Rabu, 18 September 2019
Indonesia | English

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-127 di Manokwari

24 Juli 2019 Jurnalis : Hadi Pranoto
Fotografer : Hadi Pranoto, Stevani (DAAI TV)

Firemon Ullo seusai menjalani operasi katarak di RS Bhayangkara Lodewijk Mandatjan yang diadakan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Firemon didampingi Yenny The, relawan Tzu Chi Biak dan Gideon, cucu Firemon.

Jika buku adalah jendela dunia maka mata adalah jendela hati. Karena hati yang tenang bersumber dari terjaganya pandangan. Mata juga sebagai penuntun manusia dalam melangkah, bekerja, dan berusaha. Maka, ketika mata tak lagi berfungsi sempurna, segala sesuatu pun menjadi tak lagi mudah. Tak bisa lagi bekerja, bergantung pada orang lain, dan yang terparah kehilangan penglihatan.

Katarak menjadi salah satu penyakit mata yang banyak terjadi di Indonesia, khususnya di Papua. Di wilayah paling timur Indonesia ini, faktor alam, beberapa kebiasaan (membuat api unggun di dalam rumah), dan tradisi membuat masyarakat banyak yang terjangkit penyakit ini. Kondisi ini semakin diperparah dengan masih minimnya dokter spesialis mata di Pulau Kepala Burung ini.  

Katarak di Usia Senja

Firemon Ullo (65) dan Subrina (62) adalah kakak-beradik yang terkena katarak di usia senjanya. Keduanya tinggal di Lembah Hijau, Desa Mokwam, Distrik Warmare, Manokwari, Papua Barat. Subrina bahkan sudah dua matanya yang terkena katarak. Beruntung tahun 2012 lalu, ketika Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mengadakan Baksos Kesehatan di RSUD Manokwari, ia termasuk salah satu pasien yang berhasil dioperasi kataraknya. Kala itu mata kanannya yang dioperasi. Namun karena dalam satu kali operasi hanya boleh satu mata, maka Subrina harus menunggu tujuh tahun lamanya agar bisa dioperasi mata kirinya.

Subrina dan Firemon Ullo ketika menunggu jadwal operasi (19 Juli 2019). Kedua kakak beradik ini bisa datang paling awal karena menginap di rumah kerabat mereka di Manokwari. Keduanya tinggal di Desa Mokwam, Distrik Warmare, Manokwari, sekitar 4 jam perjalanan dari rumah sakit.

Semangat Subrina untuk mengikuti Baksos Kesehatan Tzu Chi ini bukan tanpa alasan. Semenjak dioperasi 7 tahun lalu, wanita yang masih kuat bercocok tanam ini merasakan perubahan drastis dalam hidupnya. Penglihatannya kembali pulih.

“Dulu tidak bisa lihat, kabur begitu. Kalau kerja juga harus meraba-raba,” kata Yunni Wonggor (25), cucu Firemon Ullo yang turut mengantar kakek dan adik kakeknya ini. Yunni datang bersama Martina, mamanya dan Gideon, adiknya. Bertiga mereka setia menemani Firemon dan Subrina mulai dari proses screening, operasi, hingga pemeriksaan pascaoperasi (Post Op).

Ketika proses screening tanggal 13 Juli 2019, Firemon sempat tidak lolos pemeriksaan karena tekanan darahnya terlalu tinggi. Beruntung ia kemudian diberikan kesempatan untuk periksa ulang pada tanggal 19 Juli 2019 dan dinyatakan lolos.

Sebenarnya, mata Martina juga terkena katarak, namun karena dalam pemeriksaan (screening) ditemukan ada kelainan lain maka Martina belum bisa dioperasi.

Keluarga ini harus menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam dengan medan jalan yang sangat menantang untuk sampai ke Kota Manokwari. Jalan yang berbukit-bukit dan belum beraspal membuat hanya mobil tertentu yang bisa mencapai lokasi ini. Dari Kota Manokwari, mereka harus kembali menyewa kendaraan untuk sampai ke Rumah Sakit Bhayangkara Lodewijk Mandatjan, Polda Papua Barat. Butuh waktu 40 menit untuk sampai ke rumah sakit. Namun, perjuangan dan upaya ini tidaklah sia-sia, Firemon dan Subrina akhirnya berhasil dioperasi.

Subrina sebelumnya pernah dioperasi kataraknya dalam Baksos Kesehatan Tzu Chi di RSUD Manokwari pada tahun 2012. Kini mata sebelah kirinya yang akan dioperasi.


Dokter tengah mengoperasi Subrina. Ada 259 pasien yang berhasil dioperasi dalam Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-127 ini, 204 pasien katarak, dan 55 pterygium.

Perubahan Hidup
“Selamat pagi…,” kata Firemon kepada pasien-pasien di sebelahnya sembari tersenyum. Pagi itu, Sabtu, 20 Juli 2019, perban penutup mata Firemon dibuka. Senyumnya seketika mengembang. Kakek yang semula pendiam ini mendadak ramah kepada siapa pun yang melintas di depannya. Padahal, ketika proses screening (13 Juli) dan saat menunggu operasi (19 Juli 2019), raut wajahnya tampak dingin, nyaris tanpa senyum. Tatapannya kosong. Seringai wajahnya lebih sering terbaca seperti sedang menahan sakit.

Raut bahagia terlihat ketika Firemon dengan tepat menjawab setiap acungan jari dari Tim Medis Tzu Chi. Ini pertanda operasi Firemon berhasil dengan baik.

Tapi, kali ini wajahnya tampak berbeda. Ia menjawab dengan tepat setiap angka yang ditunjukkan perawat di depannya. “Kakek senang dah dioperasi, matanya sudah bagus lagi,” kata Gideon Ollo, cucunya. Gideon membuka rahasia. Ternyata selama ini Firemon selalu diam dan seolah tidak peduli dengan keadaan sekitarnya karena sebenarnya ia tidak tahu apa dan siapa yang ada di dekatnya. Pandangannya kabur. Terbukti, ketika penglihatannya pulih, sifat asli Firemon yang ramah dan murah senyum kembali lagi. Selain Firemon, dalam Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-127 di Rumah Sakit Bhayangkara Lodewijk Mandatjan, Papua Barat pada 19 – 21 Juli ini ada 259 orang yang berhasil dioperasi. Pasien katarak 204 orang, dan pterygium sebanyak 55 orang pasien.

Sudah lebih dari dua tahun Firemon terkena katarak yang membuatnya tak lagi leluasa dalam beraktivitas. Kepada keluarga Firemon sering mengeluhkan dirinya yang tidak bisa lagi bekerja (bercocok tanam), melihat wajah cucu-cucunya, tidak bisa mandi sendiri, dan juga tidak bisa beribadah. “Sangat bergantung pada orang karena tidak bisa berjalan sendiri,” terang Gideon menggambarkan kondisi kakeknya.

Kondisi sedikit berbeda dialami Subrina. Karena mata kanannya sudah dioperasi maka ia bisa beraktivitas dan mandiri. Subrina tinggal terpisah dengan keluarga Firemon. Selain berkebun, wanita ini juga pandai menganyam tas dan keranjang dari benang.

Selain bertani, Subrina juga membuat tas anyaman khas Papua sebagai sumber penghidupannya.

Keluarga ini memang keluarga petani. Mereka menanam ubi, talas, pisang, cabe, sayur kol, jagung, dan lainnya. Desa mereka memang berada di daerah pegunungan yang sejuk dan subur.

“Biasa panen kalau labu seminggu dah panen. Kalau cabai, kol, tiga bulan baru bisa panen,” kata Gideon.

Ketika sehat, Firemon juga seorang pekerja keras. Sejak dua tahun lalu, ketika matanya mengalami gangguan penglihatan Firemon terpaksa harus berdiam diri di rumah. Kondisi matanya semakin diperburuk karena ia harus menyalakan api unggun di rumah untuk mengikis hawa dingin. Pengobatan yang dilakukan pun seadanya, dengan ramuan tradisional yang ditaruh di mata. Namun, bukannya membaik kondisi mata Firemon justru makin memburuk.  

Berobat lewat Puskesmas (mantri) juga hanya bisa sekadar meredakan rasa sakit saja, sementara untuk operasi ke rumah sakit harus membutuhkan biaya yang sangat besar karena harus berobat keluar kota di Jayapura. “Dari mantri ada kasih resep kita ambil di apotek di Manokwari,” terang Gideon.

Desa Mokwam, Distrik Warmare, Manokwari, Papua Barat ini berada di pegunungan yang dingin dan subur. Keluarga Firemon mengandalkan usaha bercocok tanam sebagai sumber penghidupan mereka.

Kondisi Firemon tentu saja berdampak kepada anggota keluarga yang lain. Jika sebelumnya ia bisa bekerja dan mandiri, katarak membuatnya harus bergantung kepada anggota keluarga lainnya. “Karena sakit matanya tidak bisa berjalan jadi harus ada yang bantu jalan dan mandiin, kasih makan, bakar api (unggun) buat dia, dan ganti pakaian,” kata Firemon.   

Karena itulah, kebahagiaan hari itu bukan hanya milik Firemon saja, tetapi juga seluruh anggota keluarganya. Karena sesungguhnya, ketika ada satu anggota keluarga yang terkena penyakit maka yang menderita adalah seluruh anggota keluarga tersebut. Sambil terus tersenyum, Firemon menyampaikan rasa terima kasihnya kepada dokter dan orang-orang yang telah membantunya.

“Semoga jadi bisa jalan ke kebun sendiri, bisa ke gereja, bisa baca Alkitab,” kata Gideon, menyarikan kata-kata sang kakek yang tidak lancar berbahasa Indonesia.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 918 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Menyayangi dan melindungi benda di sekitar kita, berarti menghargai berkah dan mengenal rasa puas.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat