan si Pedagang


Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus membina cinta kasih dan rasa syukur. Orang yang memiliki cinta kasih baru bisa bersumbangsih bagi masyarakat dan orang yang tahu bersyukur baru bisa membalas kebaikan orang lain. Saat masih hidup, ini jugalah yang selalu Buddha ajarkan. Buddha mengajari murid-murid-Nya untuk senantiasa membina rasa syukur, cinta kasih, dan welas asih di dalam hati. Akan tetapi, sebagai makhluk awam, berapa banyak orang yang dapat memahami makna dari ajaran Buddha?

Contohnya Devadatta, salah satu murid Buddha. Awalnya, dia adalah murid Buddha. Dia juga merupakan adik sepupu Buddha dan seorang pangeran yang akhirnya meninggalkan keduniawian. Setelah meninggalkan keduniawian, dia merasa bahwa sebagai saudara sepupu, Buddha hendaknya membagikan lebih banyak ajaran padanya dan mengajarinya terlebih dahulu sebelum mengajari orang lain. Namun, Buddha memandang setara semua murid-Nya. Terlebih, Buddha menyadari niat buruk Devadatta. Karena itu, Buddha menolak permintaan Devadatta.


Devadatta lalu menyimpan dendam terhadap Buddha yang menolak membagikan lebih banyak ajaran padanya. Dia menyalahkan Buddha atas hal ini. Karena itulah, dia berpikir untuk mencapai posisi yang setara dengan Buddha dan menjadi Buddha baru di masa mendatang. Untuk menjadi Buddha baru, dia harus menggulingkan Buddha yang ada sekarang. Untuk itu, dia harus memiliki pengikut. Dengan kecerdikan dan kemampuan berbicaranya, dia terus memengaruhi para anggota Sangha sehingga memiliki sekelompok pengikut dalam Sangha.

Belakangan, Devadatta berkomplot dengan Ajatasatru untuk menyingkirkan Buddha agar dia dapat menggantikan posisi Buddha. Mereka memikirkan berbagai cara untuk mencelakai Buddha. Devadatta pernah membuat mabuk sekawanan gajah agar saat Buddha muncul, gajah-gajah itu menabrak Buddha dan menginjak-Nya hingga mati. Dengan welas asih dan kekuatan batin-Nya, Buddha berhasil menaklukkan kawanan gajah dan selamat dari bahaya kali itu.


Kemudian, Devadatta mengupah para pemanah ulung dan meminta mereka untuk bersembunyi di atas pohon. Saat Buddha akan pergi ke kota untuk mengumpulkan makanan, para pemanah menyiapkan busur dan anak panah, lalu melepaskan anak panah ke satu arah yang sama di bawah perintah Devadatta. Anak panah dari berbagai penjuru memelesat ke arah Buddha.

Melihat semua anak panah berjatuhan dari langit, semua orang sangat takut. Saat itu, Buddha berdiri diam dan anak panah terus berjatuhan dari langit. Buddha lalu tersenyum dan melihat pohon-pohon di sekeliling-Nya. Para pemanah di atas pohon sangat tercengang dan dengan sendirinya melompat turun dari pohon serta bersujud ke arah Buddha sambil bertobat.


Buddha pun membabarkan Dharma kepada mereka. Lalu, mereka bertanya kepada Buddha, "Yang Dijunjung begitu penuh welas asih. Mengapa Devadatta begitu kejam dan berulang kali berusaha untuk membunuh-Mu? Apakah jalinan jodoh di baliknya?" Buddha menghela napas dan berkata, "Bukan hanya di kehidupan sekarang, dia telah berusaha untuk mencelakai-Ku di berbagai kehidupan lampau."

Buddha menceritakan bahwa dahulu ada seorang pedagang. Dalam perjalanan pulang dari pelayaran untuk berdagang, kapalnya bertemu pusaran air sehingga berputar-putar di lautan dan tidak bisa berlabuh. Saat itu, ada seekor penyu yang membahayakan nyawanya untuk mengangkat kapal dengan tubuhnya agar kapal ini dapat melewati pusaran tersebut dan berlabuh.


Penyu ini mengerahkan tenaga yang sangat besar sehingga merasa sangat lelah dan tertidur di pantai. Kapal selamat tanpa kerugian sedikit pun dan semua orang selamat. Namun, pedagang ini merasa bahwa setelah sehari lebih, persediaan pangan mereka telah habis dan mereka merasa lapar. Di mana mereka bisa memperoleh makanan?

Melihat penyu besar ini tertidur di pantai, pedagang itu mengambil sebilah pisau. Pedagang lain berusaha menghentikannya dengan berkata, "Jangan membunuhnya. Penyu ini telah menyelamatkan nyawa kita. Kita seharusnya membalas budinya. Bagaimana bisa kita membunuhnya?" Pedagang itu berkata, "Manusia lebih penting. Penyu tidaklah penting." Dia tidak menghiraukan nasihat orang lain dan tetap membunuh penyu itu.


Bercerita sampai di sini, Buddha berkata, "Tahukah kalian bahwa pedagang itu adalah kehidupan lampau Devadatta dan penyu itu adalah kehidupan lampau-Ku? Selama berkalpa-kalpa yang tak terhitung, Aku terus membantu Devadatta, tetapi Devadatta selalu membalas kebaikan dengan keburukan. Namun, berkat Devadatta, barulah Aku bisa seperti sekarang. Karena itu, di dalam hati-Ku tidak ada sedikit pun rasa dendam ataupun benci. Yang ada hanyalah rasa syukur."


Dari kisah ini, kita tahu betapa pentingnya cinta kasih dan welas asih. Dengan adanya cinta kasih dan welas asih, kita akan tahu untuk bersyukur. Meski tengah menghadapi rintangan, kita tetap akan memiliki rasa syukur. Benar, tanpa Devadatta, mana ada Buddha Sakyamuni yang sekarang? Tanpa rintangan, bagaimana kita bisa mengetahui pelatihan diri, cinta kasih, welas asih, dan kelapangan hati seseorang? Jadi, jika ingin meneladan Buddha, kita harus meneladan kelapangan hati, cinta kasih, dan welas asih Buddha serta senantiasa tahu untuk bersyukur dan membalas budi.  

Sumber: Program Master Cheng Yen Bercerita (DAAI TV)
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, (DAAI TV Indonesia)
Benih yang kita tebar sendiri, hasilnya pasti akan kita tuai sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -