Senin, 26 Agustus 2019
Indonesia | English

Ketulusan Yang Mengubah Segalanya

06 Maret 2014 Jurnalis : Nining Tanuria (Tzu Chi Biak)
Fotografer : Hadi Pranoto, Nining Tanuria (Tzu Chi Biak)

foto
Relawan bersama dengan seorang warga di Tikala Baru yang rumahnya akan dibersihkan.

25 Februari 2014, kembali kami relawan Tzu Chi menjejakkan kaki di tanah Manado. Berjumlah 16 dari total 53 relawan yang berpartisipasi, rombongan pertama tiba di Manado dengan suka cita dan penuh keakraban.

 

 

Misi yang kami bawa kali ini sebagai relawan Yayasan Buddha Tzu Chi ada dua: pertama, menyelesaikan  tugas membagi kompor gas yang belum sempat terbagi di bantuan bencana tahap kedua. Misi yang kedua, adalah menggalang hati relawan lokal Manado, yang diharapkan dapat menjadi cikal bakal kantor penghubung Tzu Chi di Manado. Misi menggalang hati ini juga bersinergi dengan kegiatan  yang  dipusatkan  di Kelurahan Tikala Baru.

Cerita mengenai Tikala Baru, adalah cerita tentang kekuatan cinta  kasih. Seperti yang disharingkan oleh Rudi shixiong pada saat sosialisasi relawan, pada awalnya masyarakat menyambut uluran tangan kami dengan beraneka ragam sikap. Mulai dengan sikap yang ragu karena belum menangkap inti dari bantuan Tzu Chi, perlahan-lahan berubah seiring kedekatan antara relawan dan masyarakat.

Like shigu dan Lynda shigu yang khusus datang untuk mentransfer pesan Master Cheng Yen, turut berbaur dan turun kelapangan bekerja bersama. Tanpa kenal lelah, Like shigu tak putus-putusnya mengingatkan bahwa kedatangan kami di Manado ini bukan hanya sekedar memberikan bantuan. Tapi ada hal lain yang jauh lebih dalam dari itu, yaitu bagaimana kami dapat mengajak masyarakat sama-sama mengerti kekuatan cinta kasih sebagai satu keluarga. Konsep TigaTiada (Tiada yang tak kukasihi, tiada yang tak kupercaya, dan tiada yang tak kumaafkan)dari Master Cheng Yen pun senantiasa kami dengungkan dalam tiap kesempatan.

Selama tiga hari melakukan program Solidaritas dan Kerja Bakti pada saat tahap ke-2 dan ditambah tiga hari lagi bersama melakukan pengecatan, pembersihan gorong-gorong dan masak bersama, banyak kenangan indah yang dialami bersama relawan dan warga Tikala Baru.

Bahkan ada momen mengharukan ketika relawan bersama-sama membantu sebuah keluarga yang tinggal dekat lokasi pembagian kompor. Ketika relawan Christine shijie dan Supriyadi shixiong akhirnya berhasil setelah  berjuang selama hampir satu jam untuk menghubungi keluarga sang ibu yang berada di Taiwan, luar biasa kebahagiaan yang terpancar dari wajah semua orang. Para relawan pun rela menambah satu hari untuk bergotong royong membantu membersihkan rumah keluarga ini.

foto   foto

Keterangan :

  • Beberapa relawan sedang membersihkan rumah warga di Tikala Baru yang penuh dengan lumpur (kiri).
  • Pada Sabtu malam 1 Maret 2014, relawan dan warga berkumpul bersama dib alai Kelurahan Tikala Baru untuk acara ramah tamah (kanan).

Kedekatan antara relawan Tzu Chi luar kota, relawan lokal Manado, dan masyarakat Tikala Baru sangat terasa. Mulai dari lagu-lagu yang dinyanyikan, interaksi dengan perangkat desa, dan keakraban di kantor kelurahan dan dapur umum, meninggalkan banyak kesan mendalam bagi semua yang terlibat.

Banyak Kreativitas  Tercipta
Lagu menyayat hati yang dibawakan oleh Andi Musi, adalah wujud kepiluan yang hadir bersama suaranya yang merdu. Dua lagu yang tercipta oleh Jerry Moses Mamesah, merupakan kado yang indah bagi relawan Tzu Chi dan masyarakat Tikala Baru. Juga ada 48 jenis masakan vegetarian yang lezat adalah bukti cinta kasih dari para ibu yang meneteskan air mata ketika malam perpisahan tiba.

Dari kelurahan yang kecil ini, kami sama-sama belajar tentang bagaimana ketulusan dapat mengubah banyak hal. Dari keraguan menjadi kepercayaan, dari kepercayaan menjadi kepedulian, dari kepedulian menjadi kasih sayang. Torang samua basudara, biarlah slogan ini menjadi nyata dalam kehidupan kita semua. Kesedihan sudah berlalu, saatnya Manado bangkit kembali dengan ketulusan cinta kasih yang telah dipraktekkan bersama selama beberapa hari di tempat ini.

Tentu saja, kami sebagai relawan pun pulang dengan satu harapan dan doa. Agar jejak yang kami tinggalkan tidak berlalu begitu saja, namun dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat yang kami tinggalkan. Benih cinta kasih sudah ditanam, tinggal ketulusan jualah yang harus menyirami benih tersebut. Agar berakar kuat dan tumbuh dengan sempurna, berbuah kebajikan, menjadi perpanjangan tangan Master Cheng Yen di tanah Manado.

Berawal dengan kepiluan, namun berakhir dengan suka cita. Inilah buah dari ketulusan hati. Seperti yang tertuang dalam puisi seorang relawan di bawah ini:

Kita baru saja menyaksikan air mata kesedihan
Dari anak-anak negeri yang tanah kelahirannya
Telah terkoyak bencana….

Kita baru saja mendengar lantunan kepiluan
Dari sebuah hati
Yang kenangannya akan dego-dego telah hilang,
Di bawa air, dihanyutkan….

Kita baru sajaberjalan beriringan melewati duka itu..
Dengan sekop di tangan kanan,
semangat di setiap langkah,
dan kepingan kepedulian di setiap ujung jari…

Bersenandung doa agar kesedihan tak lagi merundung,
Merajut upaya agar semangat tak hanyut terbawa,
Menggenggam cinta di setiap hati.

Ketulusan yang bening,
Membawa suka cita,
Menatap esok,
Menentramkan dada…

Manado, Februari 2014
Rudi Suryana

Artikel dibaca sebanyak : 1165 kali


Berita Terkait


Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-127 di Manokwari

24 Juli 2019

"Terima Kasih Tuhan, Kau Kirim Mereka ke Papua"

20 Juli 2019

Mendukung Terciptanya Manokwari yang Bersih dan Sehat

18 Juli 2019

Hadir dan Melayani Dengan Cinta Kasih

02 Juli 2019

Membangun Kebersamaan dalam Perbedaan

29 Mei 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Sikap mulia yang paling sulit ditemukan pada seseorang adalah kesediaan memikul semua tanggung jawab dengan kekuatan yang ada.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat