Jumat, 13 Desember 2019
Indonesia | English

Kasih Ibu Sepanjang Masa

19 Mei 2010 Jurnalis : Wie Sioeng (He Qi Timur)
Fotografer : Kurniawan (He Qi Timur)

 

 

fotoAnak-anak Istana Dongeng Ceria (IDC) mencoba merasakan kesulitan ibunya saat beraktvitas pada saat mengandung. .

 

“Hakikat terpenting dari pendidikan adalah pewarisan cinta kasih dan rasa syukur  yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.“ ( Master Cheng Yen)

Menjadi Mama dalam Sehari Membangkitkan Cinta Kasih
Suasana  Jing Si Books & Cafe di Mal kelapa Gading 2 lantai 3 masih terlihat hening dan tenang sekali pada Minggu pagi, 17 April 2010. Di dalam ada beberapa tamu  yang sedang santai menikmati suasananya yang menyejukkan hati  sambil membaca buku dan ada juga yang sedang asyik surfing dengan laptopnya karena di toko buku ini tersedia fasilitas koneksi internet gratis dan bebas membaca buku-buku di sana.  

Jarum jam menunjukan pukul  11.00 WIB ketika satu per satu relawan Tzu Chi Hu Ai Kelapa Gading mulai berdatangan. Suasana mulai terlihat sibuk di ruangan kelas-kelas yang akan digunakan untuk Acara Kelas Istana Dongeng Ceria(IDC) yang bagi anak-anak usia 4-8 tahun akan dimulai siang itu jam 13.00 s/d 16.00 WIB. Para relawan mulai mempersiapkan kelas, ada yang memompa  balon-balon yang akan digunakan untuk acara ini dan beberapa guru-guru beserta para Da Ai Mama terlihat sibuk mengatur daftar absen dan name tag yang akan dipakai para anak-anak kelas IDC nantinya.

Kelas Istana Dongeng Ceria di JingSi Books & Cafe biasanya diadakan 1 kali dalam sebulan, namun khusus di bulan April ini diadakan 2 kali, karena dalam rangka menyambut Hari Ibu Sedunia yang akan berlangsung di bulan Mei. Maka di bulan April ini diadakan program kegiatan bagi anak-anak bagaimana mereka merasakan seperti ibu-ibu mereka pada saat hamil dengan menggunakan media telur yang diperumpamakan janin  yang harus dijaga. Seperti ibu-ibu mereka pada saat mengandung, mereka tetap harus beraktivitas seperti biasa dengan sangat hati-hati dan menjaganya dengan penuh kasih sayang terhadap janin di perutnya. Dan ini sudah dilangsungkan minggu sebelumnya pada tanggal 10 April 2010, anak-anak menggunakan telur di perutnya dari awal pelajaran jam 13.00 WIB dengan berbagai aktivitas di kelas hingga pulang ke rumah dengan dibantu para orang tua untuk memantau dan memberikan kesan-kesannya selama anak-anak  beraktivitas di rumah dengan telur di perutnya.

Ternyata banyak kejadian lucu dari tingkah anak-anak  selama memakai telur, ada yang seharian tetap memakainya setelah pulang dari kelas IDC hingga malam dan tidur pun masih dipakai, bahkan ketika berjalan-jalan bersama keluarganya belum mau dibuka, dan ada juga yang malu hingga tidak mau memakainya.

 

foto  foto

Ket : - Anak-anak digantungkan telur untuk berperan sebagai ibu yang tengah hamil muda. Dengan cara ini              anak-anak dapat merasakan betapa sulitnya seorang ibu yang tengah mengandung. (kiri)
       - Dengan bersikap hati-hati, anak-anak ini menjaga jangan sampai telur tersebut pecah, seperti yang              dilakukan ibunya saat menjaga mereka di dalam kandungan.

Apa yang Terlihat Sederhana Ternyata Memberikan Rasa Haru
Jarum jam menunjukan pukul 12.45 saat anak-anak Kelas Istana Dongeng Ceria mulai berdatangan. Mereka mulai antri absen dan mengambil name tag sesuai warna pembagian kelas menurut umur mereka. Ibu Erna, ibu dari salah satu murid IDC, Vincent, memulai ceritanya, "Pulang dari IDC ini, Vincent  jalannya agak lebar dan saya tanya kenapa, Cent? ‘Mami, Shigu bilang telurnya nggak boleh pecah.’ Terus saya tanya memangnya kenapa dan artinya apa kamu bawa telur seperti ini? ‘Begini  Mami, Shigu bilang pada waktu Mami hamil,  Mami selalu hati-hati, makanya aku juga harus hati-hati  supaya telurnya tidak pecah seperti Mami jaga aku waktu hamil aku’.”

 "Sampai di rumah saat mau mandi telurnya saya buka, setelah itu ia lari-larian. Memang ia kalau di rumah sukanya lari-lari dan tidak bisa diam, lalu susternya bilang coba telurnya dipakai lagi, ternyata setelah telurnya dipasang lagi dia jadi tenang dan diam duduk-duduk saja sambil nonton TV karena takut telurnya pecah,” terang Erna, “jadi ternyata dia mengerti  apa yang diajarkan. Sekarang  dia kan baru punya adik  yang baru berumur satu  tahun, dia lebih sayang dan perhatian kalau dedenya nangis terus dia bisa bilang, ‘Jjangan nangis terus, De, Mami kan sudah cape jaga kamu’.”

Vincent kini juga jadi lebih mengalah terhadap adiknya. Dulu kalau adiknya main apa dia suka main rebut saja, tetapi sekarang dia tidak main rebut lagi. "Dia juga berhasil  jaga telur itu agar tidak pecah. Pada saat mau pipis dia bilang boleh nggak telurnya dibelakangin dulu repot nih. Lalu saya bilang dulu Mami waktu hamil kamu juga repot.  Tapi ya udah (telurnya) digeser ke samping dulu deh… ,” cerita Erna sambil tertawa haru.

"Kadang setelah ikut kelas IDC malam-malam sebelum tidur dia suka cerita kepada saya atau papanya tadi diajarkan apa di IDC, dan pernah tiba-tiba dia bisa bilang pada saya, ‘Mami maafin aku ya kalau aku ada salah’,” kata Erna yang merasa terharu dengan ucapan putranya.  Perubahan sikap juga banyak terjadi setelah Vincent mengikuti kelas Istana Dongeng Ceria. “Dulu kalau mau pakai sepatu selalu panggil saya atau susternya, tetapi sekarang sudah bisa sendiri karena di kelas  IDC  Tzu Chi dia lihat dan diajarkan kalau harus pakai sepatu sendiri,” tutur Erna mengakhiri ceritanya.

foto  foto

Ket : - anak-anak IDC kesulitan berbaring dengan balon di perut seperti seorang ibu yang sedang hamil tua. Ini             untuk menunjukkan bagaimana pengorbanan ibu saat mengandung mereka. (kiri)
       - Dengan merasakan betapa sulit dan beratnya seorang ibu yang mengandung, anak-anak ini diajarkan             untuk menghargai jasa orang tua mereka, terutama ibu.(kanan)

Pelajaran Sederhana yang Memberi Banyak Kesan
Tanpa terasa anak-anak sudah mulai belajar kembali di dalam kelas. Kali ini anak-anak diajarkan untuk merasakan hamil besar dengan media balon seperti ibu mereka pada saat hamil besar dan menunggu saat-saat untuk melahirkan. Mereka menggunakan balon yang lebih besar dari telur yang minggu kemarin digunakan. Berbagai aktivitas mereka lakukan dengan perut besar yang diganjal balon seperti  saat shou yu (isyarat tangan) lagu “Wo Hen Xing Fu” ( Saya Bahagia ,) walau agak kerepotan dan sulit mereka melakukannya dengan senang sekali. Anak-anak juga mempraktikkan bagaimana ibu-ibu mereka sulit tidur dengan perut yang sangat besar. Kini mereka mengetahui bagaimana beratnya perjuangan seorang ibu saat mengandung. Dalam kondisi dan situasi apapun,  ibu mereka tetap menjaga mereka dengan penuh kasih sayang dan tulus. Waktu cepat sekali berlalu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 16.00, tibalah saatnya mereka untuk pulang dengan membawa kesan dan rasa cinta kasih yang besar kepada ibu mereka.

 

 

  
 
 

Artikel dibaca sebanyak : 1490 kali


Berita Terkait


Tzu Chi Menerima Penghargaan Penanggulangan Kemiskinan dari Pemerintah DKI Jakarta

12 Desember 2019

Perpustakaan untuk Adik-adik di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam Kamal Muara

12 Desember 2019

Membangkitkan Nilai Hormat dan Bakti pada Orang Tua

12 Desember 2019

Mataku Pelita Hidupku

12 Desember 2019

Sepenggal Kisah Wulandhari yang Merawat Nadia

11 Desember 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Menyayangi diri sendiri adalah wujud balas budi pada orang tua, bersumbangsih adalah wujud dari rasa syukur.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat