Minggu, 25 Agustus 2019
Indonesia | English

Bakti Kepada Orang Tua Tak Kenal Usia

26 Desember 2018 Jurnalis : Alwing Low (Tzu Chi School)
Fotografer : Metta Wulandari


Hari Ibu bagi para guru dan staf Sekolah Cinta Kasih diisi dengan drama tentang bakti pada orang tua. Drama ini juga diperankan oleh para guru dan staf.

Cinta ibu sepanjang masa. Ungkapan tersebut menunjukkan besarnya jasa dan kasih sayang ibu tidak terhitung sejak pertama kali kita dilahirkan di dunia ini, sehingga setiap tahunnya kita memperingati Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember.

Tidak mau kalah dengan para murid, Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng juga turut menyelenggarakan Hari Ibu bagi para guru dan stafnya, 21 Desember 2018. Freddy Ong, Direktur Sekolah Cinta Kasih menjelaskan, “Acara hari ibu ini sebetulnya bergabung dengan acara gathering, mengakrabkan semua karyawan. Kali ini kita menambahkan ide yang sedikit beda. Kita ajak teman-teman, di sela-sela kesibukan untuk mengajak orang tuanya ke acara ini.”

Hasilnya, acara Hari Ibu ini mendapat respon yang sangat positif serta antusias peserta yang sangat luar biasa hingga ada guru-guru dan staf yang ingin membawa orang tuanya ke acara tersebut. Di tengah kesibukan sebagai guru, mereka tetap meluangkan waktunya untuk berkumpul dan berlatih untuk acara tersebut. “Saya senang sekali acara ini bisa terlaksana. Jadi kita memfasilitasi teman-teman yang tadinya mungkin malu-malu dengan orang tua, kalau disini kan kita bareng-bareng jadi ga malu-malu lagi,” lanjut Freddy Ong.

Memanfaatkan Waktu untuk Berbakti


Freddy Ong, Direktur Sekolah Cinta Kasih memberikan sharing dan mengajak segenap guru dan staf untuk segera menunjukkan bakti kepada orang tua selama masih mempunyai kesempatan.

Acara tersebut dimulai dengan pertunjukkan drama dari guru dan staf Sekolah Cinta Kasih. Drama ini bercerita tentang keluarga yang telah hidup terpisah dengan orang tuanya. Mereka mengingat kembali masa kecilnya bersama ibunya.

Drama tersebut dilanjutkan dengan sharing dari Freddy Ong, mengenai cerita beliau yang menyesal karena belum dapat benar-benar berbakti kepada kedua orang tuanya semasa hidup mereka. Ia mengajak segenap guru dan staf untuk segera menunjukkan bakti kepada orang tua selama masih mempunyai kesempatan.

Sharing kedua datang dari Dwi Atmanti, guru Sekolah Cinta Kasih. Ia bersyukur, walaupun baru saja ditinggal kedua orang tuanya, Dwi masih sempat menunjukkan bakti kepada ibunya. Ia merawat ibunya yang telah sakit-sakitan dan divonis dokter bahwa tidak bisa sembuh. Dengan kesibukan sebagai guru di Jakarta, Dwi selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Purwakarta setiap akhir pekan, demi merawat sang ibu.


Sebanyak 18 guru dan staf Sekolah Cinta Kasih mengikuti prosesi ini. Tidak semua guru bisa mengajak orang tua mereka karena berbagai kondisi, seperti kondisi anak yang merantau ataupun orang tua yang sudah tiada.

Suasana haru menyelimuti perayaan Hari Ibu ketika para anak mulai menyuapi hingga membasuh dan bersujud di hadapan ibu mereka.

Puncak acaranya adalah proses penyajian teh dan pembasuhan kaki ibu. Sebanyak 18 guru dan staf Sekolah Cinta Kasih mengajak ibunya untuk mengikuti prosesi tersebut. Dimulai dengan menuntun orang tuanya ke kursi yang telah disediakan, mereka berlutut di hadapan ibunya dan menyuapkan kue dan teh kepada ibu mereka, dilanjutkan dengan membasuh kaki ibu mereka. Suasana penuh keharuan menyelimuti Aula Gedung C, Sekolah Cinta Kasih.

“Saya bersyukur karena punya mama yang luar biasa, yang selalu membimbing saya. Kami bekerja sama untuk bahagia bersama. Satu pesan mama, biarpun kami wanita, bukan berarti kami tidak bisa apa-apa,” kata Metta, guru sekolah Cinta Kasih yang sejak ayahnya meninggal, ia tumbuh dan dibesarkan seorang diri oleh ibunya.

“Saya bersyukur, setiap dia (Metta) pulang ke Cipanas, rumah kami, dia selalu bersujud atau sungkem dan minta doa ke saya,” jelas Suntari, ibu dari Metta.

Penghargaan Guru dan Karyawan Terbaik


Acara Hari Ibu ditutup dengan pemberian penghargaan kepada karyawan terbaik, inovatif, dan inspiratif.

Acara Hari Ibu ditutup dengan pemberian penghargaan kepada karyawan terbaik, inovatif, dan inspiratif. Penghargaan tersebut dimenangkan oleh Kurnia Dewi, guru TK yang selalu tersenyum, rapi dan tidak pernah terlambat pada semester berjalan. Penghargaan guru SD dimenangkan oleh Wahyu Safitri. Pada kategori SMP, Budi Nugroho terpilih sebagai guru yang memiliki integritas tinggi, motivasi, dan idealis terhadap sistem yang dibangun dan disiplin ilmu serta bekerja keras tanpa perhitungan waktu untuk mencapai prestasi.

Galih Yoga Purnama, guru SMK yang selalu tegas tanpa harus galak, tidak pernah absen lewat dari jam 06.08 (jam absen masuk 06.20), serta membimbing murid-muridnya sampai sore dan pada akhirnya memenangkan lebih dari 8 piala untuk sekoah, terpilih sebagai guru terbaik SMK Cinta Kasih. Pada level SMA, Eko Rahardjo terpilih sebagai guru terbaik yang hebat, inspiratif, dan peduli. Sementara itu Suparman terpilih sebagai staff terbaik, Maman dan Fajar masing-masing terpilih sebagai Cleaning dan Security terbaik dari sisi tim penunjang, dan terakhir Shi Gu Erni terpilih sebagai Daai Mama terbaik yang telah melayani Tzu Chi selama 15 tahun.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 431 kali


Berita Terkait


Keharuan di Hari Ibu yang Tak Pernah Berubah

26 Desember 2018

Menjadi Orang Tua Teladan yang Berbakti Pada Orang Tua

18 Desember 2017

Momen Kehangatan Anak dan Orang Tua

27 Mei 2016

Bakti Kami Untuk Orang Tua

09 Februari 2015

Ulang Tahun Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Duri Kosambi ke 3

29 Januari 2015


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Memiliki sepasang tangan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, sama saja seperti orang yang tidak memiliki tangan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat