Master Bercerita: Persembahan Ikan si Pedagang

Waktu berlalu dengan sangat cepat dan tidak menunggu siapa pun. Karena itu, kita harus menggenggam waktu untuk tekun dan bersemangat melatih diri. Jika tidak, waktu terus berlalu, tetapi kita akan berhenti di tempat, tidak bisa melangkah maju.

Dalam hidup ini, kita sungguh perlu menyadari kebenaran, baru bisa menyesuaikan diri dengan dunia. Jika tidak memahami kebenaran, kita tidak akan bisa menyesuaikan diri dan akan sangat tersiksa di dunia ini.

Hari demi hari berlalu dengan cepat, bagaimana kita memahami kebenaran di dunia? Dengan lebih bersungguh hati setiap waktu. Tzu Chi bisa berjalan hingga kini berkat cinta kasih dan kerja keras banyak orang. Berkat upaya tanpa henti, kini misi amal kita tersebar luas di tengah masyarakat, bahkan dunia internasional.

 

Ini berkat sumbangsih tanpa pamrih semua orang. Sungguh, tidak memiliki pamrih sangatlah penting. Jika kita memiliki pamrih atas hal-hal yang kita lakukan, yang kita dapatkan ialah kerisauan.

Saya ingin berbagi satu kisah dengan kalian.

Ada seorang raja di Tibet yang sangat suka makan ikan. Tanpa ikan, dia tidak bisa makan. Di negeri itu, ikan yang bagus pasti diantarkan ke istana.

Suatu kali, terjadi kekeringan yang mengakibatkan sungai mengering. Sungai sudah mengering, ke mana harus mencari ikan?

 

Selama beberapa waktu tidak makan ikan, raja tersebut merasa sangat tersiksa. Karena itu, dia mengeluarkan pengumuman bahwa siapa pun yang memiliki ikan asin boleh mempersembahkannya ke istana. Orang-orang pun mempersembahkan ikan asin ke istana.

Beberapa waktu kemudian, ikan asin pun habis. Raja kembali mengeluarkan pengumuman bahwa siapa pun yang mempersembahkan ikan ke istana, raja akan mengabulkan semua permintaannya.

Seorang pedagang yang berada di luar negeri tahu bahwa sang raja menginginkan ikan. Jadi, dia pulang dengan membawa seekor ikan yang bagus dan sangat langka.

 

Saat dia mengantarkan ikan ini sampai pintu gerbang istana, seorang pengawal mengadangnya dan bertanya, "Ada apa datang ke sini?"

Pedagang itu berkata, "Aku hanya ingin mempersembahkan ikan kepada Yang Mulia."

Pengawal itu berpikir, "Jika aku yang mempersembahkan ikan ini kepada Yang Mulia, aku bisa mendapat hadiah besar." Karena itu, dia berkata pada pedagang itu, "Tinggalkan ikannya di sini. Aku akan mengantarkannya kepada Yang Mulia."

 

Namun, pedagang itu berkata, "Aku harus mempersembahkannya secara langsung kepada Yang Mulia."

"Bagaimana jika ikanmu dijual padaku saja?" tanya pengawal.

"Aku tetap ingin mempersembahkannya secara langsung kepada Yang Mulia,” jawab pedagang.

 

"Baiklah, tetapi dengan satu syarat. Hadiah apa pun yang Yang Mulia berikan padamu, engkau harus memberiku setengahnya." Kata pengawal.

"Baik, aku bersumpah. Sebanyak apa pun hadiah yang aku peroleh dari Yang Mulia, aku pasti akan memberimu setengahnya." Pengawal itu lalu membiarkannya masuk.

Pedagang itu berpaling dan bertanya, "Siapa namamu? Jika aku mendapat hadiah dari Yang Mulia, bagaimana aku memberikannya padamu?"

Pengawal itu berkata, "Aku punya julukan 'Banteng Bermata Satu'."

Mencium aroma ikan saja, raja itu sudah sangat gembira. Raja bertanya pada pedagang itu, "Apa permintaanmu?"

Pedagang itu berkata, "Aku hanya meminta untuk dipukul seribu kali."

Raja mengira dirinya salah dengar dan berkata, "Engkau tidak salah bicara?"

Pedagang itu berkata, "Tidak. Aku hanya meminta untuk dipukul seribu kali."

Berhubung itulah permintaannya, raja hanya bisa memerintahkan para pengawal untuk memukulnya dengan pelan tanpa melukainya. Pengawal sungguh memukulnya dengan pelan tanpa melukainya.


Setelah dipukul 500 kali, pedagang itu berkata, "Berhenti. Bagianku sudah cukup. Sisanya untuk diberikan pada orang lain."

Mendengar ucapannya, raja merasa heran siapa yang dimaksudnya dengan orang lain.

Pedagang itu pun menceritakan percakapannya dengan pengawal di gerbang istana kepada raja. Raja sangat murka mendengarnya dan memerintahkan para pengawal untuk menangkap "Banteng Bermata Satu".


Raja berkata, "Pedagang itu telah menerima setengah dari hadiahnya, sisanya adalah milikmu. Pengawal, pukul dia dengan keras." Dia benar-benar dipukul dengan keras sebanyak 500 kali. Kulitnya sampai bengkak dan berdarah.

Kisah ini bertujuan untuk mengajari dan menginspirasi kita. Meski kisah ini terdengar lucu, tetapi jika dipikirkan, pedagang itu ingin mempersembahkan ikan kepada raja, maka raja pasti sangat gembira. Meski dia meminta untuk dipukul, raja juga akan memerintahkan untuk memukulnya dengan pelan. Jadi, meski dipukul 500 kali, dia tidak terluka.

Pengawal itu tidak ada kontribusi apa pun, tetapi ingin mendapatkan bagian dari hadiah. Dia ingin mendapatkan keuntungan tanpa berupaya dahulu. Perbuatannya telah melanggar aturan sehingga mendapat hukuman berat.


Dalam perjalanan mendalami Dharma, Buddha mengajari kita untuk mempraktikkan dana, disiplin moral, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Berdana hendaklah dilakukan tanpa pamrih.

Tzu Chi bisa memperoleh pengakuan, kepercayaan, dan pujian orang-orang berkat sumbangsih tanpa pamrih para relawan. Selain bersumbangsih tanpa pamrih, kita juga mengucap syukur, berbeda dengan pengawal yang tidak bersumbangsih, tetapi ingin memperoleh sesuatu.

Ini bagai orang-orang yang berdoa kepada Buddha untuk memohon berkah dan perlindungan. Kebaikan apa yang telah kita lakukan? Atas dasar apa kita memohon Buddha untuk melindungi kita?


Intinya, bersumbangsih adalah kewajiban kita. Jika kita menginginkan sesuatu tanpa bersumbangsih, berarti kita melanggar prinsip kebenaran. Ini bukanlah ajaran yang benar.

Kita hendaknya bersumbangsih tanpa pamrih. Lakukan saja hal yang benar. Menciptakan berkah bagi masyarakat merupakan berkah bagi diri sendiri.

Sumber: Program Master Cheng Yen Bercerita (DAAI TV)
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina, (DAAI TV Indonesia)
Penyelaras: Khusnul Khotimah

Kita hendaknya bisa menyadari, menghargai, dan terus menanam berkah.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -