Selasa, 21 Mei 2019
Indonesia | English

Belajar Melindungi Bumi

29 Maret 2019 Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Pusat)
Fotografer : Suyanti Samad (He Qi Pusat)


Sebanyak 29 anak asuh dari He Qi Pusat berkunjung ke Depo Pelestarian Lingkungan Kelapa Gading, yang terletak di Pengangsaan Dua, Jakarta. Di sini anak-anak diperkenalkan tentang pentingnya pelestarian lingkungan.

Memasuki pekan keempat di bulan Maret 2019, tepatnya 24 Maret 2019, 26 insan Tzu Chi komunitas He Qi Timur menyambut kedatangan 29 anak asuh bersama 19 insan Tzu Chi komunitas He Qi Pusat, berkunjung ke Depo Pelestarian Lingkungan Kelapa Gading, yang terletak di Kelurahan Pengangsaan Dua. Tujuan kedatangan mereka adalah dalam rangka memperkenalkan ke anak asuh Tzu Chi He Qi Pusat tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Anak-anak juga diperkenalkan barang-barang apa saja yang tidak bisa dipergunakan lagi, yang biasa disebut sampah, dapat dijadikan emas, dan emas menjadi aliran jernih cinta kasih yang mengitari bumi.


Endang Supriatna, Koordinator Pelestarian Lingkungan He Qi Timur membekali anak-anak dengan pengertian dasar tentang Pelestarian Lingkungan dan mengajak mereka ikut memilah barang daur ulang sehingga lebih mengerti dan bisa mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Endang Supriatna (53), Koordinator Pelestarian Lingkungan He Qi Timur membekali anak-anak dengan pengertian dasar tentang Pelestarian Lingkungan. Bagi Endang, untuk melakukan pelestarian lingkungan haruslah dimulai dari diri sendiri.

“Pelestarian lingkungan berhubungan dengan bumi yang kita pijak. Bumi (alam semesta) bagaikan ibu pertiwi. Dialah yang memberikan kita kehidupan, memberikan kita nafas (udara), memberikan sumber air,” tutur Endang Supriatna.

Manusia, tambah Endang Supriatna, salah satu motor penggerak, haruslah merawat dan berterima kasih kepada bumi pertiwi. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, manusia telah merusak alam dengan berbagai jenis sampah sehingga bencana alam terjadi di mana-mana akibat ulah manusia.

 

Praktik pelestarian lingkungan telah dijalankan Maria (tengah), di kehidupan sehari-hari baik di rumah maupun di sekolah.

“Mulailah belajar untuk tidak menggunakan kantong plastik yang tidak ramah lingkungan, hemat air, hemat listrik, membawa makanan sendiri dengan alat makan sendiri,” tambah Endang, ingin mengajak anak-anak memilih barang yang aman pemakaiannya, tahan lama, dapat dipakai berulang-ulang, dan hidup bervegetaris.

 

Melakukan Daur Ulang Mulai dari Diri Sendiri

Setelah anak-anak dibekali pengertian Pelestarian Lingkungan, tak ketinggalan insan Tzu Chi juga mengajak anak-anak ikut memilah barang daur ulang sehingga mereka lebih mengerti dan bisa mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Praktik pelestarian lingkungan telah dijalankan Maria (16) di kehidupan sehari-hari baik di rumah maupun di sekolah.

“Di sekolah disediakan tempat (wadah) untuk botol-botol plastik yang tidak dipakai, dan dijual biasanya. Membawa makanan dan minuman dari rumah dengan wadah sendiri lebih higienis dan lebih hemat juga. Apalagi masakan mama lebih enak daripada makanan di luar. Membuang sampah pada tempatnya, peduli lingkungan dengan cara menjaga bumi. Bila bumi rusak, manusia harus tinggal di mana?” papar Maria.


Vivilia bersyukur karena alam telah memberikan kehidupan kepadanya, sehingga ia mempunyai tanggung jawab untuk melindungi bumi.

Maria bersyukur mendapat pendidikan pelestarian lingkungan, tentang bagaimana memanfaatkan barang daur ulang yang sering disebut sampah, dapat menjadi emas.

Hal yang sama juga dirasakan Vivilia (17) yang bersyukur karena alam telah memberikan kehidupan kepadanya. “Kita harus menjaga alam dengan baik, membuang sampah pada tempatnya,” kata Vivilia, anak asuh Tzu Chi yang sudah mendapat bantuan Tzu Chi sejak dua tahun kemarin.

Vivilia menjelaskan, sebelumnya ia juga pernah mengunjugi Depo Pelestarian Lingkungan Duri Kosambi, di Jakarta Barat. Setiap kunjungan selalu memberikan pengetahuan baru baginya.


Pendidikan pelestarian lingkungan harus ditanamkan ke anak-anak sejak dini, seperti Revialy, walau usianya masih belia, baru akan memasuki usia 9 tahun, ia sangat peduli dengan lingkungan.

“Lebih banyak tidak membeli makanan atau minuman dari luar. Tidak menggunakan sumpit (bahan dari bambu). Lebih menggunakan alat makan dan botol minuman sendiri. Menghargai alam,” tukas Vivilia.

Pendidikan pelestarian lingkungan harus ditanamkan ke anak-anak sejak dini, seperti Revialy (9), walau usainya masih belia, ia sangat peduli dengan lingkungan.

“Mama selalu minta bawa botol minuman sendiri. Kadang beli minuman dari luar, botolnya diisi ulang. Bila sudah kotor, dibuang. Kalau kertas, aku buatin mainan gitu,” ujar Revialy, anak keempat dari 4 bersaudara, yang mendapat bantuan pendidikan Tzu Chi satu tahun silam. 


Rivaldo (baris kedua paling kiri), mengajak orang lain memiliki kesadaran untuk menjaga bumi, mulai dengan melakukan hal kecil seperti daur ulang.

Adapun Rivaldo (18), adalah tahun ketiga baginya mendapat bantuan pendidikan Tzu Chi. Bagi Rivaldo, sampah yang langsung dibuang atau tidak didaur ulang maka sama saja dengan mengotori bumi.

“Kalau didaur ulang, bisa dipakai lagi. Jadi sampah tidak terlalu menumpuk.” ungkap Rivaldo, anak dari Hartati, salah satu relawan komunitas Pademangan.

Rivaldo juga menambahkan, orang tuanya juga mengumpulkan sisa sayuran dan kulit buah yang mentah atau tidak busuk atau yang tidak dipakai untuk diolah menjadi cairan enzim yang bisa dipakai untuk membersihkan rumah, juga pakaian.


Selain memberikan sosialisasi pentingnya melakukan pelestarian lingkungan ke anak-anak, Endang Supriatna juga mengajak orangtua anak asuh Tzu Chi mengenal barang-barang apa saja yang bisa didaur ulang.

“Sejak memakai cairan enzim, tidak ada serangga seperti semut hinggap ke rumah,” pungkas Rivaldo, mengajak orang lain memiliki kesadaran untuk menjaga bumi, mulai dengan melakukan hal kecil seperti daur ulang.

Selain memberikan sosialisasi pentingnya melakukan pelestarian lingkungan ke anak-anak, Endang Supriatna juga mengajak orangtua anak asuh Tzu Chi mengenal barang-barang apa saja yang bisa didaur ulang. Sambil menunjukkan barang-barang yang bisa didaur ulang, Endang kembali menjelaskan, “Di Tzu Chi khususnya di Indonesia, barang daur ulang yang sudah dipilah, dijual. Hasil penjualan ini digunakan untuk Misi Amal Tzu Chi. Ini sudah sesuai dengan motto Tzu Chi ‘Mengubah sampah menjadi Emas. Emas menjadi Cinta Kasih’,” tutup Endang.

 

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 352 kali


Berita Terkait


Waisak 2019: Membalut Perayaan Waisak dengan Aksi Pelestarian Lingkungan

20 Mei 2019

Bertambahnya Satu Titik Pelestarian Lingkungan

24 April 2019

Wajah-Wajah Bahagia di Pelestarian Lingkungan

23 April 2019

Melestarikan Lingkungan dengan Tanaman Obat Keluarga

10 April 2019

Semangat Pelestarian Lingkungan di Clean-Up Day Waduk Pluit

08 April 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Lebih mudah sadar dari kesalahan yang besar; sangat sulit menghilangkan kebiasaan kecil yang buruk.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat