Sabtu, 24 Agustus 2019
Indonesia | English

Berbagi Berkah dengan Pengungsi Merapi

07 September 2011 Jurnalis : Riani purnamasari (Tzu Chi Perwakilan Sinarmas)
Fotografer : Yudha Arya Putra (Tzu Chi Perwakilan Sinarmas)

fotoDengan tersenyum dan hati yang tulus, relawan mengantarkan beras untuk Kakek Cokro yang tidak kuat mengangkat beras sampai ke tempat tinggalnya.

 

“Masalah di dunia tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, dibutuhkan uluran tangan dan kekuatan banyak orang untuk dapat menyelesaikannya.” (Master Cheng Yen)

 

 

 

Pada tanggal 16 dan 17 Agustus 2011, Tzu Chi mengadakan pelatihan pembagian kupon dan beras di Aula STIPER Yogyakarta. Para relawan sangat bersemangat mengikuti pelatihan dan berharap dapat mempraktikkan Standar Operasional Prosedur (SOP) Tzu Chi dalam pembagian kupon dan beras di lapangan.

Pada tanggal 18 Agustus 2011 beras telah tiba di lokasi, hal ini membuat para relawan mulai membagikan kupon. Terdata sebanyak 7.000 kupon yang dibagikan untuk para korban pascaletusan Merapi yang tinggal di shelter-shelter yang dibangun pemerintah untuk tempat tinggal sementara, maupun desa-desa pinggiran di Magelang yang jauh dari kemakmuran. Kegiatan pembagian kupon ini berlangsung dengan teratur dan rapi. Para penerima bantuan dengan sabar melewati berbagai proses survei dan pendataan. Akhirnya pada tanggal 20-22 Agustus 2011, secara terpisah pembagian beras pun dilakukan di Yogyakarta dan Magelang dengan beberapa titik pembagian.

Dengan kupon di tangan, para penerima bantuan berbaris dengan teratur. Nenek Endah, misalnya, meskipun harus mengantri selama satu jam tetapi hal itu tidak menurunkan semangatnya. “Selama ini saya hidup berdua dengan suami sebagai petani sayur mayur. Anak saya ada 2, tetapi mereka merantau ke Surabaya dan Jakarta. Mereka sudah berkeluarga semua dan hidup cukup mapan dan berkecukupan, sayangnya mereka tidak ingat pada kami,” ucap Nenek Endah(80), yang tinggal di Desa Pugeran, Magelang.  

foto  foto

Keterangan :

  • Pemberian kupon beras kepada warga kurang mampu di Yogyakarta merupakan bukti nyata Yayasan Buddha Tzu Chi dalam menciptakan dunia yang damai dan sejahtera. (kiri)
  • Untuk mencairkan suasana, relawan menghibur warga yang sedang mengantri beras dengan lagu isyarat tangan "Satu Keluarga". (kanan)

Sewaktu Nenek Endah masih muda, ia merupakan bunga desa di desanya. Banyak saudagar dari Yogyakarta maupun Solo yang singgah di desanya untuk membeli sayur mayur. Karena merasa dirinya cantik, Endah pun  menjadi tinggi hati. Pemuda desa pun sering ia ejek. Sampai suatu ketika, kecelakaan menimpa Endah dan menyebabkan dirnya kehilangan kaki kanannya. Sejak itu Endah merasa malu dan terus mengurung diri di kamar.

Ternyata nasib baik masih berpihak pada dirnya, ada seorang pemuda dari  desa tetangga  yang masih mau menikahi dirinya. Dari pernikahannya Endah melahirkan dua anak. Mungkin memang anak meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Karena kebutuhan rumah tangga yang semakin banyak dan mahal, dirinya pun sibuk bekerja di ladang bersama suami dan tidak sempat pulang ke rumah ibu maupun mertuanya yang berada di desa tetangga. Anak-anaknya pun tidak dikenalkan kepada mereka. Mungkin inilah yang mereka tiru sekarang.

“Tiap kali mudik (Lebaran-red) datang, kami selalu menunggu di balai-balai dengan pakaian terbagus kami yang telah bertahun-tahun kami miliki dan berharap melihat lambaian tangan anak kami dari kejauhan ladang. Mungkin nanti Allah akan menjawab doa-doa yang telah kami panjatkan, bahwa sebelum ajal kami datang, mereka akan datang dan ingat bahwa mereka masih memiliki orangtua di desa ini,” ujar Endah dengan buliran air mata yang mengalir di pipinya.

foto  foto

Keterangan :

  • Relawan dan warga turut menyanyikan dan memeragakan isyarat tangan "Satu Keluarga" sebagai wujud kebersamaan. (kiri)
  • Sebanyak 3.571 keluarga di Yogyakarta menerima bantuan beras, masing-masing 20 kg untuk membantu kehidupan mereka sehari-hari.(kanan)

Seperti yang dikatakan oleh Master Cheng Yen, “Ada dua hal yang tidak dapat ditunda, yang pertama berbakti kepada orangtua dan yang kedua adalah berbuat kebajikan.” Selagi kita masih  muda, ajarkan kepada anak kita untuk berbakti kepada orang tua, bukan hanya dengan perkataan dan perintah, namun juga melalui perbuatan. Berilah contoh bagi anak-anak kita dan sayangilah orang tua kita selagi mereka masih ada. Nenek Endah yang hidup di bawah garis kemiskinan pada masa tuanya hampir tak berdaya bekerja. Bantuan dari Tzu Chi ini secara tidak langsung telah meringankan beban yang harus dipikul oleh Endah. Di bulan Ramadan ini, baik relawan maupun penerima bantuan sama-sama merasakan mendapatkan  berkah yang luar biasa. Sebanyak 3.571 keluarga (KK) menerima bantuan beras masing-masing 20 kg untuk membantu kehidupan mereka sehari-hari.

Kakek Cokro di Pengungsian
Kakek Cokro (83), pria paruh baya yang masih sendiri dan tidak memiliki keturunan ini merupakan pengungsi korban bencana alam Merapi yang menetap sementara di shelter Kepuharjo, Yogyakarta. Ketika ditemui, ia sedang mengantri menunggu giliran mendapatkan beras cinta kasih  Tzu Chi. “Dulu kakek tinggal di Cangkringan. Sewaktu gempa terjadi, ikut Kades aja diungsiin kemana-mana. Kakek pindah ke-10 tempat pengungsian dan berakhir di sini (Shelter Kepuharjo -red),” ucap Cokro. Selama  tinggal di shelter Kepuharjo ia bekerja membersihkan masjid, membantu menggoreng keripik di tetangga. Dari pekerjaan yang Cokro lakukan, ia dapat mengumpulkan 5.000 rupiah per hari. “Rumah saya di Cangkringan adalah rumah peninggalan ayah saya. Saya dengar dari teman-teman yang sempat pulang melihat rumah mereka lagi, katanya Cangkringan masih penuh dengan abu Merapi. Saya takut kalau pulang ke sana, dan bingung apa yang dapat saya lakukan. Tanaman sayur di kebun belakang rumah saya tentu sudah ludes juga. Untunglah hari ini dapat beras 20 kg, setidaknya bisa untuk menyambung hidup beberapa bulan. Nanti masaknya minta tolong tetangga, soalnya tetangga saya di pengungsian, baik-baik. Saling membantu dan ramah,” ujarnya Kakek Cokro memuji. Sebanyak 2.900 keluarga mendapat bantuan beras di area Yogyakarta.

Kisah para penerima bantuan dapat menjadi refleksi bagi kita semua. Menyayangi orangtua kita selagi mereka hidup adalah masa terbaik, karena jika mereka sudah tiada, tidak ada lagi yang dapat menerima bakti kita. Jangan sia-siakan setiap detik hidup kita untuk dapat bermanfaat bagi orang lain.

Artikel dibaca sebanyak : 1361 kali


Berita Terkait


My Dream di Surabaya: Teladan dan Inspirasi yang Berharga

15 Agustus 2019

Mencontohkan Pola Hidup Sehat Melalui Baksos Degeneratif

14 Agustus 2019

Menginspirasi Lebih Banyak Orang untuk Donor Darah

12 Agustus 2019

Bersatu Hati Melayani Masyarakat

08 Agustus 2019

My Dream di Surabaya: Menaklukkan Berbagai Kesulitan

01 Agustus 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
The beauty of humanity lies in honesty. The value of humanity lies in faith.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat