Kamis, 15 November 2018
Indonesia | English

Mengembangkan Layar Cinta Kasih ke Tebing Tinggi Okura

29 Maret 2018 Jurnalis : Mettayani (Tzu Chi Pekanbaru)
Fotografer : Mettayani, Chandrata Wijaya, Ruth N. Chia, Kho Ki Ho (Tzu Chi Pekanbaru)

doc tzuchi indonesia

Tim medis memeriksa tekanan darah pasien dalam kegiatan baksos kesehatan umum dan gigi yang dilaksanakan pada Minggu, 25 Maret 2018 di Kantor Kelurahan Tebing Tinggi Okura.

Jalinan kasih Tzu Chi dengan masyarakat Tebing Tinggi Okura sudah terjalin melalui pembagian beras cinta kasih dari Taiwan beberapa tahun silam. Pada hari Minggu, 25 Maret 2018 Relawan Tzu Chi kembali mempererat jalinan jodoh ini dengan mengadakan bakti sosial pengobatan umum dan gigi di Kantor Kelurahan Tebing Tinggi Okura yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai buruh tani di kebun sawit dan menderes karet. Baksos dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, diawali dengan kata sambutan dari Junaidi, SP.S.IP selaku Lurah Tebing Tinggi Okura.

Dalam sambutannya Junaidi mengatakan, “Kami menyambut baik kegiatan ini dan sangat mengharapkan Yayasan Buddha Tzu Chi bisa memprogramkan kegiatan ini menjadi agenda rutin, minimal setahun sekali di daerah kami dengan jumlah penduduk sekitar 3.000 penduduk masih ada yang belum terjangkau oleh jaminan kesehatan dari pemerintah karena lokasi tempat tinggal yang jauh. Dan kami yakin obat yang diberikan pasti yang bagus sehingga masyarakat bisa sehat, kalau masyarakat sehat mereka bisa bekerja dengan produktif.”

Bapak Lurah didampingi oleh dokter Puskesmas, petugas kelurahan, dokter TIMA, dan relawan Tzu Chi secara simbolis mengalungkan nomor antrian kepada 7 orang pasien sebagai simbol secara resmi kegiatan baksos dimulai. Tepuk tangan relawan dan pasien memenuhi ruangan baksos. Semoga kegiatan ini dapat mengurangi penderitaan masyarakat kelurahan Tebing Tinggi Okura karena penyakit dan relawan yang berkontribusi bisa belajar dengan berbuat dan tumbuh dengan bersumbangsih seperti yang Master Cheng Yen harapkan kepada semua relawan Tzu Chi.

Di antara pasien yang datang berobat, seorang gadis kecil, Angelya Rahmawati (4 tahun 2 bulan) yang terlihat mengalami masalah dengan penglihatan pada kedua matanya. Orang tua bekerja sebagai penderes karet dengan penghasilan yang sangat minim dan tidak menentu. Ketidakberdayaan ekonomi membuat mereka pasrah menerima nasib yang mana kondisi mata gadis kecil ini semakin hari semakin parah. Mata adalah jendela untuk melihat dunia, bagaimana dengan masa depan gadis kecil ini kelak?

doc tzuchi indonesia

Angelya Rahmawati diajak ibunya untuk memeriksakan gangguan kesehatan pada kedua matanya dalam kegiatan baksos kesehatan umum dan gigi ini.

doc tzuchi indonesia

Banyak warga sekitar lokasi baksos yang turut bersumbangsih dalam kegiatan baksos kesehatan umum dan gigi. Mereka dengan sepenuhhati membantu warga yang membutuhkan.

Angelya lahir dengan berat hanya 2,2 kg dan kekurangan gizi karena himpitan ekonomi. Kala penghasilan orang tua tidak mencukupi hanya dapat mensyukuri makan nasi goreng yang hanya dibumbui bawang saja. Mereka mempunyai BPJS namun sudah tertunggak selama 4 tahun.

Tak tega melihat penderitaan gadis kecil ini dan mengingat masa depan yang masih panjang yang harus dilalui, Tzu Chi segera menindaklanjuti dengan melakukan survei dan mencari tahu kemungkinan pengobatan untuk penyembuhan mata gadis kecil ini. Bodhisatwa dunia tidak tega melihat penderitaan di dunia dan dengan ketulusan hati mengulurkan tangan kasih untuk meringankan penderitaan. Inilah wujud “Cinta kasih bukan hanya di dalam hati, juga harus ditunjukkan dalam tindakan nyata” yang seperti dikatakan Master Cheng Yen.

Selain Angelya, ada lagi dua gadis kembar, Mona dan Moni berusia 3 tahun dan berat bandan hanya 11-12 kg. Ayah mereka adalah seorang nelayan. Mereka minum susu bubuk formula hanya hingga 6 bulan saja dan selanjutnya diberi susu kental manis yang lebih murah harganya.

doc tzuchi indonesia

Sebanyak 207 pasien yang ikut memeriksakan kesehatan mereka pada baksos yang digelar relawan Tzu Chi Pekanbaru.

doc tzuchi indonesia

Selain memberikan pelayanan kesehatan, relawan Tzu Chi juga membagikan bubur kacang hijau, susu, dan biskuit untuk anak-anak.

Dari Baksos ini dijumpai tujuh balita yang mengalami kekurangan gizi karena himpitan ekonomi sehingga tidak mampu memberikan asupan gizi yang cukup buat balita mereka. Mengetahui hal ini, salah satu dokter dari puskesmas setempat, dr. Bayu Fajar Pratama yang ikut bersumbangsih pada Baksos akan membuat laporan dan menindaklanjutinya.

Dalam setiap berkegiatan dan berhubungan dengan masyarakat, banyak Dharma yang bisa diperoleh. Ketika kita mendengar dan melihat derita yang ada, akan timbul rasa syukur dalam diri. Ketika kita dapat memberikan kontribusi terbaik dan tulus, maka kita akan merasakan rasa sukacita yang luar biasa. Semua yang berkontribusi mendapatkan pengalaman yang berbeda-beda dan dapat menambah khazanah kehidupan mereka.

Sukacita Bersumbangsih

Relawan Tzu Chi yang turut bersumbangsih dalam baksos adalah Sing Sia yang datang bersama istrinya, Yuliwaty. Ia merupakan seorang pengusaha dan memasukkan kedua putranya mengikuti kelas bimbingan budi pekerti Tzu Chi. Sejak itu mereka mencari informasi bagaimana bergabung ke dalam barisan Tzu Chi.

doc tzuchi indonesia

Seluruh relawan Tzu Chi dan tim medis mengabadikan momen kebersamaan usai bersumbangsih melayani kesehatan warga.

Mereka sudah dua kali mengikuti pelatihan abu putih dan merasakan bahwa ajaran Master begitu mengena di hati. Saat ini mereka aktif mengikuti kegiatan di komunitas (Xie lie) seperti survei kasus dan kunjungan kasih. “Banyak hal yang kami dapatkan selama berkegiatan di Tzu Chi. Ketika melihat penderitaan, timbul rasa syukur dalam diri,” ungkap Sing Sia. “Dan punya satu tekad untuk dapat pulang ke kampung halaman batin untuk dapat bertemu langsung dengan Master Cheng Yen.

Ketulusan dan kesungguhan hati para medis dan relawan dalam memberikan pelayanan menginspirasi Samiun, salah seorang pasien yang datang berobat untuk bergabung menjadi relawan. “Saya melihat pelayanan yang cepat dan kesungguhan hati, makanya saya tertarik untuk bergabung. Jika diperlukan rumah saya dapat digunakan untuk kegiatan Tzu Chi,” ungkap Samiun.

Selain relawan, pasien, dan para dokter, calon dokter pun mendapatkankan manfaat saat berkegiatan Tzu Chi.  Mugen dan Putra, dua mahasiswa kedokteran yang ikut pada baksos ini mendapatkan kesempatan untuk mengabdi ke masyarakat, mendapatkan teman dan pengalaman baru.

Ada lagi drg. Alia, sebelumnya sering ikut Baksos Tzu Chi di Bandung dan saat ini berdomisili di Pekanbaru mengikuti suami. Ketika diajak untuk ikut dalam baksos, ia menyambut baik ajakan ini. “Senang dapat berkontribusi dengan harapan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat terutama gigi, sehingga dapat meningkatkan produktifitas seperti yang dikatakan oleh Pak Lurah.  Dan jika ada kesempatan akan tetap ikut serta dalam kegiatan baksos,” ucapnya.

Baksos berakhir sekitar pulul 13.00 WIB dan total pasien yang diperiksa terdapat 186 orang, 36 Balita yang diperiksa di Posyandu dan sekitar 15 orang dirujuk ke dokter spesialis. Total pasien ada 207 orang. Semoga melalui setiap derap langkah, semua dapat memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya sebagai perpanjangan tangan Master dalam mewujudkan visi misi Tzu Chi dan seiring berjalannya waktu jiwa kebijaksanaan dapat tumbuh berkembang.

Editor: Yuliati

Artikel dibaca sebanyak : 517 kali


Berita Terkait


Hari-hari Baru Akila

29 Oktober 2018

Hubungan Keluarga Terajut di Baksos Kesehatan Tzu Chi Batam

19 Oktober 2018

Bantuan Untuk Warga Mekar Jaya, Kabupaten Lampung Timur

21 Maret 2018

Putus Asa Bukanlah Sebuah Pilihan

12 Maret 2018

Perjuangan Panjang Memperoleh Kesehatan

12 Februari 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Hakikat terpenting dari pendidikan adalah mewariskan cinta kasih dan hati yang penuh rasa syukur dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat