Rabu, 24 Juli 2019
Indonesia | English

Internasional : Berbuat Sesuatu untuk Bumi

19 Maret 2010 Jurnalis : Wang Hui Qing, Li Cai Rong, Huang Li Qin.
Fotografer : Liu Jing Hui, Huang Ji He, Liu Shen An

 

 

fotoUdara yang dingin tidak membuat adik-adik kecil ini kehilangan semangat untuk melakukan daur ulang sampah plastik.

Tanggal 9 Maret 2010, sebanyak 190 murid SD dan TK di Mucha beserta orangtua murid dan para guru yang dipimpin oleh kepala sekolah Zheng Li Ling mengunjungi posko daur ulang Dalam Danau. Mereka mensosialisasikan daur ulang melalui tayangan video dan praktik langsung di lapangan. Dari kunjungan ini, diharapkan akan tertanam di hati para murid konsep daur ulang sejak kecil dan berbuat sesuatu untuk menyelamatkan bumi.

Sekitar pukul 10 pagi, 5 bus tiba di lokasi daur ulang. Anak-anak tidak peduli dengan dinginnya cuaca, mereka ikut partisipasi dalam acara ini. Dengan penuh kebahagiaan  dan kegembiraan, mereka turun dari mobil dan berbaris dengan rapi memasuki wihara. Pertama-tama, beberapa guru dari Asosiasi Keguruan memimpin pertunjukan isyarat tangan dengan tema “Menyelamatkan bumi yang indah”. Semua peserta dengan semangat mengikuti acara ini dan tidak henti-hentinya bertepuk tangan. Para guru kemudian menerangkan berbagai manfaat dari daur ulang, “Seperti badan sehat, bijaksana, tidak khawatir, sampah berkurang, mencegah terjadinya bencana, mensyukuri berkah dan menciptakan berkah kembali.” Anak-anak kemudian berkata, “Harus memilah sampah, melakukan daur ulang, setiap saat membawa sapu tangan dan alat makan daur ulang.” Nampaknya konsep daur ulang telah tertanam dalam hati setiap anak.

Dalam acara itu, ditayangkan juga video mengenai bagaimana memilah kertas dan botol. Anak-anak pun kemudian merasa tertarik dengan botol yang dapat didaur ulang menjadi selimut dan ingin sekali mengetahui proses kerjanya. Relawan navigasi pun lantas memimpin semua peserta menuju posko daur ulang untuk mempraktikkan kegiatan daur ulang.

Saat itu, relawan juga mengajarkan pelajaran membuat enzim alami yang  memanfaatkan kulit jeruk. Sisa kulit jeruk ditambahkan air gula merah kemudian dibiarkan selama tiga bulan untuk fermentasi. Hasil dari fermentasi itu dapat dijadikan sebagai pupuk, deterjen, dan pembasmi nyamuk, serta berbagai kegunaan lainnya. Semua yang melihat penjelasan itu merasa terkagum-kagum dan hal itu luar biasa. Salah satu anak kecil, Xu Zhi Han berkata, “Setelah pulang nanti, saya mau memberitahu ibu untuk tidak membuang sisa makanan. Saya akan mengajarkan ibu, bagaimana cara untuk melakukan enzim alami.” Kepala sekolah Zheng pun sangat kagum dengan hal ini dan berkata, “Akan menyediakan tempat kompos, agar anak-anak bisa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

foto  foto

Ket : - Relawan Tzu Chi juga tak lupa memperagakan bahasa isyarat tangan untuk adik-adik kecil yang lucu-           lucu dan imut ini. (kiri)
       - Dalam kunjungan ini, relawan Tzu Chi memperagakan cara membuat enzim alami dari kulit jeruk.           (kanan)

Kunjungan kemudian dilanjutkan dengan melakukan daur ulang kertas. Saat itu, relawan telah menyediakan banyak keranjang plastik. Mereka lalu mengajarkan anak-anak bagaimana memilah kertas putih, kertas berwarna, koran, karton, dan sebagainya. Salah satu orangtua, Xu Jia Chun berkata, “Hari ini adalah pertama kalinya saya bersama putraku, Chen Yan Ting datang kesini. Sekarang barulah saya mengetahui bahwa pemilihan sampah harus begitu teliti, benar-benar profesional dan sungguh mengejutkan. Meskipun putraku tidak mampu mengekspresikannya, namun saya mampu merasakan bahwa anak-anak melakukannya dengan sangat bahagia.”

Kegiatan terakhir adalah melakukan daur ulang kertas. Hari sudah menjelang siang, mungkin semua sudah lapar. Namun beberapa anak sambil memakan biskuit, masih menginjak botol plastik dengan semangat. Ketika ditanya apakah mereka lelah? Dengan serentak mereka menjawab, “Tidak lelah.” Saat itu terlihat kaki-kaki kecil yang sedang menginjak botol dengan sekuat tenaga. Terdengar juga suara injakan botol yang sangat berirama. Suara ini membuat orang bersukacita ketika mendengarkannya. Salah satu orangtua, Zhang Yu Rong mengatakan bahwa ini merupakan perjalanan yang berharga. Ia sangat berterima kasih kepada sekolah karena telah mengadakan pendidikan daur ulang yang begitu bermakna. Ia juga berharap semua orang dapat menerapkan apa yang telah mereka pelajari dan Tzu Chi dapat menyebarluaskan terus sosialisasi ini serta sekolah pun dapat terus mengadakan kegiatan seperti ini.

Salah satu orangtua, Chen Yu Jun berkata, “Kesan saya terhadap Tzu Chi, biasanya adalah membantu para korban bencana, membantu orang yang kurang mampu. Namun untuk kali ini, ketika masuk ke ruangan, melihat para relawan membagikan kantong sepatu dan membimbing anak-anak untuk menaruh sepatu dengan baik. Penekanan pada sikap baik ini membuat kita merasa senang.” Kemudian, ada satu orangtua yang masih muda, Xu Yong Zheng berkata, “Sebelum datang kesini, saya kira bahwa Tzu Chi seperti sebuah tempat sembahyang.” Kegiatan yang dilihatnya hari itu akhirnya mengubah pemikiran Tuan Xu. Dia pun kelak akan membawa anaknya untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Tzu Chi.

foto  foto

Ket : - Setelah Lelah melakukan daur ulang, anak-anak ini dengan orangtua mereka masing-masing makan             siang bersama. (kiri).
         - Di hadapan adik-adik kecil ini, relawan Tzu Chi menjelaskan tata cara daur ulang baik itu lewat             penjelasan singkat maupun tayangan video. (kanan)

Setelah makan siang, mereka pun beristirahat sebentar. Dalam acara ini ditayangkan juga video “Panggil Dokter yang hebat.” Anak-anak yang menyaksikan tayangan video ini memperhatikan dengan serius. Setelah mereka mengetahui bahwa Taiwan adalah negara yang kekurangan air, mereka lantas berjanji untuk melindungi bumi. Mulai dari sekarang, dengan membentuk kebiasaan menghemat air. Misalnya, menyikat gigi dengan air yang cukup satu cangkir, tidak mandi menggunakan tempat mandi, mencuci tangan 30 detik sudah cukup, dan sebagainya.

Xu Xiao Fen, guru yang dapat dihubungi dalam kegiatan ini berkata, “Karena bumi dalam keadaan sakit, sehingga banyak bencana yang telah terjadi, seperti bencana morakot. Bencana tersebut membuat semua orang merasa khawatir. Jika hanya khawatir dan tidak berbuat sesuatu untuk bumi, penyesalan tidak akan ada gunanya. Sangat senang ada posko daur ulang Dalam Danau, sehingga kita dapat membimbing anak untuk mempraktikan apa yang telah dipelajari.” Di akhir acara, Kepala Sekolah Zheng juga membagikan kartu ucapan terima kasih kepada semua peserta, sebagai tanda perjalanan hari ini berjalan dengan sukses. (Sumber: www.tzuchi.org, diterjemahkan oleh Juniati)

  
 
 

Artikel dibaca sebanyak : 1160 kali


Berita Terkait


Berita Internasional: Cinta Kasih Lintas Benua untuk Afrika

24 Juni 2019

Berita Internasional: Bantuan Keuangan untuk Puluhan Mahasiswa Yaman di Istanbul

22 Januari 2019

Berita Internasional: Master Cheng Yen Terima Gelar Doktor Kehormatan

17 Januari 2019

Berita Internasional: Sekolah untuk Anak-anak Suriah di Istanbul Menjadi Sekolah Resmi

14 Desember 2018

Tzu Chi Bagikan 550 Selimut untuk Korban Kebakaran di California

16 November 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Jangan takut terlambat, yang seharusnya ditakuti adalah hanya diam di tempat.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat