Master Cheng Yen Bercerita: Menolong Penyu

 

Sutra Bhaisajyaguru menjelaskan tentang 12 ikrar agung Buddha Bhaisajyaguru yang mengajarkan kita untuk menolong semua orang yang menderita. Tak peduli di mana pun berada dan siapa pun orangnya hendaknya menjalankan dan menerima ajaran Buddha Bhaisajyaguru serta melafalkan nama Beliau dengan hati penuh rasa hormat.

Kita harus membangkitkan ketulusan untuk melafalkan Sutra dan melafalkan nama Buddha. Pada saat melafalkan Sutra dan membaca Sutra, kita dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya. Pada saat melafalkan nama Buddha, kita dapat mengetahui keluhuran Buddha. Orang yang sering melantunkan nama Buddha lebih jarang membangkitkan niat buruk.

Dengan melafalkan nama Buddha, kita dapat melenyapkan pikiran buruk sehingga tidak menjalin hubungan penuh dendam dengan orang lain. Dengan demikian, secara alami, kita dapat mengurangi malapetaka. Karena itu, Buddha Sakyamuni sangat bersusah payah membabarkan Dharma dan menjelaskan keluhuran Buddha demi membuat kita memahami prinsip kebenaran dan meneladani para suciwan.

Jadi, setiap kali teringat pada prinsip kebenaran, kita akan berjalan di arah yang benar. Jika kita dapat senantiasa melafalkan nama Buddha dan mengingat para suciwan, secara alami kita akan terdorong untuk meneladani keluhuran Buddha dan suciwan tersebut. Kita akan meneladani mereka. Inilah cara Buddha menyucikan hati manusia.

doc tzu chi

Penderitaan di dunia ini sangat banyak. Mengingat banyaknya penderitaan, kita harus senantiasa membangun ikrar untuk menolong dan bersumbangsih bagi sesama. Jika kita giat bersumbangsih dan membantu sesama, secara alami Buddha, Bodhisatwa, dan para makhluk surgawi akan melindungi kita. Karena itu, dalam keseharian, kita harus giat bersumbangsih.

Saya sering berkata bahwa pada saat menolong seorang lain, sesungguhnya kita juga menolong diri sendiri. Karena itu, hati kita harus dipenuhi rasa syukur.

Di dalam Sutra Enam Paramita, ada sebuah kisah seperti ini. Ada seorang bapak tua pergi ke pasar. Di sana, dia melihat seorang pria sedang menjual penyu. Penyu itu terus menendang dan bergumul. Bapak tua itu tidak tega melihatnya. Dia bertanya, "Berapa harganya? Saya akan membelinya." "Satu juta." "Baik, saya beli."

Sang bapak segera melepaskan penyu itu. Setelah memberikan obat dan membersihkan penyu itu, sang bapak membawa penyu ke pinggir sungai dan berkata, "Kamu sudah bebas sekarang." Malam hari itu, bapak tua itu mendengar suara ketukan pintu. Saat membuka pintu, dia melihat penyu itu terus bersujud padanya. "Terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa saya. Beberapa hari kemudian, di kota ini akan terjadi banjir parah. Harap Anda menyiapkan kapal. Nanti saya akan datang menunjukkan jalan."

Bapak tua itu melaporkan hal ini kepada raja. Warga yang tinggal di dataran rendah pun segera dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Bapak tua itu juga membuat sebuah kapal. Ketinggian air terus meningkat. Penyu itu datang dan berkata, "Saya datang membawa Anda pergi."

Air terus meninggi, begitu pula dengan kapalnya. Ada seekor rubah yang meminta pertolongan. Bapak tua pun segera menolongnya. Dia juga menolong seekor ular. Saat bapak tua ingin menolong seorang pria, si penyu berkata, "Orang itu tidak boleh ditolong. Hewan memiliki hati yang polos, sedangkan hati manusia sangat rumit."

Namun, bapak tua tetap menyelamatkan pria itu. Setelah mereka tiba di tempat yang aman, penyu itu pun pergi. Setelah menyatakan terima kasih, rubah dan ular itu pun meninggalkan tempat itu. Namun, si rubah menemukan bahwa di dalam gua terdapat banyak emas dan perak.

Ia pun segera memberi tahu bapak tua, "Anda dapat menggunakannya untuk membantu orang lain." Sang bapak tua pun menyetujuinya. Namun, timbul ketamakan dalam diri pria itu. "Kamu harus berbagi setengah dengan saya atau saya akan melaporkannya kepada petugas pemerintah."

Bapak tua itu menolak karena mengingat masih banyak orang kurang mampu yang membutuhkan bantuannya. Pria itu menyimpan rasa dendam dan sungguh-sungguh melaporkannya. Petugas pemerintah pun menangkap dan menahan bapak tua tersebut. Mengetahui hal ini, si ular membawa sedikit tanaman obat untuk bapak tua dan berkata, "Anda simpanlah tanaman obat ini. Suatu hari nanti, Anda akan membutuhkannya."

Suatu hari, putra mahkota digigit ular berbisa. Tidak ada orang yang dapat mengobatinya. Bapak tua itu berkata kepada sipir, "Saya dapat mengobati putrkota." Sebagai ungkapan terima kasih, raja membagikan sebagian negerinya kepada bapak tua. Negeri itu dipimpin oleh dua orang raja.

Saudara sekalian, meski kisah ini sangat sederhana, tetapi ia mengingatkan kita untuk senantiasa membangkitkan niat baik. Pada saat menyelamatkan orang lain, sesungguhnya kita juga tengah menyelamatkan diri sendiri. Demikian pula pada saat mendalami ajaran Buddha, kita juga akan mendapat perlindungan dari sekeliling kita.

Lihatlah, bapak tua itu dilindungi oleh rubah, ular, dan penyu. Meski hati manusia sulit ditebak, tetapi masih ada hewan lain yang melindunginya. Singkat kata, sebagai praktisi Buddhis, kita harus mendengar ajaran Buddha serta meneladani keluhuran Buddha dan para suciwan. Kita harus senantiasa menyucikan pikiran dan membina hati penuh cinta kasih.

Bekerja untuk hidup sangatlah menderita; hidup untuk bekerja amatlah menyenangkan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -