Kamis, 15 November 2018
Indonesia | English

Kami Datang, Kami Lihat, Kami Peduli

05 November 2018 Jurnalis : Nuraina Ponidjan (Tzu Chi Medan)
Fotografer : Amir Tan (Tzu Chi Medan)


Relawan melakukan pembongkaran pada rumah Jumiah, Rabu, 24 Oktober 2018. 

“Memberi perhatian pada orang lain sama dengan memberi perhatian pada diri sendiri. Membantu orang lain juga berarti membantu diri sendiri” – Kata Perenungan Master Cheng Yen.

Tzu Chi Medan kembali memulai suatu perjalanan Bedah Rumah. Pada 6 Oktober 2018, Ketua Tzu Chi Medan Mujianto, mengajak beberapa relawan menuju kota Binjai dan Tandem. Jaraknya lebih kurang 23 km dari kota Medan dengan waktu tempuh sekitar 1 jam lebih. Rencananya hari itu mereka akan berkunjung ke beberapa rumah yang kondisinya memprihatinkan.

Kondisi rumah Jumiah saat relawan melakukan survei pada 6 Oktober 2018. Dinding rumah Jumiah hanya berupa bilik bambu tipis dengan lantai tanah, dan atapnya bocor di beberapa bagian.

Sampai di Binjai, relawan langsung menuju daerah Tanah Seribu. Di sana mereka mulai memasuki jalan-jalan kecil yang berakhir di rumah seorang janda bernama Jumiah, yang usianya sudah 59 tahun namun ia masih harus menjaga dua cucunya. Pasalnya anak-anak Jumiah menjadi tenaga kerja ke negara tetangga dan hingga kini belum bisa kembali bersama keluarga.

Keterbatasan ekonomi yang melanda Jumiah saat ini mengharuskannya tinggal di rumah tua, di samping kandang sapi milik tetangganya. Dinding rumahnya hanya bilik bambu tipis dengan lantai tanah, dan atapnya bocor di beberapa bagian. “Kalau sudah mendung, kami mulai takut karena kalau hujan rumah akan basah, apalagi di kamar tidur. Kadang cucu saya terpaksa tidur dengan ember menutupi wajah kalau hujan lebat,” ucap Jumiah menceritakan pengalamannya dengan mata berkaca-kaca.

Tidak jauh berbeda dengan rumah Jumiah, kondisi rumah Ahmad Syahputra yang berada di daerah Tandem juga memprihatinkan.

Bukan hanya kisah Jumiah saja yang menggerakkan hati relawan Tzu Chi Medan. Ada juga Ahmad Syahputra yang sehari-hari membantu di rumah sosial atau rumah duka karena tidak mempunyai pekerjaan tetap. Rumahnya yang berada di daerah Tandem, tidak jauh berbeda dengan rumah Jumiah. Dindingnya bilik bambu tipis, lantainya tanah, lalu atapnya dari daun nipah yang sudah lapuk. Tiang rumahnya juga sudah tidak kuat lagi. Padahal rumah ini dihuni oleh 9 orang yakni, Ahmad, istri, dengan 5 anak dan 1 orang abangnya beserta ibunya yang sudah tua.

“Melihat kedua rumah yang sungguh tidak layak huni, timbul rasa ingin membantu mereka agar terlepas dari kekhawatiran dan ketidaknyamanan. Semoga Tzu Chi bisa membangun kembali rumah mereka agar mereka bisa hidup lebih baik,” tutur Tony Honkley, koordinator kunjungan kasih dan bedah rumah ini.

Mengawali Kehidupan Baru

Menindaklanjuti survei, Rabu, 24 Oktober 2018, relawan Tzu Chi Medan dengan semangat dan dengan hati penuh suka cita kembali menuju ke Kota Binjai. Beberapa peralatan juga dibawa karena tujuan kali itu adalah membongkar rumah Jumiah yang disaksikan oleh tokoh masyarakat setempat. Seminggu kemudian, 31 Oktober 2018, giliran rumah Ahmad Syahputra yang dibongkar.

Relawan mengawali kegiatan pembongkaran rumah dengan berdoa bersama.

Sebelum membongkar rumah, relawan sempat berbincang dengan istri Ahmad, Jaliani. Ketika relawan menanyakan bagaimana perasaannya melihat rumahnya akan dibangun, dengan menahan air matanya, Jaliani berlari masuk ke kamarnya. Relawan segera menghiburnya, sambil menangis ia berkata, “Saya selama ini tidak berani bermimpi kalau rumah ini akan dibangun. Namun hari ini saya seperti sedang bermimpi karena selama ini selain atap bocor saat turun hujan, sebenarnya yang kami takutkan adalah rumah ini roboh karena tiang-tiangnya sudah tidak kuat.”

Dengan disaksikan oleh Kepala Lingkungan dan Kepala Desa, relawan pun mulai membongkar rumah Ahmad Syahputra. Dengan sedikit bantuan dari kayu di tangan, relawan mendorong dinding rumah agar terlepas dari tiangnya.

Dengan dibongkarnya rumah, maka proses pembangunan rumah kembali akan segera dimulai. Melalui bedah rumah ini, relawan berharap dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi penerima bantuan.

Usai membongkar rumah Ahmad, relawan menyempatkan waktu untuk mengunjungi rumah Jumiah. Dalam waktu seminggu, fondasi dinding rumah sudah siap dibangun. Dengan wajah berseri, Jumiah berkata pada relawan bahwa perasaannya senangnya seperti tidak bisa terlukiskan. “Setiap hari saya melihat pembangunan rumah ini, ke depannya cucu saya tidak usah tidur dengan ember di kepalanya kalau hujan,” tuturnya tertawa bahagia.


Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 266 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Luangkan sedikit ruang bagi diri sendiri dan orang lain, jangan selalu bersikukuh pada pendapat diri sendiri.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat