Master Bercerita: Putri yang Berbakti


Setiap hari, saya berkata bahwa saya berharap setiap orang dapat membangkitkan niat tertulus. Ketulusan ini dapat menjangkau seluruh alam semesta serta para Buddha dan Bodhisatwa. Niat kita yang tulus dapat menjangkau para Buddha dan Bodhisatwa.

Saya sering berkata bahwa pikiran manusia yang bergejolak dapat menciptakan karma buruk. Saat pikiran kita bergejolak, kegelapan dan noda batin pun terbangkitkan. Tiga inci di atas kepala ada dewa. Karena itu, suara hati kita yang tulus tentu dapat menjangkau para Buddha. Jadi, mari kita senantiasa ingat untuk menjaga pikiran kita serta tulus setiap waktu dalam menghadapi setiap hal dan orang.


Di mana pun berada, kita hendaknya membina ketulusan. Kita harus menghormati langit, mengasihi bumi, memupuk berkah, dan yakin terhadap para makhluk pelindung Dharma dan dewa. Asalkan kita membangkitkan niat untuk melatih diri, maka makhluk pelindung Dharma akan ada di sekeliling kita. Jadi, kita harus senantiasa menjaga pikiran dan menghormati para makhluk pelindung Dharma.

Suatu ketika, ada seorang hakim daerah yang jujur. Dia sangat peduli pada rakyatnya sehingga dihormati dan dikasihi orang-orang. Saat tiba waktunya pensiun, dia sangat miskin dan pulang ke kampung halamannya bersama putrinya. Saat dia pulang ke kampung halamannya, warga desa merasa sangat bangga dan menyambutnya dengan hangat.


Beberapa tahun kemudian, dia sudah berusia lanjut dan jatuh sakit, tetapi tidak memiliki uang untuk berobat. Setiap hari, putrinya berada di sisinya untuk menjaganya sehingga tidak bisa pergi ke vihara untuk memuja Buddha. Putrinya lalu mendapat sebuah ide.

Suatu hari, pagi-pagi sekali, dia pergi ke vihara dan berkata kepada kepala vihara, "Aku ingin datang setiap hari untuk memuja Buddha dan berdoa demi kesehatan ayahku, tetapi aku tidak bisa meninggalkannya di rumah. Apa yang harus aku lakukan?"


Kepala vihara berkata padanya, "Engkau bisa meletakkan meja sembahyang di depan rumahmu setiap hari dan bersujud dengan menghadap ke arah vihara untuk berdoa dengan tulus." Dia pun pulang ke rumah. Dia berjalan pulang sambil menghitung jumlah langkahnya hingga tiba di rumah.

Setiap hari, dia meletakkan meja sembahyang di depan rumah dengan arah menghadap ke vihara. Berapa langkah yang dibutuhkan untuk berjalan dari rumahnya ke vihara, sebanyak itulah dia bersujud. Setiap kali bersujud dianggapnya berjalan selangkah. Setelah itu, dia melakukan meditasi berjalan dengan tulus. Dari hari ke hari, kesehatan ayahnya membaik hingga akhirnya sembuh. Meski demikian, dia tetap memuja Buddha seperti itu setiap hari.


Tahun itu, seorang pemuda setempat yang memperoleh peringkat pertama dalam ujian kenegaraan pulang untuk memberi persembahan kepada leluhur. Berhubung merasa bahwa itu merupakan berkat dari para Buddha dan Bodhisatwa, ibu pemuda tersebut pun mengutus orang ke vihara untuk menyampaikan bahwa putranya akan datang untuk membakar dupa pertama keesokan harinya. Kepala vihara pun berpesan pada yang lain tentang hal ini.

Keesokannya, pemuda itu tiba pagi sekali. Melihat tiga batang dupa di tempat dupa, dia berpikir, "Bukankah aku yang akan membakar dupa pertama? Mengapa bisa demikian? Tidak apa-apa, besok aku akan datang lebih pagi."


Dia datang lebih pagi keesokannya, tetapi tetap sudah ada dupa di tempat dupa. Pemuda itu merasa sangat kesal dan menceritakannya kepada kepala vihara. Kepala vihara berkata, "Aneh, bukan kami yang membakar dupa itu." Pemuda itu lalu menginap di vihara malam itu untuk melihat siapa yang membakar dupa pagi-pagi.

Keesokannya, sebelum matahari terbit, dia sudah memperhatikan. Pintu vihara belum dibuka, tetapi ada seorang gadis yang sudah masuk. Gadis itu bersujud dengan tulus dan melakukan meditasi berjalan. Dia lalu berkata kepada kepala vihara, "Gadis ini tinggal di vihara kalian?" Kepala vihara berkata, "Bagaimana mungkin ada gadis yang tinggal di vihara kami?" Pemuda itu berkata, "Aku jelas-jelas melihatnya." Dia lalu mendeskripsikan penampilan gadis itu.


Kepala vihara pun ingat dan berkata, "Gadis yang engkau lihat ialah putri mantan hakim daerah. Beberapa waktu lalu, beliau jatuh sakit sehingga putrinya tidak bisa datang ke vihara. Aku pernah menyarankannya untuk bersujud di depan rumahnya dengan tulus setiap hari. Ketulusannyalah yang membuatmu bisa melihatnya di sini."

Mendengar hal seperti ini, pemuda itu sangat takjub. Dia lalu mengunjungi mantan hakim daerah itu. Saat melihat putrinya keluar dengan membawa teh, dia sangat terkejut karena mengenalinya. Pemuda itu sangat tersentuh. Setelah pulang ke rumah, dia meminta ibunya untuk melamar gadis tersebut. Dia menjadi menantu mantan hakim daerah dan kisah mereka menjadi kisah yang indah di desa itu.


Jika kita memuja Buddha dengan tulus, Buddha akan merasakannya. Inilah kekuatan ketulusan. Jika kita tulus, ketulusan kita bukan hanya dapat menjangkau para Buddha dan Bodhisatwa, melainkan seluruh alam semesta. Ini bergantung pada tingkat ketulusan kita. Jika kita tulus, para makhluk pelindung Dharma akan selalu menjaga kita.

Terhadap para makhluk pelindung Dharma yang setiap hari menjaga ladang pelatihan kita dengan tulus, kita hendaknya bersyukur dan menghormati. Jadi, kita harus tulus memuja dan menghormati mereka serta menjaga pikiran dengan cinta kasih dan welas asih.


Setiap hari, saat kita berada di aula utama, suara lonceng menghapus noda batin kita sehingga kebijaksanaan dan Bodhi pun bertumbuh. Setelah lonceng berbunyi, kita pun memasuki aula utama. Asap dupa perlahan-lahan membentuk awan kebahagiaan. Awan dupa ini sampai pada persamuhan para Buddha. Para Buddha menerima pujian kita yang tulus. Kita juga memberikan persembahan berupa bunga yang harum untuk menunjukkan ketulusan kita dan keagungan ladang pelatihan kita.

Berhubung para Buddha dan Bodhisatwa berada di sekeliling ladang pelatihan kita setiap waktu, maka kita harus sangat tulus. Setiap orang harus menjaga pikiran dengan baik agar saat menghadapi setiap orang, hal, dan kondisi, pikiran kita dapat senantiasa murni dan tanpa pamrih.

Sumber: Program Master Cheng Yen Bercerita (DAAI TV)
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, (DAAI TV Indonesia)
Cara kita berterima kasih dan membalas budi baik bumi adalah dengan tetap bertekad melestarikan lingkungan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -