Master Bercerita: Tukang Sepatu Menjadi Raja

Di dalam kehidupan sehari-hari, jika kita bisa menjalankan kewajiban kita, saya rasa itu merupakan hal yang paling menggembirakan. Jika kita tidak menjalankan kewajiban kita, mungkin kita akan sangat menderita. Jika kita terus iri pada kehidupan orang lain, maka setiap hari hati kita tidak akan merasa puas dan tidak akan gembira.

Karena itu, Buddha juga mengajarkan untuk menjaga pikiran kita. Pikiran kita hendaknya menerima kondisi yang ada. Jangan sampai jelas-jelas kondisi kita seperti ini, tetapi kita terus merasa tidak puas dan membandingkan dengan orang lain. "Orang lain lebih baik, lebih berbakat, dan menjalani kehidupan yang lebih baik daripada saya." Jika terus membandingkan, selamanya tidak ada habisnya. Jadi, berhubung membanding-bandingkan tiada habisnya, maka kita harus menjaga pikiran kita.

 

Saat Buddha meminta murid-Nya untuk menjaga pikiran sendiri, murid-Nya juga tidak tahu bagaimana menjaganya. Buddha pun menceritakan sebuah kisah. Ada seorang raja. Meski di dalam istana kehidupannya sangat kaya, tetapi dia sangat tidak bahagia. Suatu hari, dia mengenakan pakaian biasa dan pergi ke luar istana. Dia melihat orang berbisnis dengan bebas dan bekerja dengan gembira.

Lalu, dia melihat satu orang tua sedang memperbaiki sepatu di tepi jalan. Dia pun mendekatinya dan bertanya, "Apakah susah memperbaiki sepatu?" Orang tua menjawab, "Ya." Raja berkata, "Saya merasa bahwa kamu sangat santai. Mengapa kamu bilang susah? Sebenarnya, orang seperti apa yang paling bahagia?" Orang tua menjawab, "Kabarnya raja tinggal di dalam istana yang sangat megah, memiliki banyak harta dan dilayani orang. Jadi, di dunia ini rajalah yang paling bahagia."


Setelah mendengarnya, raja berpikir, "Orang tua ini merasa bahwa raja paling bahagia, maka ada baiknya saya mencoba untuk tukar posisi dengannya." Raja berencana memberinya minum arak hingga mabuk, lalu mengutus orang untuk membawanya ke istana. Raja berkata pada orang-orang di istana, "Hari ini saya mau bermain suatu permainan, harap semuanya bekerja sama." Semuanya mengikuti kehendak raja. Mereka membantu orang tua itu mandi dan mengenakan pakaian raja.

Saat orang tua itu sadar, dia bertanya-tanya mengapa lingkungannya begitu megah dan dirinya memakai pakaian yang begitu bagus. Dia bertanya-tanya, "Apakah saya sedang bermimpi?" Lalu, beberapa pelayan mendekatinya  dan berkata, "Raja sudah bangun, mari cuci muka dan tangan. Mari sarapan." Dia makan makanan yang sangat dia sukai dan sangat mewah. Setelah sarapan, para pelayan mulai bernyanyi dan menari. Ada pejabat yang masuk dan berkata, "Raja, di luar ada banyak pejabat yang mau memberi laporan padamu dan banyak dokumen yang masih menunggu persetujuanmu." Mereka pun membawanya duduk di kantor raja.


Dia melihat banyak pejabat. Apa yang mereka bicarakan, dia tidak mengerti. Ada begitu banyak hal yang harus dia urus. Bagaimana dia menghadapinya? Setelah itu, dia merasa sangat kesulitan dan lelah. Saat makan malam, banyak pelayan memberinya minum arak hingga mabuk. Lalu, raja yang asli meminta orang untuk mengembalikannya ke kondisi semula serta mengantarnya pulang ke rumah.

Setelah bangun, dia melihat dirinya kembali berpakaian compang-camping. Dia bertanya-tanya, "Sebenarnya, saya adalah raja ataukah orang tua yang memperbaiki sepatu?" Dia merasa sangat bingung. Raja pun datang mengunjunginya dan bertanya padanya, "Mengapa kamu masih belum bangun dan bekerja?" Orang tua berkata, "Saya sepertinya bermimpi bahwa saya menjadi raja. Saya sangat lelah."


Buddha bercerita sampai di sini dan berkata, "Murid-murid sekalian, manusia datang ke dunia, memiliki karma masing-masing. Jika kita bisa menjaga pikiran kita dan menjalankan kewajiban kita dengan baik, maka itu merupakan kehidupan yang penuh berkah. Penderitaan manusia berasal dari kerisauan yang timbul di dalam hati. Jika tidak ada kerisauan, maka di lingkungan apa pun, kita bisa hidup dengan damai."

Ya, jika tidak ada kerisauan, di lingkungan apa pun, kita bisa hidup dengan damai. Contohnya, tukang sepatu itu. Meski dia kurang mampu, tetapi dia memiliki keahlian. Dia bisa menambal dan membuat sepatu. Jika dia bisa menjaga pikirannya, maka dia akan menikmati hidupnya. Untuk apa iri pada orang yang menjadi raja? Untuk apa punya impian menjadi raja? Kehidupan memang bagaikan sebuah mimpi. Dia menambal dan membuat sepatu hingga tua, apakah itu bukan merupakan sebuah mimpi? Keduanya sama-sama merupakan mimpi.

 

Saat dia menjalani hidup sebagai raja, dia berpikir, "Apakah kehidupan yang dahulu dia jalani adalah mimpi?" Saat dia kembali bekerja sebagai tukang sepatu, dia juga berpikir, "Apakah saat dia menjadi raja adalah mimpi?" Kehidupan bagaikan mimpi dan ilusi. Karena itu, kita hendaknya menyadari bahwa kehidupan bagaikan embun dan kilat. Kehidupan memang tidak kekal. Jika bisa menjaga pikiran dengan baik, maka itu merupakan berkah. Yang paling bahagia adalah mereka yang menjalankan kewajibannya. Kita harus menjaga pikiran kita dengan baik dan menjalankan kewajiban kita.

Walau berada di pihak yang benar, hendaknya tetap bersikap ramah dan bisa memaafkan orang lain.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -