Sabtu, 21 September 2019
Indonesia | English

Memahami Toleransi Dalam Peringatan 50 Tahun Tzu Chi

13 Mei 2016 Jurnalis : Indri Hendarmin(Jakarta - He Qi Utara1)
Fotografer : Yusniaty(Jakarta - He Qi Utara1)

Para siswa dari Sekolah Permai mengaku senang diajak berpartisipasi dalam peringatan Waisak Tzu Chi yang diadakan di Stadion Olahraga Sekolah Tzu Chi Indonesia, Pantai Indah Kapuk pada Minggu, 8 Mei 2016 lalu.

Bulan Mei merupakan bulan yang sungguh istimewa bagi seluruh umat Buddha dan Insan Tzu Chi. Bagaimana tidak? Bulan Waisak juga bertepatan dengan Hari Ibu Internasional dan hari jadi Tzu Chi yang tahun ini menginjak usia 50 tahun.

Memperingati perayaan tiga hari besar Tzu Chi, seluruh insan Tzu Chi mengikuti upacara Waisak yang dilaksanakan di Stadion Olahraga Sekolah Tzu Chi Indonesia, Pantai Indah Kapuk. Kegiatan ini dirasa spesial karena diikuti oleh hampir 5.000 peserta yang membentuk logo Tzu Chi dan angka 50. Peserta tersebut berasal dari 19 sekolah, 3 perguruan tinggi, dan 11 wihara di Jabodetabek.

Sekolah Permai berlokasi di Jalan Pluit Karang Barat, adalah satu dari 19 sekolah yang turut serta menjadi peserta prosesi Waisak. Sekolah ini mulai ikut berpartisipasi dalam kegiatan Tzu Chi ketika Caecilia, Wakil Kepala Sekolah SD Permai bergabung menjadi relawan Tzu Chi. Sejak tahun 2013, siswa Sekolah Permai rutin mengikuti Acara Waisak yang digelar oleh Tzu Chi.

Para tenaga pengajar Sekolah Permai turut serta mengikuti Waisak Tzu Chi.

Tahun ini Sekolah Permai mengirimkan sekitar 300 siswa untuk berpartisipasi, termasuk para tenaga pengajar. Di antaranya, Asteria Maria Sudarwati, Kepala Sekolah SD Sekolah Permai. Asteria yang mengenal Tzu Chi sejak 2015 ini mengaku mengikuti Waisak Tzu Chi agar dapat membuka cakrawala, lebih toleran, dan welas asih. “Di Tzu Chi diajarkan kebaikan hati nurani, kepedulian terhadap sesama, juga tidak ada perbedaan suku, agama, dan Ras. Kegiatan Tzu Chi selalu terkoordinir dengan kerapihannya. Saya juga salut dengan kesakralan dan kekompakan relawannya,”ujarnya.

Guru lainnya dari Sekolah Permai yang mengikuti Waisak di Tzu Chi adalah Anna Maria Krisnataliany. Bagi Maria, mengikuti Waisak di Tzu Chi merupakan ajang latihan bagi para siswa untuk menerapkan toleransi beragama di Indonesia. “Merupakan momen yang dibutuhkan di mana Indonesia terdapat berbagai macam Agama. Sekolah Permai sendiri sebuah sekolah yang universal tidak berdasarkan agama, apalagi Tzu Chi lebih menekankan unsur kebaikan dan kebajikan. Saya mendukung Tzu Chi tidak hanya acara Waisak saja,” jelas Kepala Sekolah SMP Permai ini.

Senada dengan Anna, Yustinus Selu, Guru Agama Katolik Sekolah Permai mengatakan bahwa mengikuti acara Waisak di Tzu Chi secara pribadi membuatnya mampu menyelami hal-hal yang sifatnya universal. “Sebagai seorang pengajar, adalah penting untuk memahami nilai-nilai universal, jangan sampai ada benturan. Mengajak anak murid saya yang Katolik untuk ikut Waisak guna mengajarkan perbedaan yang ada jangan sampai membuat perpisahan. Agama mempunyai tujuan yang sama. Agama sendiri adalah suatu cara mendekatkan diri pada Tuhan. Dengan adanya perbedaan kita memahami banyak hal termasuk menghormati sesama,” tutur Yustinus.

Yustinus pun menambahkan, meski dalam tata caranya sedikit berbeda, namun punya tujuan yang sama yakni mencapai ketenangan dan kedamaian. Kegiatan Waisak hanyalah sebuah prosesi, namun tujuan utamanya menciptakan keharmonisan dan kebersamaan dengan mengurangi ego pribadi.

Artikel dibaca sebanyak : 3807 kali


Berita Terkait


Mengenal Tiga Hari Besar Tzu Chi

11 Mei 2016

Waisak 2016: Mengingat Jasa Orang Tua

09 Mei 2016

Waisak 2016: Menggenggam Berkah Waisaka Puja

09 Mei 2016

Waisak 2016: Semangat Cinta Kasih Universal

08 Mei 2016


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Hadiah paling berharga di dunia yang fana ini adalah memaafkan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat