Internasional : 1.900 Pasien di Sri Lanka

Jurnalis : Da Ai News, Fotografer : Da Ai News
 
 

fotoSebuah tim medis yang terdiri dari 130 relawan dari Malaysia dan Singapura mengadakan  kilnik gratis selama tiga hari di sebuah daerah pegunungan terpencil di Sri Lanka, untuk menangani 1.882 pasien. Mereka adalah tim medis pertama dari luar negeri yang pernah mengunjungi kota tersebut.

Misi kesehatan kembali dilakukan oleh Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Singapura. Kegiatan ini adalah ketiga kalinya klinik berskala besar diselenggarakan di Sri Lanka setelah Agustus 2009, dan Maret 2010 lalu.

Tim medis, dokter, perawat, dan relawan, datang dari Singapura dan Malaysia dengan biaya pribadi. Mereka terbang dari Singapura ke Kolombo, Ibukota Sri Lanka, dan kemudian melakukan perjalanan dengan bus selama dua jam  untuk mencapai Karawanella, sebuah kota di daerah pegunungan. Mereka menerima sambutan yang sangat hangat dari rumah sakit setempat, sebagai tim medis pertama asing yang pernah mengunjungi kota tersebut.

Pengobatan gratis seperti ini jarang dilakukan di Negara ini, karena perawatan medis lokal pun mahal dan tidak banyak orang mampu untuk membayarnya. Diantara pasien terdapat seorang wanita yang membiarkan luka bakarnya tidak diobati selama 15 tahun, dan seorang ibu dan anak yang menderita tumor yang sama yaitu tumor fibroid. 

Banyak orang yang menderita katarak dan tidak diobati karena mereka tidak sanggup membayar operasinya. TIMA menggunakan fasilitas rumah sakit setempat dan membawa beberapa peralatan mereka sendiri, karena sebagian besar pasien tidak berbahasa Inggris, tim pun dibantu oleh  interpreter dari kalangan penduduk setempat.

Anggota TIMA mengenakan seragam hitam dan putih. Para pasien, dengan berbagai macam penyakit, memenuhi ruang tunggu. Ada seorang anak yang menderita tumor besar di bibir atasnya, dan juga ibunya yang memiliki tumor fibroid yang sama. Atau seorang wanita 49 tahun, yang mengalami luka bakar parah di lehernya. Dia terbakar 15 tahun yang lalu, namun tidak mampu membayar RS untuk merawat lukanya tersebut. Akibatnya, otot lehernya rusak dan membuatnya tak dapat menoleh sejak itu.
 
Setelah memeriksanya, tim TIMA memutuskan untuk melakukan cangkok kulit. "Otot-otot lehernya berkontraksi, jadi dia tidak bisa mengangkat kepalanya," ucap salah seorang relawan. "Kami membuka lukanya dengan memotong dan menambahkan lebih banyak kulit lehernya, sehingga ia dapat menggerakkan kepala dan lehernya sekarang."

Bahkan, ketika pasien tersebut pulih dari rasa sakitnya, dia bersikeras ingin berterima kasih secara pribadi kepada para dokter "Saya ingin. terima kasih kepada semua relawan Tzu Chi, para dokter, dan perawat," katanya. "Para dokter merupakan  orang tua saya dimata saya. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang di sini."

Di ruangan lain, seorang anak menjalani operasi untuk menghilangkan tumor di wajahnya, di lengan kiri, dan bibir atas. Setelah selesai menjalani operasi, anak itu sangat senang. "Terima kasih banyak," ucapnya sambil tersenyum. Ibunya juga memiliki tumor bawaan, namun beliau menolak kesempatan untuk menerima operasi, agar anaknya dapat dioperasi. Ini adalah contoh yang luar biasa dari cinta kasih tanpa pamrih seorang ibu. (Sumber: www.tzuchi.org, diterjemahkan oleh: Riani Purnamasari/He Qi Utara)

  
 
 

Artikel Terkait

Lebih Banyak Waktu Untuk Keluarga

Lebih Banyak Waktu Untuk Keluarga

20 September 2017

Di acara Family Gathering yang diadakan oleh komunitas relawan He Qi Barat, Sylvia bertekad berusaha untuk berkumpul dengan keluarga lebih banyak lagi. Hal ini disampaikannya setelah berkesempatan membasuh kaki Mamanya, Li Fang, dalam acara tersebut.

Gempa Aceh: Penyaluran Bantuan Korban Gempa Terus Berlanjut

Gempa Aceh: Penyaluran Bantuan Korban Gempa Terus Berlanjut

14 Desember 2016

Memasuki hari kelima dan hari keenam pasca gempa yang melanda Pidie Jaya, Relawan Tzu Chi masih terus menyalurkan bantuan kebutuhan sehari-hari kepada para korban. Sebanyak tujuh relawan terus menelusuri posko-posko pengungsian hingga ke pelosok Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya.

Suara Kasih: Bagai Matahari di Musim Semi

Suara Kasih: Bagai Matahari di Musim Semi

22 Desember 2011 Saat siaran berita Da Ai TV tadi pagi, saya melihat berbagai bencana di dunia. Saya sungguh merasa tidak tega. Hujan lebat telah mengakibatkan bencana banjir di Skotlandia, Inggris. Di Kolombia, hujan lebat juga mendatangkan bencana banjir.
Tiga faktor utama untuk menyehatkan batin adalah: bersikap optimis, penuh pengertian, dan memiliki cinta kasih.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -